Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 70


__ADS_3

Gerald sadar kalau ada seseorang yang datang dan duduk di sampingnya. Tapi, dia enggan untuk mengalihkan pandangan dari komputer. Sedang seru-serunya mencoba game yang baru tadi pagi diluncurkan.


Karena Gerald sepertinya tidak melirik sedikit pun ke arah nampan yang Cathleen letakkan, wanita berparas manis itu pun berinisiatif untuk menyuapi sang suami. Daripada dia berbicara untuk memberi tahu supaya segera mengisi perut, lebih baik disuapi saja. Toh bagi Cathleen hal itu tidak mengganggu konsentrasi. Gerald juga hanya butuh mengunyah saja.


Tangan Cathleen pun mengambil hidangam pembuka yaitu canape. Dalam hati ia berdoa supaya Gerald tidak marah kalau disuapi saat bermain game. Cathleen menyodorkan hidangan berbahan dasar cracers yang dilapisi krim dan atasnya terdapat salmon mentah.


Gerald melirik sekilas ke tangan yang ada di depan mulutnya, dia sampai berhenti sejenak untuk menjeda game online yang tengah dimainkan.


Gerald yang awalnya tidak mau melirik sedikit pun ke arah Cathleen, kini jadi menengok ke wanita yang mulai mengulas senyum pada dirinya. Wajah Gerald tidak berekspresi sedikit pun. Bahkan ia tidak menanyakan apa pun pada sang istri kenapa datang menemui dirinya.


“Makan, aku suapi. Jadi kau tidak perlu berhenti bermain game.” Cathleen berbicara dengan gerakan bibir yang diperjelas supaya Gerald bisa memahami apa yang dikatakan.

__ADS_1


Sangat jelas gerakan dan bukaan mulut Cathleen, Gerald yang telinganya ditutupi oleh headphone saja sampai bisa memahami. Mulutnya pun membuka dan memasukkan hidangan yang disuapi oleh wanita berstatus sebagai istrinya dan entah sampai kapan akan seperti itu.


Sembari mengunyah, Gerald memperhatikan penampilan Cathleen dari atas sampai bawah. Dia ingat betul yang dipakai oleh wanita itu adalah kaus miliknya.


Merasa diperhatikan, walaupun Gerald tidak mengeluarkan suara sedikit pun, Cathleen segera meminta izin karena sudah lancang. “Maaf, aku memakai kaus milikmu tapi tak bilang padamu. Aku tak membawa pakaian ganti.” Dia memasang wajah yang menunjukkan rasa bersalah.


“Pakai saja,” ucap Gerald.


Kedua alis Gerald disentakkan ke atas sebagai jawaban iya. Dia sudah menurunkan volume saat mulut Cathleen berkomat-kamit.


Gerald kembali fokus pada monitor di hadapannya. Melanjutkan permainan yang sempat terjeda. Sedangkan Cathleen terus menyuapi sang suami karena tidak pernah ditolak oleh pria yang pelit sekali berbicara itu.

__ADS_1


Begitu telaten Cathleen menyuapi Gerald sampai hidangan yang dibawa pun habis. “Kalau kau senang ku suapi seperti ini, aku bisa melakukan setiap hari untukmu.” Dia memberikan penawaran. Siapa tahu dengan cara seperti itu bisa membuat suaminya yang dingin menjadi lebih hangat.


Cathleen tahu kalau Gerald masih bisa mendengar celotehannya. Sebab, tidak ada suara yang bocor keluar dari headphone, jadi ia menilai kalau volume dari benda yang ada di telinga sang suaminya itu sangat kecil.


“Tidak perlu repot-repot. Aku bisa sendiri, aku tak mau menyusahkanmu. Dan kau juga bukan pelayanku.” Gerald langsung menolak saat itu juga. Walaupun fokusnya pada game, tapi sekarang dia mulai bisa diajak komunikasi sedikit demi sedikit, asalkan dengan suara yang lembut dan tidak terkesan memaksa.


“Daripada kau selalu makan telat, nanti bisa sakit.” Masih saja Cathleen mencoba membujuk.


“Tidak perlu memperhatikanku secara berlebihan. Aku tidak bisa berjanji membalas semua yang kau lakukan padaku, dan juga tak mau memberikan harapan apa pun padamu.” Gerald justru memberikan peringatan dalam bentuk suara datarnya.


...*****...

__ADS_1


...Eh Gege si salju abadi, aku kasih tau ya, sekarang kamu bisa ngomong kaya gitu, tapi dibelakangmu noh si raja licik lagi merencanakan sesuatu. Kamu harus waspada dan hati-hati biar ga masuk ke dalam perangkap keluargamu. Pertahankan sifat acuhmu itu sampe si kucing bosen dan balik lagi ke Eed, kan kasian si Edbert cakep-cakep tapi jomblo...


__ADS_2