Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 226


__ADS_3

Gerald dan Cathleen sampai juga di ruang keluarga tempat biasa Tuan dan Nyonya Pattinson menghabiskan waktu untuk bersantai. Ibu hamil itu menyingkirkan tangan mantan suaminya ketika ditatap oleh sang Papa. Lalu memilih duduk bergabung dengan kedua orang tuanya.


Sedangkan Gerald masih tegak di hadapan mantan mertua. Belum dipersilahkan untuk duduk, maka ia akan berdiri terus.


Papa Danzel sampai menaikkan alis ketika melihat Gerald diam dan tidak bergerak. “Apa kau sedang ambeien?” tebaknya.


“Tidak.” Masih saja Gerald menjawab dengan santai dan wajah datar. Ah memang susah merubah tabiat pria itu.


“Lalu, kenapa kau tidak duduk?”


“Karena belum dipersilahkan oleh tuan rumah.”


Papa Danzel menghela napas pelan karena salah satu putrinya menyukai seorang pria yang hidup terlalu datar seperti Gerald. Tapi, ada bagusnya juga karena sopan. “Duduklah!” titahnya kemudian.

__ADS_1


Barulah Gerald mau ikut bergabung di sofa yang tertata rapi membentuk huruf U. “Apa aku diperbolehkan bicara dengan kalian?”


“Katakan saja,” ucap Mama Gwen. Dia lebih ramah dibanding suaminya.


Gerald duduk dengan posisi sembilan puluh derajat, kedua tangan saling menggenggam, dan lengan berada di atas paha. “Tujuanku datang ke sini ingin meminta izin pada kalian untuk mengajak Cathleen tinggal bersama denganku.”


“Tidak, aku tak akan memberikanmu izin.” Papa Danzel langsung menolak tanpa berpikir panjang. Dia tidak mau Cathleen tersakiti lagi kalau jauh dari jangkauannya.


“Please,” pinta Gerald. Tapi wajahnya tetap saja tidak berubah layaknya orang yang sangat memohon. Bagaimana lagi kalau memang sudah dari cetakan pabrik seperti itu. Hanya orang-orang yang mengerti perasaannya saja bisa memahaminya.


“Katakan padaku alasannya kenapa harus ku berikan izin?” tanya Papa Danzel. Ia memasang mimik sangat serius, duduk tegak menatap tegas Gerald.


“Aku merindukan Cathleen, ingin selalu tidur dan dekat dengannya,” jelas Gerald. Dia masih belum mengatakan kalau mau dekat dengan anak-anaknya karena ingin melanjutkan permainan. Belum rela kalau ia kalah.

__ADS_1


“Maaf, alasanmu tak cukup kuat untuk membuatku yakin kalau kau tidak akan menyakiti hati putriku.” Memang sulit meminta persetujuan Papa Danzel. Dia sangat takut kalau putrinya akan dibuat menangis lagi. Mungkin itu adalah naluri orang tua yang ingin melihat anaknya bahagia, dan sebisa mungkin menjaga dengan baik.


Mama Gwen dan Cathleen memilih diam, bukannya tidak ingin membantu, tapi keduanya yakin kalau Papa Danzel akan melakukan yang terbaik untuk masa depan anak-anaknya.


Gerald terdiam sejenak, dia seakan berada di ujung tanduk. Haruskah mengatakan tentang anak-anaknya? Siapa tahu akan membuat Papa Danzel. Menghela napas pelan. ‘Sepertinya aku yang akan kalah dalam permainan ini,’ gumamnya dalam hati.


Sudahlah, daripada Gerald tersiksa batinnya setiap hari, lebih baik ia yang kalah. Tidak masalah, masih ada game online yang sering dia mainkan dan selalu menang. Mungkin permainan di dunia nyata bukanlah keahliannya.


“Aku ingin selalu dekat dengan anak-anakku yang ada di dalam kandungan Cathleen. Apakah kau masih tega memisahkan dan memberikan jarak pada kami? Aku tahu kalau itu bukan anak Edbert, tapi darah dagingku. Aku tak akan bertanya pada kalian kenapa menyembunyikan hal tersebut dariku, pasti ada alasannya. Tapi, yang ku inginkan saat ini hanya izin kalian supaya bisa dua puluh empat jam di dekat Cathleen dan buah hati kami.”


...*****...


...Basa-basi dikit gituloh Ge... kamu tu jujur amat jadi orang, gemes jadinya pengen jorokin dari tebing...

__ADS_1


__ADS_2