Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 214


__ADS_3

Sejujurnya Gerald masih tidak bisa menerima kenyataan pahit itu. Tak percaya kalau Cathleen akan semudah membalikkan telapak tangan untuk melupakannya. Tapi, dia hidup dalam sebuah realita yang harus dihadapi, bukan dihindari.


“Aku akan mengantarkannya.” Gerald segera berdiri meninggalkan sofa empuk. Entah kenapa dia mau saja mengantarkan seorang wanita yang sedang mengandung anak dari pria lain. Bahkan Daddy dari janin itu pun ada di hadapannya.


Seharusnya Gerald menolak saja, toh yang akan mengalami kerugian juga Edbert, bukan dirinya. Tapi, pikiran justru berucap lain.


“Terima kasih, jaga baik-baik Cathleen dan anak yang ada di dalam kandungannya,” pinta Edbert. Dia lalu berpamitan, meninggalkan mansion terlebih dahulu. Tujuannya meminta Gerald untuk menemani ke dokter kandungan karena memang seharusnya pria itu yang ada di samping Cathleen selama kontrol. Meskipun dirinya sangat ingin mendampingi wanita itu, tapi tidak mau egois, anak-anak di dalam kandungan Cathleen butuh kedekatan emosional bersama Daddy biologis.


Gerald tidak ada perubahan sikap sedikit pun, atau mungkin karena pria itu memang sejak dahulu terkesan dingin sehingga sulit untuk dibaca pikirannya. “Mau pergi sekarang?” Dia masih bisa mengulurkan tangan mengajak Cathleen bergandengan.


“Iya, aku sudah reservasi untuk jadwal paling pagi.” Tapi Cathleen tidak membalas uluran tangan tersebut. Dia justru berpamitan dengan Papanya sebelum akhirnya berjalan mendahului Gerald.

__ADS_1


Kaki Gerald segera menyusul dengan langkah lebar. Jika tak mau digandeng, maka tangannya bersemayam pada pinggul mantan istrinya selama berjalan menuju mobil. Dia tahu kalau Cathleen terkejut dengan aksi itu, dan pasti melihat ke arahnya dengan penuh tanda tanya.


“Kau sedang hamil, harus dijaga ketat,” ucap Gerald dengan pandangan tetap lurus ke depan. Dia tahu yang dikandung Cathleen bukanlah anaknya, tapi pikirannya terus saja mengatakan supaya tetap mendekat dan jangan menjauh. Sebab, ia merasakan ada sesuatu yang janggal dan sepertinya perlu dituntaskan.


Cathleen tersenyum senang, dia pikir Gerald akan berubah ataupun menjauhinya, ternyata tidak. “Bukankah kau sedang berusaha mendekatiku lagi? Kenapa menjaga janin dalam kandunganku?”


Gerald mengedikkan bahu sebagai jawaban. “Entahlah, rasanya aku memang sudah gila karena melindungi anak pria lain, tapi saat ini memang itu yang ingin ku lakukan.” Dia membalas seraya membukakan pintu mobil.


“Boleh aku bertanya sesuatu?” tanya Gerald saat kendaraan sebentar lagi sampai di area parkir rumah sakit.


“Apa?”

__ADS_1


“Kau sudah menikah lagi atau belum?” Pandangan Gerald terkunci pada kedua bola mata Cathleen ketika berhasil memarkirkan mobil.


“Belum, memangnya kenapa?”


“Tidak, aku hanya bertanya saja.” Gerald segera turun. Selagi Cathleen belum menikah dengan pria lain, maka tak ada alasan untuk berhenti berusaha rujuk lagi. Tidak masalah kalau dia akan merawat anak orang lain. Setidaknya itu adalah darah daging Cathleen—orang yang kini mulai ia sadari sangat penting dalam hidupnya sebagai penerang dalam kegelapan.


Sepanjang jalan dari tempat parkir menuju ruang dokter kandungan, Gerald terus merengkuh pinggul Cathleen seakan ia sedang menghilangkan jejak Edbert di sana. “Jika kau tidak nyaman berjalan dengan posisi seperti ini, katakan saja.”


...*****...


...Au ah, jeles, sudah ku tunggu dudamu, ternyata kau maunya janda, perawan dah gak laku rupanya ya sekarang ni, kok janda terus yang digoda...

__ADS_1


__ADS_2