
Gerald sedikit pun tak melepaskan rengkuhan di pinggul Cathleen. Lagi pula mantan istrinya juga tidak menolak maupun memberontak. Kini keduanya sudah sampai di depan ruangan dokter kandungan.
“Aku hanya sebentar, mungkin kau bisa menunggu di kursi itu,” ucap Cathleen seraya menunjuk ruang tunggu.
“Tidak, aku akan masuk bersamamu. Edbert mempercayakan kau dan anakmu untuk ku jaga, jadi ku antar serta tunggu di dalam.” Tapi Gerald justru menolak. Rasa penasarannya ingin melihat janin di dalam kandungan Cathleen ternyata jauh lebih tinggi daripada sakit hatinya.
Cathleen pun tidak memaksa kalau Gerald memang ingin ke dalam. Dia membiarkan pria itu membukakan pintu dan mempersilahkan dirinya masuk terlebih dahulu.
“Selamat pagi, Nona.” Langsung mendapatkan sapaan hangat dari dokter yang biasa memeriksa Cathleen.
“Pagi, Dok.” Cathleen membalas dengan ramah.
Dokter itu rasanya ingin bertanya karena yang mengantarkan sudah berbeda orang. Tapi, tidak boleh ikut campur dengan urusan pasien. Cukup fokus saja pada pekerjaannya.
“Duduklah.” Gerald menarikkan kursi untuk Cathleen bersantai mengobrol dengan dokter.
Tapi, Cathleen tidak menuruti itu, justru menjelaskan dengan lembut. “Biasanya aku langsung berbaring di sana untuk USG.”
“Oh, maaf, aku tidak tahu. Baru pertama kali mengantarkan ibu hamil periksa.” Untung saja Gerald tidak merasa malu sedikit pun. Dia justru menggandeng lengan Cathleen untuk berjalan menuju tempat yang ditunjuk. Padahal wanita itu bisa mengayunkan kaki sendiri. Namun, setelah mengetahui mantan istrinya hamil, naluri ingin melindungi ternyata jauh lebih besar.
__ADS_1
“Hati-hati.” Gerald melepaskan flatshoes Cathleen dan membantu wanitanya berbaring. “Apakah sudah nyaman?”
Cathleen mengangguk, ternyata enak juga diperhatikan seperti itu. “Sudah, terima kasih.”
Gerald membalas dengan ulasan senyum seraya mengusap puncak kepala Cathleen. Dia tidak duduk menjauh, tapi menarik kursi untuk ikut menyaksikan bagaimana perkembangan janin dalam kandungan tersebut.
Mata Gerald terus terfokus pada perut buncit Cathleen, lalu beralih ke monitor saat dokter mulai menempelkan transducer. Dia tahu itu bukan anaknya, tapi entah kenapa ada desiran halus yang mendadak muncul di hati ketika menyaksikan janin yang diperlihatkan oleh layar seukuran televisi. Bibir juga mengulas senyum seakan puas ketika mendengar kalau kondisi janin semuanya sehat.
“Ada dua, apa Cathleen hamil anak kembar, Dok?” tanya Gerald.
“Benar, Tuan.”
“Apa sudah bisa dilihat jenis kelaminnya?”
“Belum terlihat, sepertinya malu-malu.”
“Oh ....” Ternyata Gerald yang lebih antusias untuk bertanya dibandingkan Cathleen. Bahkan dia juga merasakan lega saat melihat anak-anak mantan istrinya sangat aktif bergerak di dalam rahim. Tandanya sehat.
Cathleen juga diam saja, membiarkan Daddy biologis anak-anaknya berbincang dengan dokter. Bahkan setelah USG pun Gerald masih bertanya-tanya seputar kehamilan. Apa saja yang boleh dan tidak dilakukan oleh Cathleen.
__ADS_1
“Dok, boleh aku pinjam toiletnya?” izin Cathleen. Dia merasa seperti patung di sana karena berdiam diri mendengarkan dua orang yang sedang asyik mengobrol tentang ibu hamil. Bahkan sampai membuatnya ingin buang air kecil karena terlalu lama.
“Silahkan, Nona.”
“Mau aku antar?” tawar Gerald.
“Tidak, kau lanjutkan saja mengobrol,” tolak Cathleen.
Gerald tidak memaksa, dia cukup melihat dan memastikan wanita itu masuk ke dalam toilet dengan selamat. Selepas kepergian Cathleen ditutup pintu, ia kembali berbincang dengan dokter.
“Boleh aku minta print USG satu lagi?” pinta Gerald.
“Boleh, Tuan.” Dokter pun mencetak lagi dan diberikan pada pria yang tak tahu ada hubungan apa dengan pasiennya karena baru pertama kali ini melihat.
Gerald melihat dua janin itu dengan seksama. “Berapa usia kandungannya?”
...*****...
...Mending gausah tau deh Ge, daripada ntar kau kejang-kejang pulak mendengar kenyataannya. Berabe weh kalo sampe pingsan, aku belom ready di Helsinki, tar gabisa kasih napas buatan ke duda ganteng...
__ADS_1