
Melihat Edbert sepertinya kedinginan, Cathleen pun masuk lagi ke dalam kamar untuk mengambil selimut. Penginapan sederhana itu hanya menyediakan satu bedcover saja. Ia kembali lagi dan langsung menutup seluruh tubuh sang mantan kekasih, hanya menyisakan bagian kepala yang terlihat.
“Kau bisa sakit jika kedinginan terus,” tutur Cathleen dengan suara lirih. Tapi tidak ditanggapi oleh Edbert karena pria itu sedang asyik tidur.
Setelah memastikan kalau Edbert tidak kedinginan, Cathleen berniat untuk keluar menghirup udara segar. Dia belum menyadari kalau ada dua mobil yang terparkir di depan penginapan.
Cathleen meregangkan otot tubuh, menarik kedua tangan ke atas seraya menghirup udara dalam-dalam. “Segar sekali di sini, tidak ada polusi,” ucapnya.
Meskipun udara di sana lumayan dingin karena memasuki winter, tapi pagi ini belum ada salju turun. Hanya semalam saja rintik putih berjatuhan hingga kini tanah tertutup sedikit salju karena belum terlalu deras.
Untuk menghangatkan tubuh, Cathleen berniat untuk olahraga disekitar. Dia menuruni tiga anak tangga yang ada di teras. Berhenti sejenak kala melihat ada sebuah mobil yang sangat dia kenal. “Bukankah itu mobil Gerald?” gumamnya.
Tapi kepala Cathleen segera menggeleng untuk menampik. “Tidak mungkin dia tahu keberadaanku, mungkin kebetulan saja ada mobil yang sama persis dengannya.”
__ADS_1
Kaki Cathleen kian mendekati kendaraan mini cooper yang terparkir di belakang mobil Edbert. Kaca memang gelap, sehingga tidak mudah tembus dari luar, kecuali mata didekatkan pada kaca.
Gerald, pria itu tidur tak nyenyak selama di dalam mobil. Membuatnya bangun lebih awal dan melihat kalau sang istri sudah keluar dari rumah sederhana yang sejak semalam dia datangi. Ia menyadari kalau Cathleen semakin mendekat ke arah mobilnya. Gerald pun langsung turun saat itu juga.
“Cath?” panggil Gerald. Dia berdiri di sebelah kiri, sedangkan Cathleen berada di bagian kanan.
Cathleen mematung saat itu juga. Ia tidak menyangka kalau Gerald sampai datang ke tempatnya saat ini. Padahal lokasinya lumayan jauh dari Helsinki. “Ge—rald?” Sampai terbatah-batah saat memastikan kalau orang yang berdiri menatapnya bukanlah halusinasi.
“Ya, aku Gerald, suamimu,” balasnya seraya mengayunkan kaki kian mendekati Cathleen.
“Menjemputmu, ayo pulang, Cath,” ajak Gerald seraya mengulurkan tangan ke hadapan sang istri.
Tapi Cathleen tidak membalas uluran tangan tersebut. Dia justru menggelengkan kepala. “Tidak mau, aku tak ingin dirubah lagi penampilannya seperti Chloe, aku mau menjadi diriku sendiri,” tolaknya seraya melangkahkan kaki ke belakang.
__ADS_1
“Aku tidak akan merubahmu lagi jika kau tak mau. Kau bisa menjadi dirimu sendiri,” bujuk Gerald dengan suaranya yang mengalun lembut. Semakin Cathleen berjalan mundur, dia terus maju mendekat.
Kepala Cathleen tetap menggeleng. “Aku masih ingin menata hati terlebih dahulu, Ge.”
“Maksudmu menata hati, dengan tinggal bersama pria lain? Tak pantas seorang istri yang sedang memiliki masalah dengan suaminya, memilih kabur bersama orang lain, ditambah pria itu adalah mantan kekasihmu. Kita bisa menyelesaikan semuanya berdua, bicarakan dengan hati yang dingin.” Gerald terus mencoba untuk membujuk Cathleen supaya mau pulang.
“Hatiku terlalu sakit saat kau membayangkan aku adalah Chloe.” Air mata yang sudah mengering mendadak meluncur lagi. Dia berhenti bergerak, menunduk untuk mengusap bulir bening yang melewati pipi.
Gerald semakin memanjangkan langkah kaki. Dia langsung merengkuh pinggul Cathleen. “Apa yang kau permasalahkan lagi? Penampilanmu sudah kau rubah. Bahkan jauh lebih cantik sekarang daripada kemarin,” pujinya seraya meraih dagu sang istri untuk didongakkan ke arahnya.
...*****...
...Ampunnnn meleyot aku bang, makin pusing adek mau rebut yang mana, si Ee pake D atau si manusia Antartika...
__ADS_1
...Mohon dibaca bestie ... ini bukan novel romance uwu-uwu kaya pasangan Dariush-Alceena di novelku My Hot Enemy. Ini novel banyak masalah dan konflik dibandingkan mesra-mesraannya. Ya sebelas duabelas sama Gabby My Fierce Girl lah. Dari awal sampe akhir bakalan ada aja konfliknya ni, kalo mau yang uwu-uwu bukan tempatnya di sini ya Sayang. Yang bilang mbulet, bertele-tele, bosen, dipersilahkan untuk berhenti baca. Aku gak pernah memaksa buat kalian terus mengikuti ceritaku sampai akhir kok. *peluk sayang dari aku*...