
Kedua manik mata Gerald dan Cathleen pun saling pandang. “Tumben kau tak bertanya lagi,” ucap Gerald.
“Ku pikir kau sudah ingin tidur, jadi aku tak mengganggumu lagi,” kilah Cathleen. Padahal dia sudah tak bisa berkata-kata lagi dengan suaminya yang ternyata seorang pemalas untuk kerja dan lebih senang menghabiskan waktu bermain game.
“Oh.” Gerald pun segera memutus pandangan mata dari sosok manis istrinya. Pria itu berbalik badan hingga menghadap ke sandaran sofa dan membelakangi Cathleen.
“Sebelum kau tidur, boleh aku bertanya sesuatu denganmu?” Cathleen meminta izin untuk mengajak mengobrol lagi. Takut saja kalau Gerald akan marah.
“Katakan saja.”
“Apa kau depresi setelah kekasihmu menghilang? Atau sebelum kejadian itu?” Cathleen masih dalam posisi duduk di tepi ranjang, hanya saja kaki dinaikkan ke atas.
“Setelah.”
“Apakah sesakit itu ditinggalkan?” Cathleen mulai banyak ingin mengulik tentang suaminya.
“Ya, karena aku sangat mencintainya.”
__ADS_1
Cathleen mencoba tetap biasa saja, pria setia seperti Gerald memang wajar kalau memiliki perasaan yang sangat dalam pada kekasih. “Apa kau masih ketergantungan obat sampai sekarang?”
“Tidak, aku sudah sembuh. Keluargaku banyak yang memberikan dukungan.” Gerald mulai ada kemajuan, apa pun yang ditanyakan oleh Cathleen, dia mulai bisa menjawab walaupun singkat. “Sudah cukup pertanyaanmu, aku mau tidur.”
Cathleen pun tidak mengajukan pertanyaan atau mengajak Gerald mengobrol lagi. Dia mulai merebahkan tubuh dan menghadap ke langit-langit kamar. Pikirannya mendadak terlintas mantan kekasihnya yaitu pria bernama sepanjang rel kereta api.
“Apakah Edbert juga mengalami depresi karena aku tinggalkan?” gumam Cathleen. Mendadak dia merasa bersalah dan overthinking dengan kondisi pria yang pernah menjalin kasih bersamanya selama satu tahun lebih.
Cathleen meraih ponsel yang sengaja diletakkan di atas nakas. Dia membuka layar, rasanya ingin menanyakan kabar Edbert, tapi dia takut kalau masuk ke dalam penjara pria itu lagi. “Tidak, tidak, pasti Edbert baik-baik saja. Dia orang yang mudah mengeluarkan amarah, pasti tak mungkin depresi.” Wanita itu pun mengembalikan ponsel ke tempat semula. “Sedangkan Gerald depresi karena dia tidak bisa mengeluarkan segala amarah,” lirihnya mengutarakan apa yang dipikirkan.
Cathleen pun mencoba menyingkirkan pikiran dan kekhawatiran tentang kondisi Edbert setelah dia tinggalkan. Mau bagaimanapun pria itu bersikap buruk dengannya, tapi mereka pernah menjalin kisah manis sebelum semua berubah menjadi sebuah penjara. Jadi, wajar saja kalau dia mendadak terpikirkan tentang mantan kekasihnya itu.
“Tuan, waktunya makan malam.” Bene memencet tombol supaya ranjang pasien bisa sedikit tegak untuk memudahkan atasannya makan. Perbedaan waktu di New York dan Finlandia adalah tujuh jam, lebih cepat waktu di mana Cathleen saat ini berada.
“Aku tak mau makan.” Edbert tetap menutup mulut saat hendak disuapi oleh sekretarisnya.
“Sakitnya bisa semakin parah, Tuan. Anda sudah terkena infeksi lambung.” Bene mencoba membujuk supaya atasannya tak keras kepala.
__ADS_1
“Biarkan saja, Cathleen pasti akan datang ke sini kalau tahu aku sedang sakit.” Edbert memang sengaja tidak makan selama berbulan-bulan. Dia hanya minum saja setiap kali merasa lapar.
...*****...
...Wah ini cocok setelin lagu tiktok buat si sipir yang overdosis cinta. Overdosisi ... rumah sakit ... tapi nyawanya masih kepending belom melayang...
...Oke, mari kita mulai perjalanan cinta Cathleen—Edbert—Gerald—Chloe mulai dari sekarang...
...*****...
...Yuk bestie baca karya temen aku judulnya Cinta Sejati Sang CEO oleh author Gadisti...
Blurb
Leta gadis cantik berusia 22 tahun, terpaksa menikah dengan Ken, pria berusia 32 tahun, seorang CEO sekaigus pemilik perusahaan Kendrick Group, salah satu perusahaan terbesar di kotanya.
__ADS_1
Demi membalas budi kepada paman dan bibinya, Leta rela meninggalkan kekasih yang sangat di cintainya dan menikah dengan laki-laki yang dulu pernah ia selamatkan, sekaligus laki-laki pemilik mobil yang ia tabrak. Ya! laki-laki itu adalah Jarvis Kendrick Kyler, seorang CEO sekaligus laki-laki yang tergila-gila kepada dirinya.
Antara cinta dan obsesi, mampukah Ken meluluhkan hati Leta? dapatkah Leta mencintai Ken seperti dirinya mencintai kekasihnya?