Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 223


__ADS_3

Yang dikatakan oleh Gerald adalah kebenaran. Dia memang baru saja pulang dari perusahaan. Tapi, sebelum dari kantor, ia pergi ke rumah sakit terlebih dahulu untuk menjaga Chloe sebentar, karena Tuan Eleanor sedang ada urusan.


Hanya saja Gerald tidak memberitahukan pada Cathleen tentang hal tersebut. Mantan istrinya tidak bertanya detail perjalanannya. Jadi, ia merasa lebih baik tidak mengatakan daripada membuat wanita itu terlalu banyak pikiran yang aneh-aneh.


Andai Cathleen bertanya, sudah pasti Gerald akan mengatakan semua. Tapi, wanita itu sejak tadi hanya bungkam dan menatapnya terus dengan sorot penasaran. Jadi, ia berinistif untuk memberi tahu perjalanan terakhirnya.


Selama ini Gerald mengurangi jam tidur. Mungkin satu hari hanya dua atau tiga jam saja untuk istirahat. Dia sedang mencoba membagi waktu agar semua bisa dihandle. Mempertahankan cintanya, rasa bersalah, dan tanggung jawab. Gerald ingin semua itu sejalan bersama walaupun harus mengorbankan kesehatan serta waktu tidur.


Pagi sampai sore hari Gerald gunakan untuk mengantar dan menjaga Cathleen, ia ingin mengejar cintanya supaya tak akan hilang atau pergi untuk selamanya. Tapi juga mau menghilangkan rasa bersalah terhadap kejadian yang menimpa Chloe, sehingga setelah mengantarkan Cathleen, ia pergi ke rumah sakit setiap dua hari sekali, maksimal dua jam berasa di sana. Sebab, Gerald harus bekerja untuk memenuhi tanggung jawab sebagai seorang CEO perusahaan video game.


Anggap saja Gerald egois karena tidak mau mengorbankan dari tiga aspek tersebut. Namun, di hatinya sudah jelas kalau mencintai Cathleen. Sehingga ia lebih banyak menghabiskan waktu bersama mantan istri, apa lagi sekarang ada anaknya yang sedang dikandung.

__ADS_1


Gerald membawa Cathleen masuk ke dalam apartemen. Meskipun tinggal sendiri, suasananya tetap bersih dan rapi.


“Tadinya aku ingin tidur di kantor karena sudah dini hari, tapi mendadak berubah pikiran. Ternyata ada kau datang ke sini,” ucap Gerald seraya mendudukkan Cathleen ke sofa.


“Aku tidak bermaksud ingin datang ke sini, tapi Edbert bersikeras mau membawaku ke apartemenmu.” Cathleen berusaha meluruskan supaya tidak terkesan kalau ia yang berkeinginan berada di dekat Gerald.


“Iya, maksudku seperti itu. Mungkin kita memiliki ikatan batin yang kuat sehingga membuat pikiranku terus mengatakan supaya pulang.” Gerald membawakan susu untuk ibu hamil. Sebenarnya ia sudah memiliki keinginan membawa Cathleen tinggal bersamanya supaya lebih mudah menjaga dan merawat, jadi ia membeli keperluan khusus wanita yang sedang mengandung. Hanya saja belum sempat dibicarakan. “Minumlah.”


Jadilah dia yang menghabiskan cairan berwarna putih tersebut. “Aku tak tahu.” Gerald merasa bodoh saat itu juga. Ia tak paham dengan kebiasaan Cathleen, padahal wanita itu sudah rela mengandung dan melewati masa kehamilan tanpa dirinya.


“Tak masalah.” Cathleen mengulas senyum.

__ADS_1


Suasana di apartemen itu menjadi canggung karena Gerald dan Cathleen saling diam. Andai saja masih suami istri, Gerald pasti sudah menerjang wanita itu, mencumbu untuk menengok anak-anaknya. Tapi, ia berusaha untuk membatasi hasrat.


“Mau langsung tidur?” tawar Gerald. Langsung dijawab anggukan kepala oleh Cathleen.


“Ayo ke kamar.” Gerald mengulurkan tangan untuk membantu wanita berperut buncit itu berdiri. Ia membawa Cathleen ke ruangan yang dahulu sering digunakan untuk menghabiskan malam bersama.


“Kau mau tidur sendiri atau ditemani?” Gerald memberikan penawaran. Sejujurnya ia sangat ingin berada di samping Cathleen. Ia belum pernah merasakan bagaimana tidur memeluk anak-anaknya.


...*****...


...Gausah banyak tanya masehhh, langsung sat set kelonin gituloh. Ah elah, gemes gue jadinya...

__ADS_1


__ADS_2