
“Bukan, tapi Uncleku yang mencari tahu sendiri.”
Semakin menunduk dan merasa malu, Cathleen tidak menyangka kalau keluarga suaminya sudah tahu rencananya yang menjebak Gerald. “Maaf, aku tidak bermaksud buruk dengan keluarga kalian, tapi semua ku lakukan karena terpaksa. Aku salah, memanfaatkan Gerald untuk menghindari mantan kekasihku.” Dia meraih tangan iparnya. “Ampuni aku,” pintanya dengan wajah yang kembali basah oleh banjir air mata.
Geraldine memeluk Cathleen, mengusap punggung wanita itu. “It’s ok, kami semua juga memiliki kesalahan dalam hidup, kita tak sempurna. Keluargaku juga tak sebersih yang kau bayangkan, kesalahanmu bukanlah sesuatu yang tidak bisa dimaafkan. Kelicikan sudah biasa bagi keluarga besarku.”
“Tapi, Gerald sangat marah dan kecewa denganku setelah mengetahui kalau aku menjebak dan memanfaatkan dia.”
“Gerald tidak suka dibohongi, bahkan dia selalu mengatakan kejujuran ketika ditanya, sekalipun itu akan menyakitkan bagi yang mendengar. Itulah sebabnya aku dan Uncle Davis merahasiakan apa yang sudah kau lakukan.” Geraldine mengurai pelukan, memegang kedua pundak Cathleen. “Sudah, jangan menangis.” Jemari lentik itu mengusap pipi iparnya. “Percuma kau memperlihatkan kesedihan, Gerald tak akan mudah luluh ketika masih merasa kecewa.”
“Ke mana aku bisa menemukan Gerald? Aku ingin menyelesaikan masalah ini.” Cathleen tidak bisa diam saja di saat semua yang terjadi disebabkan oleh kesalahannya.
__ADS_1
“Tak perlu dicari, nanti Gerald pulang sendiri. Biarkan saja dia pergi untuk menenangkan diri.” Geraldine mengusap puncak kepala iparnya, dia jadi seperti seorang kakak yang sedang menenangkan adiknya.
“Aku takut kalau Gerald akan menceraikanku setelah ini,” tutur Cathleen, wajahnya terlihat kecemasan.
“Percaya padaku, Gerald tidak mudah memutuskan hubungan hanya karena dimanfaatkan. Marahnya adalah diam, tapi dalam waktu yang lama. Aku sudah sering bertengkar dengan dia karena kebohongan dan kelicikan juga, jadi tahu bagaimana ketika ia marah atas sebuah rasa kecewa.”
Cathleen tak tahu harus lega atau tidak setelah mendengar penjelasan itu. Masalahnya, Geraldine adalah saudara yang bersama dari dalam rahim, sedangkan dirinya hanya istri yang baru dicintai beberapa bulan lalu.
“Tenang, sudah tak ada Chloe, Gerald tidak mungkin meninggalkanmu, karena satu-satunya ancaman yang bisa membuat kembaranku menggila hanya wanita itu. Jadi, kau tak perlu khawatir.” Geraldine menepuk pundak iparnya, lalu melihat jam yang ada di pergelangan tangan. “Maaf sekali, Cath. Bukannya aku tak mau menemani atau membantumu. Tapi, aku ada pekerjaan di luar negeri, jadi tak bisa berlama-lama di sini. Ku tinggal, ya?”
Cathleen mengangguk lemas. “Aku juga mau pulang saja, siapa tahu Gerald akan kembali ke apartemen.”
__ADS_1
Geraldine segera berdiri. “Semangat, Cath, menghadapi kembaranku memang harus penuh kesabaran dan kekuatan.” Menepuk pundak iparnya sebanyak tiga kali, ia kembali meraih pegangan koper. “Kalau aku pengangguran, pasti sudah ku temani. Tapi maaf, pekerjaanku sedang banyak.”
Cathleen ikut berjalan keluar beriringan dengan Geraldine. “Tak apa, aku bisa menghadapi ini.”
Mereka berpisah, Geraldine menuju bandara, sedangkan Cathleen kembali ke apartemen. Wanita itu terus menanti suaminya pulang, mencoba menghubungi nomor Gerald tapi tetap tak tersambung.
Sampai tengah malam, Cathleen masih duduk di sofa, menghadap ke arah pintu masuk. Bahkan hari ini rasanya makan pun tak enak karena memikirkan Gerald. Menunggu dan menanti selama berjam-jam, hingga akhirnya dia ketiduran juga karena terlalu mengantuk.
Sementara itu, pukul tiga dini hari Gerald baru pulang ke apartemen. Jalannya sedikit sempoyongan karena menghabiskan beberapa botol minuman yang mengandung alkohol.
...*****...
__ADS_1
...Mon maap ni Gerald pakai ine, Anda tidak tahu saja kalau Closet udah bangkit dari kubur dan siap menghantui kalian semua hahaha, siap-siap noh diamuk sama bocah Antartika karna dah pada ngibulin. Lupa, Gege kan gak ngamukan, cuma ngambekan kek cewek idihhh...