
“Aku sudah lama berhenti mencari keberadaan Gretta, sepertinya sangat kecil kemungkinan dia masih hidup,” jawab pria paruh baya yang nampak sedih setelah kehilangan salah satu putrinya.
“Baiklah, terima kasih atas informasinya.” Tuan Dominique pun langsung berpamitan pulang.
Saat Daddy George dan Daddy Davis berbalik, ternyata Gerald sudah tak ada di belakang mereka. Ternyata pria muda berusia dua puluh tujuh tahun itu telah masuk ke dalam mobil terlebih dahulu.
“Kalau dia bukan keponakanku, sudah ku timbun kepalanya dengan tanah pemakaman,” gerutu Daddy Davis yang gemas sekali dengan kelakuan Gerald.
“Jika aku bukan Daddynya, sudah pasti ku ceburkan dia ke laut sejak lama. Hanya karena seorang wanita, sifatnya berubah seratus delapan puluh derajat.” Tuan Giorgio pun sama saja ikut mengeluh menghadapi sang putra.
“Aku ingin tertawa, tapi takut kau tersinggung,” celetuk Daddy Davis seraya berjalan menuju mobil.
“Tidak ada yang lucu, untuk apa kau tertawa?” timpal Daddy George dengan tatapan aneh tertuju pada sahabat sekaligus iparnya.
“Karena Gerald adalah copy paste dari kita. Setelah ditinggal selingkuh oleh mantanmu, kau juga dulu berubah menjadi dingin seperti anakmu.”
__ADS_1
“Dan kau menjadi arogan setelah ditinggal menikah mantan kekasihmu yang sekarang menjadi besanmu.”
Tuan Giorgio dan Dominique pun tertawa bersamaan di samping mobil. Sungguh lucu kehidupan mereka, ternyata sifat pun bisa menurun ke anak-anak. Hanya saja berbeda situasi, Daddy George dan Daddy Davis berjuang seorang diri tanpa dukungan orang tua, kini keduanya akan membantu keturunan mereka supaya tidak hidup seperti mereka saat muda.
Dua pria paruh baya itu pun duduk berdampingan di bangku belakang. Sedangkan Gerald ada di depan.
“Kalau sahabat Chloe tidak ditemukan juga sampai sekarang, berarti sangat kecil kemungkinan kekasihmu masih hidup.” Daddy Davis memberikan penilaian dari sudut pandangnya, sembari menikmati perjalanan menuju ke markas Cosa Nostra karena mereka hendak berganti transportasi.
“Tak masalah, asalkan jelas ada bukti bahwa Chloe memang telah tiada,” balas Gerald dengan suara datarnya.
Daddy Davis dan Daddy George pun saling berpandangan. Keduanya menyentakkan alis ke atas bersamaan. Hanya mereka yang paham arti komunikasi tersebut.
“Hari ini kita susuri lautan, cari tanda-tanda dari atas. Mungkin ada barang-barang milik Chloe yang terapung di air,” tutur Daddy George setelah memposisikan diri di dalam alat transportasi udara milik Cosa Nostra.
“Hanya gaun yang dia pakai saat menghilang. Semua barang-barang masih tertinggal di kapal dan sudah ku simpan.” Gerald semakin memperjelas benda yang bisa dijadikan sebagai barang bukti kalau Chloe sudah tiada.
__ADS_1
“Seperti apa bentuknya?” tanya Daddy Davis seraya memakai headphone dengan microphone kecil yang digunakan untuk alat komunikasi mereka ketika sudah mengudara.
“Warnanya merah muda dengan sentuhan mengkilap,” jelas Gerald.
Membuat Daddy George berdecak. “Ck! Berikan gambar gaunnya pada kami. Mana tahu Daddy dan unclemu bagaimana wujudnya.”
Gerald tidak menanggapi gerutuan dari orang tuanya. Dia mengeluarkan ponsel sebelum helikopter lepas landas.
Gerald menunjukkan fotonya saat terakhir kali bersama sang kekasih di pesta yang diadakan oleh teman satu angkatannya. “Ini.”
“Kirim ke whatsapp!” titah Daddy Davis.
Dan Gerald pun langsung mengirimkan foto tersebut. Dia tidak berpikiran hal-hal buruk pada keluarganya.
Daddy Davis yang duduk di depan pun segera membuka pesan tersebut. Diam-diam dia mengirimkan foto itu ke seseorang. Entah untuk apa dia melakukan itu.
__ADS_1
...*****...
...Fotonya mau buat nakut-nakutin tikus ya Dad? Kan siapa tau si Chloe udah jadi hantu dan diam-diam gentayangan wkwkwk...