
“Sudah, sedang dalam penyembuhan pasca operasi plastik. Sekarang orangnya ada di Italia,” jawab Bene. Dia yang memantau perkembangan kinerja agen rahasia sewaan atasannya karena Edbert sibuk merisaukan kondisi Cathleen.
“Di kartel mafia yang membantunya menculik Gretta?”
“Benar.”
Helaan napas kasar keluar dari bibir Edbert. Sulit sekali menangkap wanita licik satu itu. Apa lagi ada mafia yang menjadi beteng penghalang.
“Kabarnya, Gretta adalah salah satu anggota di sana.” Sepanjang perjalanan menuju tempat tinggal Edbert yang baru, Bene sembari memberi tahu informasi penting supaya atasannya tidak salah mengambil langkah.
“Apa yang mereka jual?”
“Senjata ilegal.”
“Ck! Pantas saja semuanya memiliki cara licik untuk menghindar dan bersembunyi.” Edbert menyandarkan kepala yang terasa berat. Dia tidak bisa bergerak atau nekat menghampiri Gretta ke kartel penyelundup senjata. Sama saja mengantarkan nyawa sendiri.
“Aku harus mencari cara memancing Gretta supaya keluar dari tempat persembunyiannya,” gumam Edbert.
...........
Usia kandungan Cathleen semakin besar saja. Sampai detik ini, berarti sudah terhitung sembilan bulan kurang satu minggu. Napas wanita itu terlihat sudah terengah-engah setiap kali melangkahkan kaki. Mungkin karena dua janin dalam kandungan semakin bertambah berat. Apa lagi ulu hati terkadang juga merasakan sakit karena seluruh organ tubuh yang ada di dalam sedang didesak oleh anak-anaknya yang mungkin akan lahir.
__ADS_1
Setiap pagi Cathleen pasti akan jalan-jalan. Katanya, banyak bergerak saat usia kehamilan sudah menjelang lahir bisa membantu memudahkan proses persalinan. Pasti selalu ditemani oleh Gerald juga.
Gerald merangkul pinggul Cathleen seraya mengusap perut buncit wanita itu saat mereka sedang memutari area mansion yang sangat luas.
Setiap kali Gerald melihat Cathleen menghela napas berat seperti menahan sakit, ia reflek berdesis seolah dirinya juga merasakan hal yang sama.
“Apa kau baik-baik saja, Sayang?” tanya Gerald seraya menuntun Cathleen untuk menuju kursi. “Kita istirahat dulu.”
“Perutku tadi terasa mulas,” jawab Cathleen seraya mengeluarkan desisan.
“Apa kau ingin buang air besar?” tanya Gerald seraya mengusap seluruh bagian perut Cathleen dengan sangat lembut. “Kalau iya, aku akan menggendongmu supaya lebih cepat kembali.”
“Ku rasa tidak, sudah tiga hari lalu aku merasakan seperti ini. Tapi, tiap kali ke toilet, pasti tak ada kotoran yang keluar,” keluh Cathleen. Dia sudah menahan rasa sakit yang dialami tanpa memberi tahu siapapun karena tak ingin membuat keluarganya panik.
Ternyata berat juga membawa satu beban ibu hamil yang mengandung dua janin. “Kita ke rumah sakit saja, ya?” ajak Gerald.
Cathleen mengangguk, dia memang tak tahan dengan perut serta pinggang yang terasa seperti remuk.
“Cathleen kenapa?” tanya Mama Gwen yang melihat putrinya digendong masuk.
“Perutnya sakit,” jawab Gerald.
__ADS_1
“Apa mungkin kau sedang kontraksi?” Mama Gwen segera menghampiri Cathleen yang didudukkan ke sofa terdekat.
“Aku tidak tahu, kontraksi saja belum pernah,” balas Cathleen. Wajahnya nampak meringis dan merasakan ada sesuatu sedang keluar dari area sensitifnya. “Sepertinya aku mengompol,” ucapnya sangat polos.
“Tak apa, nanti ku bersihkan.” Gerald yang tak tahu tentang ibu hamil dengan segala rasa sakit mendekati persalinan pun menanggapi dengan serius.
Tapi tidak dengan Mama Gwen. Dia segera mengecek apakah yang dikeluarkan oleh Cathleen adalah urine atau bukan. “Kau tidak mengompol, tapi ini air ketubanmu yang pecah. Cepat bawa dia ke rumah sakit, nanti aku akan menyusul membawa perlengkapannya.”
“What?” Cathleen justru memekik kaget saat tubuhnya terasa diangkat lagi oleh Gerald. Dia seakan masih belum percaya kalau sudah akan melahirkan.
“Tenang, Sayang, kau masih kuat, ‘kan?” tanya Gerald. Bukan Cathleen yang panik, tapi justru dia sendiri kebingungan harus melakukan apa. Ini adalah kali pertama mendampingi wanita yang akan melahirkan.
“Kalau tidak kuat, mungkin aku akan melahirkan di tengah jalan,” sahut Cathleen. Ia berusaha menghibur diri sendiri meskipun sakit begitu hebat sedang melanda dan rasanya sangat menyiksa.
Gerald segera mendudukkan Cathleen, membuat posisi jok mobil supaya sedikit ke belakang dan tidak terlalu tegak. “Apa sudah nyaman?”
Pertanyaan itu dijawab dengan anggukan. Setelahnya, Gerald segera masuk ke dalam mobil dan melajukan kendaraan itu menuju rumah sakit.
Ketika perjalanan, ponsel Gerald mendadak berdering. Dia menyempatkan diri untuk mengangkat dan memencet tombol loudspeaker supaya tak perlu memegang dan menempelkan di telinga.
“Gerald?” Suara Tuan Eleanor yang menghubungi.
__ADS_1
“Ya?”
“Maaf jika aku mengganggumu. Tapi, aku ingin memberitahukan kalau Chloe sedang kritis.”