
Sudah satu minggu berlalu, Cathleen terus mendiamkan Gerald selama itu. Tapi tetap saja tidak ada kata maaf yang terucap dari bibir sang suami. Membuatnya merasa kalau Gerald menganggap permasalahan minggu lalu adalah sesuatu yang tidak penting atau pria itu tidak merasa bersalah sedikit pun.
Segala perhatian yang diberikan oleh Gerald menjadi tak disorot oleh Cathleen hanya karena sebuah kata maaf yang belum terucap. Padahal pria yang tidak banyak berekspresi itu sudah mencoba untuk mendekati dan meluluhkan Cathleen supaya tak merajuk lagi.
Gerald selalu memuji kalau penampilan Cathleen lebih cantik, dan segala perhatian layaknya seorang suami yang menyayangi istri. Tapi, tetap tidak membuat Cathleen mau berbicara seperti dahulu lagi.
Beruntung sekali Gerald memiliki kesabaran yang ekstra. Meskipun didiamkan seribu bahasa, ia tetap memperlakukan Cathleen dengan baik. Setiap hari dia mengantar jemput sang istri supaya tak kabur bersama pria lain lagi, atau supaya tak diculik oleh Edbert.
“Hari ini terakhir kau boleh mendiamkanku, sudah cukup satu minggu kita seperti orang asing,” tutur Gerald seraya mengusap puncak kepala Cathleen ketika mobilnya sudah berhenti tepat di depan perusahaan sang istri.
Cathleen menatap sedih ke arah Gerald. “Apa kau tak merasa bersalah padaku?” tanyanya. Ia sedang berusaha memberikan kode supaya sang suami sadar untuk mengucapkan kata maaf.
__ADS_1
“Apa perlu kita mengungkit masalah yang sudah berlalu?” Gerald balas menjawab dengan sebuah pertanyaan.
Helaan napas kasar Cathleen keluarkan. Sepertinya memang ia yang terlalu banyak berharap. Padahal, menurutnya hanya sesimple kata maaf yang ingin didengar dari bibir Gerald. Tapi, ternyata sangat sulit sekali pria itu mengucapkan.
Cathleen segera turun tanpa pamit. Ia tidak berbalik badan untuk sekedar melambaikan tangan mengantar kepulangan Gerald. Bibirnya terus ditekuk sepanjang langkah menuju ruang kerjanya.
“Pagi, Nona.”
Banyak sekali sapaan yang menyambut kedatangan Cathleen. Mau tak mau ia memaksakan diri untuk membalas dengan sebuah senyuman yang dipaksakan saat hati masih tak baik-baik saja.
Sedangkan Gerald, dia menyempatkan diri untuk singgah ke mansion Giorgio. Sudah lama dia tak menjenguk atau menemui sang Mommy. Entah kenapa tak ada angin dan hujan, ia mendadak ingin bertemu oleh wanita yang sudah melahirkan dirinya.
__ADS_1
“Mom?” panggil Gerald pada seorang wanita paruh baya yang tengah berjalan menuju ruang gym.
Mommy Gabby otomatis menghentikan langkah kaki. Ia berbalik badan dan menaikkan sebelah alis. “Tumben sekali kau datang ke sini tanpa diminta.” Terlihat jelas kalau ia terkejut atas kehadiran salah satu putranya yang sudah lama senang menyendiri.
Nyonya Giorgio pun mengurungkan niat untuk olahraga di pagi hari. Ia memutuskan untuk mendekati salah satu putra yang dia sayangi. “Ada apa kau ke sini?”
Jelas saja Mommy Gabby menanyakan hal tersebut. Sebab, ini adalah sesuatu yang langka pasca Gerald memutuskan untuk tinggal terpisah.
Gerald menggelengkan kepala, ia merentangkan kedua tangan seraya mengayunkan kaki ke depan. Ketika jarak dengan Mommy Gabby sudah dekat, ia langsung memeluk orang tuanya. “Aku merindukanmu, Mom.”
Gerald memejamkan mata, ia merasa tenang kala pelukannya dibalas oleh Mommy Gabby dan mendapatkan usapan di punggung. Seolah tak ada tempat yang lebih nyaman kecuali dekapan orang tuanya. “Tidak ada yang bisa memahamiku melebihi keluargaku sendiri,” keluhnya dengan suara lirih.
__ADS_1
...*****...
...Yaiyalahhhh, elu dari orok sampe segede itu yang ngurus emak bapak elu Geeee. Dirawat seperti kedelai malika dengan penuh kasih sayang hingga menghasilkan bibit unggul yang tak akan basi hingga seribu tahun lamanya karena disimpan di Antartika...