
Tapi sayangnya, semua tak berjalan sesuai ekspektasi Edbert. Pasalnya, Gerald adalah seseorang yang bisa mengendalikan emosi dan tak mudah tersulut hanya karena sebuah ucapan belaka. Tentu saja hal tersebut membuat tuan rumah di mansion itu geram.
“Aku tak ingin basa basi denganmu! Berikan rekamannya sekarang juga!” tegas Gerald, dia membalas tatapan mata Edbert dengan melotot juga.
“Tak akan pernah ku berikan!” tolak Edbert seraya mendorong dada bidang Gerald hingga sang rival sedikit terhuyung ke belakang. Masih tak gentar juga dia ingin menyulut amarah Gerald.
Namun, Gerald hanya mengepalkan tangan. Sebuah dorongan tak membuatnya melayangkan tinju. Pasalnya, dia sadar kalau ini adalah negara dan daerah kekuasaan Edbert. Bukan ia tidak berani melawan, tapi ingat kata-kata Cathleen yang menunggunya pulang dengan sehat dan selamat. Maka, Gerald memilih untuk tak terpancing emosi walaupun sangat ingin menghajar pria yang berdiri menantang dirinya. Tak mau membuat sang istri khawatir juga jika pulang dengan kondisi babak belur.
Gerald menyapu dada menggunakan tangan, seolah ia membersihkan bekas yang dipegang oleh Edbert. “Fine, jika kau tak mau memberikan rekamannya padaku, maka ku peringatkan jangan pernah kau sebar apa pun isi di dalamnya!”
__ADS_1
Edbert masih dengan wajah yang mengesalkan dan menantang, bahkan bibir yang diangkat sebelah layaknya orang mengejek pun tak luput diperlihatkan. “Memangnya kau mau apa jika ku sebar isi rekamannya, ha?!”
“Melakukan sesuatu yang tak pernah kau pikirkan!”
Edbert tertawa mengejek, berkacak pinggang seolah meremehkan gertakan yang dilontarkan oleh Gerald. “Aku sangat ingin tahu apa yang akan kau lakukan, mungkin setelah kau pulang, akan ku sebar beberapa cuplikan rekaman yang aku punya.” Dia tidak sungguh-sungguh ingin melakukan hal tersebut, rasa cinta pada Cathleen tak akan pernah tega menyebarkan rekaman tentang wanita itu, sekalipun Cathleen bukanlah miliknya. Namun, ia memang sengaja memancing amarah Gerald. Sekali pria itu memukul dirinya, maka tak akan segan untuk memberikan balasan yang lebih dan mungkin bisa lama tak pulang ke Finlandia jika berurusan di wilayah kekuasaan Edbert.
“Kau mencintai Cathleen?” Gerald tetaplah pria dingin yang merespon segala sesuatu dengan santai.
“Bermimpi saja kau ingin memiliki istriku! Selamanya tak akan ku lepaskan untuk pria dengan gangguan jiwa sepertimu! Seharusnya kau instropeksi diri, kenapa Cathleen meninggalkanmu!” Memangnya hanya Edbert saja yang bisa menyulut emosi? Gerald justru lebih mengesalkan jika memancing amarah orang karena ucapannya terkadang lebih pedas dan menyakitkan.
__ADS_1
Edbert mengepalkan tangan, menarik kepalan itu ke atas dan hendak melayangkan tinju ke wajah sang rival karena mengatakan dirinya memiliki gangguan jiwa. Tapi, dia urungkan karena tak ingin diadukan pada Cathleen yang bisa membuat nama baik atau wanita itu membenci dirinya. “Pergi kau dari sini! Sebelum kau tak akan bisa keluar dari negara ini untuk selamanya! Percuma saja meminta rekaman kamera pengintai padaku, sampai kapanpun tak akan ku beri!”
“Aku hanya ingin memastikan jika kau tak akan berbuat macam-macam dengan rekaman yang kau miliki!”
“Rasa cintaku pada Cathleen lebih besar daripada marahku, tak mungkin aku menyebarkan sesuatu yang merusak citra wanita paling ku cintai di muka bumi ini!”
“Good! Ku pegang ucapanmu!” Selesai, Gerald memang tak berencana untuk baku hantam dengan Edbert, dia malas berkelahi. Kedatangannya ke mansion itu hanya ingin memastikan kalau Edbert tak akan berbuat macam-macam.
Gerald memutar tubuh dan hendak meninggalkan ruang gym tersebut. Tapi, mendadak dirinya mematung saat Edbert berucap dengan membawa nama Chloe.
__ADS_1
...*****...
...Lah, udah? Gitu doang berantemnya? Gak ada baku hantam? Gak seru amat lu bedua tong! Dah macem cewe aja berantemnya adu mulut doang, jotos-jotosan dong! Percuma itu punya otot kalo gak dipake, mubazir...