Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 84


__ADS_3

Karena malam semakin larut, semua orang pun kembali ke kamar masing-masing. Termasuk Cathleen dan Gerald yang selama di atas kapal pesiar itu selalu tidur di dalam ruangan yang sama. Tapi, tidak satu ranjang karena Gerald takut kejadian seperti saat di mansion Dominique itu terulang lagi.


Sepasang pengantin baru yang sudah empat bulan menikah itu mulai ada sedikit kemajuan. Bukan perihal perasaan, tapi perilaku. Terutama Gerald yang secara tak disadari, pria itu sedikit berani menunjukkan perhatian di depan keluarganya, walaupun tidak terlalu mencolok.


Cathleen duduk di tepi ranjang seraya menanti suaminya keluar dari kamar mandi. Gerald sedang membersihkan tubuh. Entah dengan cara apa pria itu menghilangkan kotoran di tubuh, sebab sangat cepat sekali Gerald keluar lagi, padahal baru lima menit berlalu.


Walaupun cenderung malas mandi, mungkin satu hari sekali atau bahkan bisa lebih lama dari itu. Namun anehnya, Gerald tetap saja wangi, wajah dan kulit juga bersih. Sampai membuat Cathleen heran dengan suaminya.


“Kau tak jadi mandi? Kenapa cepat sekali?” tanya Cathleen.


“Memangnya aku bilang ingin mandi?” Gerald menanggapi seraya mengoleskan skincare di wajah.


“Kau bilang ingin membersihkan tubuh.”

__ADS_1


“Bukan berarti aku mandi,” sanggah Gerald. Ia berganti mengoleskan body care ke tubuh.


“Kenapa kau jarang sekali mandi?” Lagi-lagi Cathleen mengajukan pertanyaan karena sangat penasaran. “Apa kau takut dengan air?”


“Lebih tepatnya menghemat air,” jelas Gerald. Baginya, membersihkan diri cukup dengan gosok gigi dan cuci muka saja, dua itu adalah yang paling utama. Mandi bisa satu minggu sekali atau satu hari sekali jika tubuh mengeluarkan keringat. Toh ada skincare, parfum, dan segala perawatan tubuh. Jadi, tidak mungkin pria itu dekil karena dia jarang terkena debu ataupun terpapar sinar matahari terlalu lama. Gerald juga rutin spa setiap satu minggu sekali.


“Apa kau semiskin itu sampai membuatmu menghemat?” Dengan polosnya, Cathleen menebak begitu saja. Sebab, sejak menikah dengan Gerald, dia tak pernah melihat suaminya keluar belanja, beli barang apa pun, atau mengeluarkan uang. Bahkan kebutuhan sehari-hari pun dia beli menggunakan uang sendiri karena Gerald tak memberikan uang bulanan. Dia juga tak pernah meminta uang pada suaminya karena sadar diri kalau sejak awal Gerald memang tak mengizinkan untuk menuntut apa pun pada pria itu. Jadi, lebih baik Cathleen memenuhi kebutuhan dapur dan perut menggunakan uang dari rekeningnya sendiri.


“Anggap saja aku miskin.” Gerald tak mau mengambil pusing segala tuduhan yang diberikan. Dia tidak membutuhkan pengakuan dari siapapun atas kekayaan yang dimiliki. Gerald tak haus akan pujian, cukup hidup tenang dan senang saja yang dibutuhkan.


Cathleen menghela napas pelan seraya pandangan terus tertuju pada Gerald yang mulai memejamkan mata. “Kenapa kau tak bekerja saja di perusahaan keluargamu?”


“Malas.”

__ADS_1


Cathleen sampai terdiam karena tak mampu berkata apa-apa lagi. Ternyata pria yang dia nikahi adalah sosok yang jauh dari keturunan pengusaha pada umumnya.


Gerald yang mendadak tak mendengar suara Cathleen lagi pun tiba-tiba membuka mata dan melihat ke arah istrinya. Tumben sekali wanita itu langsung terdiam dan tidak menimpali dengan pertanyaan baru.


...*****...


...Banyak tanya salah, gak banyak tanya dikira aneh. Maumu apa sih Ge?...


...*****...


...Yuk baca karya temen aku judulnya Paket Cinta Sang Embun oleh author nenengsusanti...


__ADS_1


__ADS_2