
Bukannya berhenti menggoda Cathleen, Gerald justru semakin membuat mantan istrinya tersipu malu. “Jangan salah tingkah seperti itu, Sayang. Kau terlihat jelas kalau masih memiliki rasa untukku,” ucapnya seraya mengusap pipi wanita itu dengan sangat lembut.
Cathleen reflek mencubit perut Gerald supaya berhenti membuat pipinya merah. “Tolong sudahi percakapan ini, aku bisa kesulitan napas,” pintanya. Ia sangat gemas dengan mantan suaminya itu. Setelah bercerai justru terlihat lebih tak kaku, tidak seperti dahulu yang selalu memasang wajah serta sifat sedingin di Antartika.
“Kalau aku tidak mau? Ternyata seru menggodamu, bisa membuat pipimu sampai merah,” seloroh Gerald seraya mengusap-usap bagian yang dimaksud. “Lihatlah, ronanya tak bisa hilang.”
“Sekarang kau bisa iseng, ya.” Cathleen kembali mencubit sampai pria itu mengaduh.
“Oke, oke, aku akan berhenti.” Gerald menarik tangan kanan, kembali menyentuh stir kemudi menggunakan dua tangan.
Tapi mata Gerald tetap saja tidak bisa berhenti terus mencuri pandang. Sampai membuatnya kurang fokus ke depan.
“Awas, Ge! Injak remnya ...!” seru Cathleen ketika melihat kalau di depan menunjukkan lampu merah dan ada orang hendak melewati zebra cross.
__ADS_1
Suara peringatan itu langsung direspon secara cepat oleh otak Gerald. Kakinya reflek menginjak rem dan melepaskan gas, tak lupa tangan kanannya terulur menyentuh perut Cathleen.
Dada Cathleen berdebar sangat kuat. Untung saja mobilnya bisa berhenti sebelum menabrak orang.
Kepala Gerald langsung menengok ke kanan untuk memastikan kondisi wanitanya. “Maaf, apakah perutmu baik-baik saja?” Pertama kali yang dicemaskan adalah anak-anak. Ia segera mengusap lembut bagian Cathleen yang buncit.
“Ya, dadaku saja yang berdebar karena takut mencelakai orang,” jawab Cathleen seraya menghela napas pelan untuk menetralkan keterlejutannya.
Anggukan dan senyuman manis sebagai jawaban dari Cathleen. “Boleh, jika kau mau.”
‘Karena kau memang Daddy mereka,’ imbuh Cathleen dalam hati. Ia tidak berani mengutarakan kalimat itu karena masih ingin mengetahui seberapa jauh Gerald bisa menerimanya dengan tulus.
Setelah diberikan persetujuan, Gerald kembali fokus pada perut Cathleen. Ia mengecup sekali dan mengajak komunikasi anak-anaknya meskipun belum bisa mendengar. “Hei, maafkan Daddy, oke? Lain kali aku akan hati-hati saat berkendara, tidak bergurau atau menggoda Mommy kalian lagi.”
__ADS_1
Cathleen sampai berkaca-kaca matanya karena merasa haru dengan sikap Gerald. Padahal mantan suaminya tidak tahu kalau itu memang anak kandung mereka. “Yes, Daddy, lain kali jaga kami baik-baik.” Ia yang membalas suara tersebut.
Gerald kembali menegakkan duduk, mengusap puncak kepala wanitanya dengan penuh kasih. “Maaf sudah membuatmu terkejut.” Selepas mengucapkan itu, ia mengecup kening Cathleen sebagai tanda sayangnya.
Ah ... sial, susah sekali menahan diri untuk tidak terhanyut oleh perasaan. Cathleen merasakan perubahan besar dari diri Gerald. Jauh sekali dibandingkan saat mereka masih memiliki ikatan di mata negara.
“Iya, pakailah sabuk pengamanmu lagi, setelah ini akan berubah hijau,” balas Cathleen seraya mengusap lengan Gerald agar berhenti merasa bersalah.
Gerald pun menuruti perintah mantannya. Kali ini ia tidak menggoda Cathleen lagi. Tak mau mencelakai anak-anak dan mungkin calon istrinya kalau wanita itu mau rujuk dengannya.
...*****...
...Saatnya nyanyi ... yo ndak mampu aku ... dadi spek idamanmu. Duh mas Gege, aku cry cry iki, ambyar, ajurrrr...
__ADS_1