Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 190


__ADS_3

Gerald keluar dari persembunyiannya, dia melihat sejenak ke arah kamar yang biasa digunakan Cathleen tidur. Ternyata masih tertutup pintunya. “Ku rasa istriku masih siap-siap, aku masakkan dia sebagai permohonan maaf sudah membuatnya kurang nyaman akhir-akhir ini.”


Setelah bergumam, Gerald menuju dapur. Membasuh wajahnya terlebih dahulu, lalu mengeluarkan alat dan bahan untuk membuat pasta.


Gerald memasak dengan hati yang penuh harapan supaya istrinya bisa memberikan maaf dan tidak menceraikannya. Ia menyajikan dua piring ke atas meja makan, duduk di sana menanti Cathleen keluar kamar.


Kedua bola mata Gerald terus mengawasi pintu yang tak kunjung terbuka. Sudah satu jam berlalu, tapi tidak ada tanda-tanda istrinya keluar.


Gerald melihat jam digital yang ada di dapur. “Sudah jam delapan, apa dia tidak bekerja?”


Daripada menerka-nerka, lebih baik Gerald pastikan saja sendiri. Takut juga kalau terjadi sesuatu hal buruk pada istrinya karena tak biasanya Cathleen belum bangun jam segini.


“Cath? Sayang?” Gerald memanggil seraya mengetuk pintu. “Aku membuatkan sarapan untuk kita, ayo makan sebelum kau berangkat kerja.”


Telinga Gerald sampai sengaja ditempelkan pada pintu untuk mendengar balasan, tapi tetap saja sunyi. Hal itu justru membuatnya merasakan sesuatu yang tak enak. “Jangan bilang kalau Cathleen pingsan di dalam.” Dia segera mencoba menurunkan handle pintu dan mendorong ke dalam, ternyata tidak dikunci, tahu begitu sudah dia buka sejak tadi.

__ADS_1


Gerald melihat suasana kamar itu gelap, menghidupkan lampunya dan ternyata kosong. Buru-buru kakinya berjalan ke arah kamar mandi, siapa tahu Cathleen pingsan di sana.


“Cath?” Gerald memanggil nama itu dengan nada yang panik seraya membuka pintu kamar mandi. Ternyata kosong juga.


Helaan napas kasar keluar dari bibirnya. “Ke mana Cathleen? Apa dia sudah pergi pagi-pagi sekali?”


Saat Gerald ingin keluar, ia harus melewati walk in closet. Berhenti sebentar di sana, mengamati sekitar karena ada yang terasa berbeda. “Ke mana semua pakaian Cathleen?”


Gerald mengecek setiap sisi, ternyata memang bersih tak bersisa satu pun pakaian istrinya. Ia juga melihat kalau koper Cathleen sudah tidak ada. “Apa dia kabur?”


“Shitt! Nomornya tidak aktif,” gerutu Gerald. Ia menyambar kunci mobil dan jaket dengan tak sabaran. “Aku harus menghentikannya agar tak memasukkan gugatan cerai.”


Sedangkan orang yang dicari-cari ternyata baru saja menginjakkan kaki di mansion keluarganya. Senyaman-nyamannya tempat kembali adalah rumah orang tua sendiri.


Kedatangan Cathleen yang menyeret dua koper itu menyita perhatian Tuan dan Nyonya Pattinson yang baru saja meninggalkan ruang makan.

__ADS_1


“Cath? Kenapa kau membawa barang-barangmu ke sini lagi?” Papa Danzel langsung mendekati putrinya, menilai dari raut wajah Cathleen yang nampak sedih dan sedang tak baik-baik saja.


“Kau tidak diusir oleh suamimu, ‘kan?” tanya Mama Gwen memastikan.


Cathleen menjawab gelengan kepala. “Tidak.”


“Lalu, kenapa kau membawa dua koper?”


Cathleen melepaskan genggaman tangannya dari koper. Memeluk Papanya dengan sangat erat. “Aku memutuskan untuk bercerai dan keluar dari apartemen Gerald.”


Mama Gwen mengusap kepala putrinya dengan lembut. “Kenapa tiba-tiba kau ingin berpisah? Bukankah terakhir kali kalian datang ke sini dalam keadaan rukun dan tak ada masalah?”


Papa Danzel sejak awal pernikahan putrinya dengan Gerald memang sudah merasakan hawa tak enak. Sifat Gerald yang terlalu acuh membuatnya tidak yakin kalau rumah tangga Cathleen akan berjalan dengan lancar. “Ayo kita duduk dulu, ceritakan pada Papa.”


...*****...

__ADS_1


...Tenang cing, papamu punya cadangan mantu, noh si Eed yang bisa mengambil hati dan kepercayaan orang tuamu hahaha. Tapi mantanmu tuh pejuang cinta yang tangguh dan pantang menyerah loh, daripada Gege ya mending Eed cing. *edisi ngomporin*...


__ADS_2