
Setelah malam pertama mereka, Gerald tidak curiga sedikit pun. Sebab, alas tempat untuk bercinta sepasang suami istri itu berwarna gelap, sehingga tidak ada bercak darah yang mencurigakan bisa dilihat jelas oleh mata.
Sejak malam itu, Gerald dan Cathleen mulai terbangun chemistry. Kedekatan mereka sudah naik tingkat. Keduanya selalu pergi bersama kemanapun. Menyusun jadwal harian agar selaras antara waktu kerja dan berkencan.
Justru hampir tiap hari tak ada sedetik pun waktu yang terbuang sia-sia. Melakukan usaha perkembang biakan juga sering dilakukan supaya segera mendapatkan keturunan. Walaupun sampai detik ini Cathleen belum menunjukkan tanda-tanda kehamilan.
Kehadiran Cathleen dalam hidup Gerald, bisa merubah kebiasaan pria itu kembali seperti dahulu. Ceria, seakan kegelapan di masa lalu sirna dan tak pernah mengaluti si manusia dingin tersebut. Kini, kehangatan selalu ditunjukkan oleh sosok yang dahulu bersikeras tak akan mencintai wanita lain selain Chloe.
Bahkan, sekarang Gerald sering ikut sang istri ke perusahaan Cathleen. Tentu saja membuat CEO yang dikenal baik hati oleh seluruh karyawan menjadi kurang fokus karena seperti diamati setiap saat.
__ADS_1
“Ge? Apa kau tak ingin pulang saja?” tanya Cathleen pada Gerald yang tengah duduk di sofa dan menatap ke arahnya.
“Tidak, aku ingin menemanimu di sini,” jawab Gerald diiringi senyum yang sangat manis. “Kenapa? Apa kau terganggu?”
Cathleen menganggukkan kepala. “Aku jadi grogi jika dipandangi terus olehmu.”
“Karena kau terlalu cantik, dan sayang jika tak dilihat.” Gerald mengedipkan sebelah mata. “Maaf jika aku mengganggu. Aku tak akan menatapmu sampai kau selesai bekerja.” Ia mengalihkan pandangan, berdiri agar tak duduk di sofa lagi.
Gerald mendekati sang istri, bukannya semakin menjauh atau keluar untuk memberikan waktu bekerja Cathleen lebih tenang, pria itu justru berdiri di belakang wanitanya. Memeluk sosok cantik yang sudah dia cintai, dari belakang dengan tubuh direndahkan hingga kepala sejajar. “Iya, aku paham dengan situasimu, selamat bekerja.” Kecupan sekilas dilabukan pada pipi sebagai semangat.
__ADS_1
Barulah Gerald mengayunkan kaki untuk berjalan menjauhi meja kerja Cathleen.
Sudah lama Gerald bertingkah manis, Cathleen masih saja terpesona seperti orang yang baru saja jatuh cinta. Dadanya berdegup setiap mendapatkan sentuhan, berdekatan, ataupun bersitatap dengan sang suami.
“Dia lebih cocok menjadi pria dingin daripada manis.” Cathleen berucap lirih seraya memegang dada, dan kedua bola mata melihat punggung Gerald yang tengah mengamati interior ruang kerjanya.
“Harus ada alasan kenapa aku berubah sifat. Jadi, selama hubungan kita baik-baik saja, ku rasa tetap akan seperti sekarang.” Gerald memberikan sahutan karena ia masih mendengar gumaman sang istri.
Gerald mencoba tak mengganggu konsentrasi kerja Cathleen. Ia memilih untuk melihat detail ruangan yang setiap hari dihabiskan untuk mencetak pundi-pundi kekayaan sang istri. Dimulai dari sebuah ruangan yang tak lain adalah kamar untuk istirahat. Dari bawah ke atas, tidak ada yang terlewat.
__ADS_1
Mata Gerald berhenti tepat pada sebuah cahaya kecil berwarna merah. Jika mata tak jeli, pasti tidak akan tahu kalau itu adalah sensor infrared. Tempat yang dimaksud sangat tersembunyi, hanya bagian sudut ruangan yang nampak jelas. Ia menghitung ada berapa titik di sana, dan memastikan lebih dekat. “Banyak sekali Cathleen menaruh CCTV, untuk apa dihidupkan semua?”