
Gerald memarkir kendaraan secara asal di depan pintu lobby perusahaan istrinya. Dia langsung turun dengan membawa ponsel yang direbut dari Edbert. Setiap hentakan kakinya merupakan saluran amarah yang sedang ditahan.
Langsung membuka pintu ruang CEO, Gerald mendapati istrinya sedang menyandarkan tubuh di kursi. Wajahnya tercetak kedataran, kehangatan yang baru tiga puluh menit lalu terukir, kini telah menghilang.
“Sayang, kenapa kembali ke sini lagi? Apa tak jadi menyelesaikan pekerjaanmu?” Cathleen yang mendapati suaminya berdiri di dalam ruangannya pun langsung mengajukan pertanyaan.
Namun, Cathleen menaikkan sebelah alis saat melihat raut Gerald yang menatapnya sangat tajam. Seolah ia baru saja melakukan sebuah kesalahan fatal. “Sayang?” Berusaha memanggil lagi karena suaminya tidak memberikan tanggapan.
Gerald berusaha menguasai diri agar emosinya tak meledak. Memusatkan segala amarah di kepalan tangan. Ia kian mengikis jarak dengan Cathleen. Melemparkan ponsel yang ada di genggamannya hingga terjatuh tepat di meja depan sang istri. “Bisa kau jelaskan padaku apa maksud dari rekaman itu?” pintanya dengan suara yang kembali dingin seperti dahulu kala.
__ADS_1
Hawa tak enak mulai memutari Cathleen. Melihat suaminya yang menunjukkan kekesalan, membuat dadanya berdebar begitu hebat. Tangannya bahkan sampai bergetar saat mengambil ponsel yang dilemparkan oleh Gerald. Dia sangat takut untuk memutar video itu, tapi jika tak dilihat, tak tahu juga apa yang harus dijelaskan pada suaminya.
Dengan sekujur tubuh yang sudah gemetar karena Gerald mengawasinya dengan sorot begitu tajam, ia memberanikan diri mendengarkan dan melihat layar berisikan cuplikan rekaman CCTV di ruang kerjanya. Membekap mulutnya sendiri saat menyaksikan itu, dan langsung menatap ke arah suaminya yang sudah bersungut-sungut.
Cathleen memandang Gerald dengan kedua bola mata berkaca-kaca. Dia sudah menutupi rahasia itu. Tapi entah kenapa bisa sampai ke tangan suaminya. “Maaf.” Menunduk dengan bulir bening yang menetes hingga terjatuh di pahanya. Ia tak bisa menjelaskan apa pun karena semua itu adalah benar.
Gerald menggelengkan kepala, sungguh tak menyangka dengan kenyataan tersebut. Ternyata istrinya sepicik itu. “Jadi, benar kalau kau merekayasa kejadian saat di club?”
Gerald tertawa, bukan karena bahagia, tapi menertawakan dirinya sendiri yang bisa begitu mudah masuk ke dalam rencana seorang wanita. “Selama ini aku mempertanggung jawabkan sesuatu yang bukan kesalahanku?”
__ADS_1
Hanya anggukan kepala yang bisa Cathleen berikan sebagai jawaban. Tangis itu tak bisa diberhentikan karena ia sadar atas kesalahan tersebut.
“Shitt!” umpat Gerald seraya menjambak rambutnya sendiri. Dia tak bisa mengeluarkan emosi pada orang lain, sehingga lebih baik menyalurkan pada diri sendiri.
Cathleen berdiri, ia ingin mendekati suaminya untuk memohon ampunan atas segala kelicikannya itu. “Sayang, maafkan aku karena menjebakmu. Saat itu aku tak ada pilihan lain, semua ku lakukan agar bisa keluar dari penjara mantan kekasihku yang sangat pengekang.” Ia bersimpuh di hadapan Gerald, menunduk bagaikan padi yang sangat berisi.
Dada Gerald sangat bergemuruh. Kecewa, sedih, emosi, semua bercampur menjadi satu. “Aku paling benci dibohongi, apa pun alasannya! Lalu kau berhasil mengelabuhiku? Entah aku yang terlalu bodoh atau kau yang sangat licik.” Ia sedikit menyingkir agar tak berhadapan dengan Cathleen yang bersimpuh. “Dan kau memanfaatkan aku sejak awal?”
...*****...
__ADS_1
...Uluh uluh si bocah antartika bisa ngamuk juga ternyata, kirain cuma bisa diem doang kaya patung...