Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 115


__ADS_3

Cathleen merasa perlu menanyakan sesuatu dengan Gerald. Sejak tadi hal itu terus terngiang dalam pikiran sampai membuat kencan yang seharusnya membahagiakan menjadi penuh ganjalan.


“Katakan saja, aku pasti akan menjawab,” balas Gerald seraya merebahkan tubuh di tikar, kepalanya sengaja berbantal paha Cathleen, dan mata menghadap ke langit yang tak ditaburi bintang.


“Apa kau masih merindukan Chloe?” tanya Cathleen. Pria itu sempat menyamakan dirinya dengan mendiang kekasih Gerald, dalam pikirannya, pasti sang suami belum bisa melupakan sosok tersebut.


Gerald menghela napas berat, sorot mata yang semula menatap langit, kini berpindah pada wajah cantik Cathleen. Ia tidak langsung menjawab, tapi meraih tangan lembut sang istri untuk dikecup. “Maafkan aku karena belum bisa melupakan Chloe sepenuhnya. Tapi aku sedang proses belajar.” Penjelasan itu diakhiri dengan menggesekkan permukaan kulit Cathleen ke rahang yang ditumbuhi bulu-bulu tipis.


Cathleen mengulas senyum seraya mengusap rambut Gerald yang kini mulai rajin mandi walaupun hanya satu hari sekali. “Lalu, kenapa tadi kau menyamakan aku dengan Chloe?” Daripada overthinking sendiri, lebih baik tanyakan saja pada yang bersangkutan.


“Karena kau sama cantiknya dengan dia,” jelas Gerald. Ia mengusap lembut permukaan tangan sang istri yang bersemayam di dadanya.


“Bukan karena kau merindukannya?” Pertanyaan itu terlontar begitu saja dari bibir Cathleen.


Gerald terdiam karena sesungguhnya sedang merasakan seperti yang ditanyakan oleh Cathleen. Tapi bibir tidak mau menjawab dengan membenarkan karena tak ingin menyakiti istrinya. “Jangan bahas orang lain ketika kita sedang berdua. Nikmati saja kencan pertama ini.”

__ADS_1


Gerald perlahan merubah posisi menjadi duduk lagi. Menggeser sang istri agar berhadapan dengannya. “Kita berlomba kuat-kuatan tak berkedip, oke?”


Untuk mengalihkan pembicaraan seputar Chloe, Gerald mencetuskan permainan klasik. Daripada mengajak Cathleen bermain game online yang harus berkutat pada gadget, dan tentu saja akan mengurangi intensitas komunikasi mereka jika sudah hanyut dalam asyiknya bermain ponsel.


“Boleh.” Cathleen sudah bersiap untuk tak menutup kelopak mata.


“Oke, yang berkedip, tandanya dia kalah. Harus dihukum dengan mengikuti keinginan pemenang. Bagaimana, deal?” Gerald mengulurkan tangan untuk meminta kesepakatan.


“Tapi jangan menghukumku yang aneh, ya?” pinta Cathleen seraya membalas jabatan tangan suami.


Gerald dan Cathleen saling memandang satu sama lain. Sorot keduanya bertemu tanpa hambatan sedikit pun. Mendalami bagaimana debaran jantung yang perlahan muncul diantara mereka. Satu meletup kencang, satu lagi masih proses pemanasan.


Namun tiba-tiba ada angin yang tak diundang pun melewati mereka. Cathleen tak siap, sehingga ia yang kalah karena berkedip.


“Baru satu menit, kau sudah kalah saja,” tutur Gerald.

__ADS_1


Cathleen meringis malu. “Katakan, hukuman apa yang kau berikan padaku.”


“Cium saja, kau belum pernah berinisiatif melakukan itu padaku.” Gerald menunjuk bibir. Dia bukan ketagihan, tapi dengan melakukan itu bisa memancing debaran di dada.


Cathleen perlahan memajukan wajah, karena terlalu lama, Gerald pun langsung menarik tengkuk wanita itu hingga bibir saling menempel.


Tentu saja Gerald mengetukkan lidah di bibir sang istri agar Cathleen memberikan jalan masuk. Saat beradu, matanya tak terpejam, memandang kecantikan Cathleen yang tidak membosankan.


Ciuman itu berlangsung cukup lama, hingga pada akhirnya dada Gerald semakin bergemuruh. Serta ada sesuatu yang mulai bisa merespon kedekatan tersebut.


...*****...


...What? Belajar melupakan? PALA LU PEANG APE GIMANE SI GE? Terus itu maksud lu ngerespon tuh ape? Nga*eng lu? Kan vangke! Ngeselin, pasti yang dibayangin si closet tempat berak. Hadehhhhh!!!!...


...Ku tunggu kau sadar ya Cing, awas kau tak sadar-sadar, ku buat meninggoy biar gak bikin emosi...

__ADS_1


__ADS_2