
“Apa maksudmu? Kau ingin mengajak aku bercerai?” Nada bicara yang terlontar dari bibir Gerald seakan menandakan kalau pria itu tidak terima istrinya meminta berpisah.
Cathleen mengangguk membenarkan. “Setiap hari aku selalu menunggumu bangun, tapi tiap kali kau membuka mata, langsung siap-siap dan pergi begitu saja. Aku juga menantimu pulang, berharap kita bisa bercengkrama walaupun hanya sebentar, tapi nyata kau selalu langsung masuk ke dalam kamarmu, dan mengabaikanku.”
Berhenti sebentar, Cathleen sedang mengulas senyum untuk menahan dirinya yang ingin menangis. Menghirup udara sebanyak mungkin terlebih dahulu, setelah dirasa tenggorokannya lebih normal karena tadi sempat merasa tercekat, barulah ia melanjutkan berbicara agar suara yang keluar tidak terdengar bergetar. “Aku merasa seperti orang yang tak kau anggap di sini, selalu kau abaikan aku, padahal setiap hari aku mencoba untuk berusaha mengajakmu berkomunikasi. Aku hanya ingin sadar posisi saja, di sini, akulah orang ketiga dalam hubunganmu dan Chloe. Lagi pula, tidak ada cinta untukku juga. Daripada setiap hari aku merasakan patah hati, lebih baik hubungan ini berakhir.”
“Kata siapa tak ada cinta untukmu? Aku sudah pernah mengatakan ketika di Lapland, kau akan menjadi milikku, begitu pun sebaliknya. Kau lupa? Atau kau tak bisa menangkap kata-kataku itu?” Gerald tidak menerima ajakan istrinya bercerai, walaupun dia ingat perjanjian awal sebelum menikah dengan Cathleen. Tapi, memang tak pernah mengungkit perjanjian itu setelah menemukan Chloe, karena dia memang tak mau berpisah dengan Cathleen. Tentu saja selain sudah ada cinta untuk istrinya, ia juga orang pertama yang sudah mengambil mahkota wanita itu.
__ADS_1
“Tapi, satu minggu lebih tak ada peningkatan dalam hubungan kita. Justru aku setiap hari menahan diri untuk berusaha tegar menerima kau yang memperhatikan kekasihmu, dibandingkan istrimu. Aku hanya ingin melakukan perjanjian awal pernikahan kita, rela pergi ketika Chloe sudah kembali. Dan sekarang adalah saatnya.”
Gerald menutup map berisi dokumen kesepakatan cerai. Dia berpindah posisi duduk menjadi di sebelah Cathleen. Menyentuh pundak istrinya untuk dihadapkan ke arahnya. Ia tahu kalau Cathleen sedang menahan diri supaya terlihat tegar. “Bertahanlah sebentar, pahami posisiku. Chloe seperti itu juga karena aku yang gagal menjaganya selama menjadi kekasihku, aku penyebab dia sakit. Andai saja aku langsung menemukannya saat hilang, pasti dia tak akan lumpuh seperti sekarang.”
Kedua tangan Gerald menyuntuh lengan dan perlahan semakin turun, berhenti pada jemari-jemari lentih untuk digenggam. “Aku menjaga Chloe karena merasa bersalah dengannya. Please, tetaplah di sisiku, kau boleh melakukan apa saja selama aku merawatnya.”
“Sampai Chloe meninggal, dokter mengatakan umurnya tak akan panjang. Aku ingin memberikan kesan yang indah sebelum dia pergi selamanya.”
__ADS_1
“Umur tak ada yang tahu.” Cathleen menggelengkan kepala seraya melepaskan genggaman tangan suaminya. “Kau memintaku untuk memahami posisimu, sudah ku lakukan dengan cara melepaskanmu. Kau ingin merawat Chloe sampai tak tahu kapan waktu itu datang.”
Sudah berusaha sekuat mungkin untuk menahan diri agar tak menangis, akhirnya mata itu sudah tak mampu membendung lagi. Dia mulai berkaca-kaca. “Aku juga butuh perhatianmu, Ge, selama ini aku menunggumu untuk kembali hangat seperti sebelumnya. Tapi, kau tetap mengacuhkan, membuatku seperti sebuah pajangan tak berarti. Aku juga wanita yang memiliki perasaan, daripada terluka lebih dalam bersama pria yang belum selesai dengan masa lalunya, lebih baik ku akhiri penderitaan hati ini.” Ya, akhirnya bulir bening meluap juga.
...*****...
...Kelamaan lu Ge, sat set napa sih, ambil pulpennya lalu tanda tangan. Keburu tua di jalan gue nih nungguin lu ngeduda. Jangan bilang kalo gajadi ngeduda nih, ah elah, jangan bikin waktu gue nunggu jadi sia-sia dong...
__ADS_1