
Kanan, kiri, atas, bawah, depan, belakang, Gerald sampai mengangkat monitor yang ada di atas meja. Mengamati dengan seksama setiap detailnya. “Ini bukan komputerku.” Setelah yakin, dia meletakkan benda itu lagi.
Beralih melihat ke bawah meja, ternyata CPU juga sudah berbeda. “Sial, siapa yang mengganti!” gerutunya dengan penuh rasa kesal.
Gerald sudah seperti orang yang kehilangan belahan jiwa saja. Seisi apartemen dia bongkar hanya demi mencari seperangkat komputer kesayangannya. Bahkan di sana seperti kandang hewan yang sangat berantakan.
Tangan Gerald mengepal begitu kuat. “Shitt!” umpatnya saat tak menemukan yang dia cari.
Gerald langsung menyambar ponsel, menghempaskan tubuh dengan kasar ke atas sofa seraya menghubungi Geraldine. Diantara banyak orang yang bisa mengakses apartemennya, hanya kembarannya yang suka melakukan sesuatu seenak jidat.
“Apa? Aku sedang bekerja.” Geraldine langsung menyapa dengan suara ketus.
“Kau mengganti komputerku?” tanya Gerald dengan suaranya yang terdengar menahan marah.
“Tidak, aku sudah lama tak ke apartemenmu. Lagi pula untuk apa aku melakukan hal itu?”
“Ck! Lalu siapa jika bukan kau?”
__ADS_1
“Mana ku tahu! Tanya saja istrimu yang tinggal bersamamu! Menganggu waktuku saja kau!” Geraldine menyembur kembarannya dengan omelan. Dia langsung mengakhiri telepon secara sepihak.
Gerald harus segera menemukan komputer kesayangannya. Tak mendapatkan jawaban dari Geraldine, dia pun menghubungi Cathleen. Namun tidak diangkat juga.
Decakan pun keluar dari bibir Gerald. Pria itu nampak kesal. Akhirnya, dia berangkat saja ke kantor Cathleen untuk bertanya secara langsung. Bahkan tidak mandi terlebih dahulu.
Gerald langsung berjalan secepat kilat menuju ruang kerja sang istri. Tapi tak mendapati siapa pun di dalam sana. Dia berbalik untuk bertanya pada karyawan yang berada di lantai sana.
“Kau lihat Cathleen?” tanya Gerald.
Kaki Gerald mengayun menuju tempat yang ditunjukkan. Dia tidak sabar menunggu sampai sang istri selesai rapat, akhirnya mengetuk pintu.
Bukan Cathleen yang keluar, justru sekretaris CEO. “Ada yang bisa dibantu, Tuan?”
“Tolong katakan pada Cathleen, temui aku sekarang juga. Ini sangat penting dan tidak bisa ditunda!” titah Gerald dengan wajah serius.
“Baik, saya akan sampaikan. Tunggu sebentar.” Sekretaris Cathleen masuk lagi untuk menyampaikan pesan tersebut.
__ADS_1
Tak berselang lama, Cathleen pun terlihat keluar dari ruang rapat. “Sayang, apa kau sedang ada masalah yang sangat darurat?” tanyanya seraya kian mendekati suami.
“Ya, ini penting sekali. Kau tahu di mana komputerku?” tanya Gerald dengan nada yang mengandung ketidaksabaran.
“Oh, aku pikir masalah apa. Komputernya aku tukar tambah dengan yang versi terbaru, karena ku lihat milikmu tak pernah ganti disaat banyak teknologi canggih mengeluarkan produk baru. Jadi, aku berinisiatif untuk mengganti agar kau lebih nyaman saat bermain game,” jelas Cathleen dengan sangat santai seakan yang ia lakukan adalah sesuatu yang benar.
“What?” pekik Gerald dengan mata membulat sempurna. “Di mana kau menukarnya?”
Cathleen menyebutkan nama toko tempatnya melakukan tukar tambah. Dan tanpa berpamitan, Gerald langsung pergi meninggalkan sang istri begitu saja.
“Apakah yang aku lakukan salah?” gumam Cathleen saat merasakan kalau Gerald mendadak berubah. Padahal tadi pagi baru saja meneleponnya dengan sangat perhatian.
Tidak terasa Cathleen meneteskan air mata. Buru-buru menyeka supaya tidak ada yang melihat. “Ku pikir responnya akan senang karena aku memberikan fasilitas serba baru untuk bermain game. Ternyata dia tak suka.” Rasanya begitu sedih saat melihat wajah Gerald yang menahan marah.
...*****...
...Makanya, jangan sok tau lu Cing!...
__ADS_1