
Karena tidur di mansion Dominique, semua orang yang menginap di sana harus bangun pagi untuk sarapan bersama. Gerald dan Cathleen pun sampai diketuk pintu kamarnya oleh pelayan karena belum bangun juga, padahal sudah ditunggu di ruang makan.
Mendengar ada suara ketukan dari pintu, sepasang pengantin baru itu pun mengerjabkan mata secara bersamaan. Baik Cathleen maupun Gerald, keduanya saling pandang dalam jarak wajah yang begitu dekat. Tidak ada satu jengkal, bahkan hembusan napas hangat mereka pun bisa dirasakan satu sama lain.
Gerald segera menjauhkan tubuh saat menyadari kalau tangan dan kakinya memeluk Cathleen. Ia segera duduk di tepi ranjang membelakangi sang istri.
Cathleen yang merasa tak enak karena sudah lancang menyentuh tubuh Gerald saat tertidur pun menjadi sungkan. “Maaf, aku tak sadar memelukmu, lain kali tidak ku ulangi lagi,” ucapnya dengan suara yang terdengar takut jika sang suami marah.
“Hm, kau mandilah dulu.” Gerald justru memberikan sebuah perintah. Dia tidak marah karena memang kondisi mereka sedang terlelap.
Melihat pakaian yang melekat di tubuh Gerald, Cathleen justru memberikan kesempatan pada suaminya. “Kau tak membersihkan tubuhmu dari kemarin, kau saja yang mandi terlebih dahulu.”
Mendengar kalimat tersebut, membuat Gerald otomatis berdiri dan masuk ke dalam kamar mandi. Dia menghindari Cathleen supaya tak banyak bertanya kenapa bisa dirinya tidur senyenyak itu sampai tak sadar memeluk wanita yang berstatus sebagai istrinya.
__ADS_1
Gerald langsung menghidupkan shower hingga air membasahi dari ujung kepala sampai kaki. Tangannya terkepal dan menyentuh pada dinding. “Benar ‘kan dugaanku, pasti akan ada kejadian seperti tadi kalau aku berbagi ranjang.” Dia merutuki diri sendiri karena tidur tak pernah bisa diam.
Padahal, Cathleen tidak menyalahkan Gerald sedikit pun. Justru wanita itu tersenyum karena tidurnya sangat nyenyak dengan posisi berpelukan. Biasanya pasti bangun pukul lima, tapi tumben sekali hari ini sampai setengah delapan.
Gerald mencoba memasang wajah biasa saja saat selesai mandi. Dia tidak menunjukkan rasa canggung sedikit pun. “Mandilah dan segera turun ke bawah.” Pria itu mengeluarkan sebuah perintah tapi tidak menatap pada sosok cantik istrinya.
Gerald justru langsung melengos hendak keluar kamar tanpa menunggu Cathleen. Dia tak mau wanita itu banyak berpikiran atau bertanya tentang kejadian tadi.
“Pakai saja,” balas Gerald. Dan dia pun langsung keluar kamar.
Baru tiga langkah, Gerald sudah berpapasan dengan Geraldine. Pelaku utama yang menyebabkan dirinya sampai berpelukan dengan Cathleen.
Geraldine memang sengaja naik ke atas untuk menarik paksa sepasang pengantin yang tak kunjung turun. Tapi ternyata Gerald sudah keluar. Dia mengulas senyum dengan alis yang naik turun seperti menggoda. “Bagaimana? Enak bukan tidur memeluk istri?” Dia seolah tahu kejadian apa yang akan terjadi jika Gerald berbagi ranjang. Sebab, pria itu memang selalu berakhir memeluk orang yang ada di samping, termasuk dirinya juga pernah dipeluk saat tidur bersama Gerald.
__ADS_1
Tuk!
Gerald menyentil kening kembarannya. “Semua gara-gara kau.”
Setelah menyalahkan Geraldine, pria itu menyelonong pergi karena malas kalau digoda terus.
Mereka pun akhirnya melakukan sarapan bersama. Termasuk Cathleen yang tak lama kemudian menyusul. Wanita berparas manis itu senang sekali bisa makan tak sendirian lagi. Rasanya Cathleen ingin memiliki keluarga yang terus hangat seperti itu.
“Gerald, setelah ini kau ke ruang kerjaku, ada yang ingin ku bicarakan denganmu!” titah Tuan Dominique saat selesai menghabiskan hidangan pagi.
...*****...
...Walah Gegeeee kamu tuh cuma meluk istri aja dah berasa abis melakukan kejahatan apa sampe segitunya. Itu istrimu woy, bukan istri orang yang kamu peluk! Kalo mau peluk aku juga boleh...
__ADS_1