
Kedatangan Cathleen ke rumah sakit hanya bertujuan untuk menjenguk Chloe. Dia tidak akan menyinggung tentang Gerald karena menurutnya bukan Chloe yang menyebabkan rumah tangganya harus berakhir, tapi memang sudah jalannya harus seperti ini.
“Maaf baru sempat menjengukmu sekarang,” ucap Cathleen diiringi senyum yang terlihat turut prihatin dengan kondisi Chloe saat ini.
“Tak masalah, justru aku sangat berterima kasih karena masih ada teman yang peduli dan ingat denganku,” balas Chloe. Dia hanya bisa berbaring terus, keluar pun harus dibantu menggunakan kursi roda.
“Boleh ku pegang tanganmu?” izin Cathleen. Dia tidak mau lancang langsung menyentuh orang yang sedang sakit, takut kalau membuat tidak nyaman.
“Boleh.”
Cathleen menggenggam lembut tangan Chloe, mengusap kulit yang terasa sangat kering karena lama tidak dirawat. “Aku sangat bersyukur karena kau masih hidup, ku doakan semoga kau lekas sembuh,” tuturnya dengan sangat tulus. Meskipun dia mencintai Gerald, tapi hatinya tak sampai untuk mendoakan yang buruk pada Chloe.
Chloe mengamini, tersenyum lega karena merasakan kalau Cathleen mengucapkan doa dengan sangat tulus. Padahal ia tahu kalau wanita itu adalah istri dari kekasihnya. “Kau orang yang baik dan tulus, Cath. Ku doakan semoga hidupmu selalu dilimpahkan kebahagiaan yang tak terhingga.”
__ADS_1
Cathleen menghiasi wajah dengan senyuman tipis. Dia tidak akan menceritakan kalau saat ini sedang tak bahagia. Pertemanannya dengan Chloe tidak sedekat itu. “Aku tidak bisa terlalu lama di sini, aku ingin minta maaf denganmu.”
“Minta maaf untuk apa? Ku rasa kau tak memiliki salah padaku.” Chloe justru menatap Cathleen dengan wajah bingung.
Jemari Cathleen mengusap lembut permukaan kulit Chloe. “Maaf karena selama kau menghilang, aku mengambil sesuatu yang sangat berharga milikmu. Tapi, setelah kau kembali, aku sudah berniat untuk mengembalikan padamu.”
Semakin bingung saja Chloe, bahasa yang digunakan oleh Cathleen justru membuatnya pusing. Apa lagi fungsi otaknya tidak bagus seperti saat masih sehat. Kini, ia kurang bisa menangkap dan memamahami kalimat orang yang terlalu berbelit atau tak langsung pada kata inti. “Maksudmu?”
“Intinya, aku akan mengembalikan sesuatu yang memang sejak awal milikmu, maaf karena saat itu lancang, dan terima kasih sudah memberikan aku waktu untuk merasakan moment singkat yang sangat indah bersamanya.” Cathleen melepas genggamannya, ia segera berdiri dari tempat duduk dan menunduk untuk berpamitan. “Aku pulang dulu.”
Sedangkan Chloe masih mencoba mencerna setiap ucapan Cathleen, ia terlihat melamun karena otaknya sedang bekerja keras. “Apa maksudmu Gerald?” Tapi, ternyata orang yang diajak bicara sudah tidak ada di hadapannya.
Chloe melihat ke kanan dan kiri, mencari Cathleen. “Di mana wanita yang tadi mengobrol denganku?” tanyanya pada orang tuanya.
__ADS_1
“Dia sudah pulang.”
Chloe menghela napas pelan, ia merutuki dirinya yang terlalu lama berpikir. Hanya bisa menatap kosong ke arah pintu. “Apa hubungannya dengan Gerald baik-baik saja? Kenapa perasaanku seperti tak enak setelah mendengar ucapan Cathleen?” gumamnya sangat lirih.
...........
Selama semalam penuh Gerald tidak tidur, dia terus bermain game sampai kantung matanya terlihat sangat jelas. Telinganya ditutup headphone sepanjang hari sampai tak bisa mendengar suara apa pun kecuali yang berasal dari komputernya. Namun, sesungguhnya ia sembari berpikir tentang kerumitan hubungannya.
Gerald melepaskan benda yang menutupi telinga. “Sepertinya memang aku yang keterlaluan, sudah mengabaikan istriku sendiri.”
Tubuh Gerald beranjak dari kursi, dia berniat ingin membujuk Cathleen agar mengurungkan niat bercerai. Matanya melihat jam yang masih menunjukkan pukul setengah tujuh pagi. “Sepertinya dia belum berangkat kerja, aku akan mengajaknya sarapan bersama seperti bisanya.”
...*****...
__ADS_1
...Telat, udah mgt kucingnya...