Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 257


__ADS_3

Selama satu bulan ini Gerald dan Cathleen sibuk mengurus pernikahan. Bukan mempersiapkan pesta, mereka akan melangsungkan secara sederhana saja. Meskipun seperti itu, tetap butuh berkas, gaun, dan undangan untuk rekan kerja keluarga yang diizinkan untuk datang.


Tibalah sekarang hari yang ditunggu oleh Gerald dan Cathleen. Mereka akan mengikrarkan janji suci pada siang ini.


Sejak pagi, keluarga Pattinson dan Giorgio sudah sibuk bersiap serta merias diri. Kini mereka telah memijakkan kaki di Katedral tempat berlangsungnya pernikahan kedua calon mempelai yang sempat terpisah dan kali ini akan dipersatukan kembali atas nama cinta dan kasih Gerald maupun Cathleen.


Calon pengantin pria tidak mau berada di ruangan terpisah selama menanti serta merias diri. Gerald ingin selalu berjaga di samping wanitanya. Bahkan dua bayi juga berada di sana bersama mereka. Benar-benar Daddy yang sangat protektif.


Gerald menatap terus wajah Cathleen yang sedang dirias oleh MUA. “Sederhana saja, dia sudah cantik meskipun tak dipoles make up.” Dia mengajukan request, lebih senang jika calon istrinya nampak natural, karena yang paling utama adalah kecantikan hati.


“Jangan menggodaku terus, pipiku bisa merona alami kalau kau puji setiap hari,” pinta Cathleen. Tapi memang benar kalau ia tersipu, hanya saja wajah tidak merah.


Gerald yang ada di depan stroller anak kembarnya pun mengarahkan Faydor dan Galtero ke arah Cathleen. “Lihatlah Mommy kalian, bisa-bisanya malu dengan Daddy.”

__ADS_1


Gerald harus berhenti bercanda dan menggoda wanitanya ketika mendengar ada pintu yang didorong ke dalam. Kepala segera menengok untuk memastikan siapa yang datang. Ternyata Tuan Pattinson dan Edbert.


“Ada apa?” tanya Gerald.


“Semua sudah siap, kau keluarlah dulu, akan ku serahkan putriku untukmu di altar,” beri tahu Papa Danzel sekaligus ia mengusir calon menantunya yang tak mau dipisahkan dengan Cathleen. Kakinya terayun ke dalam.


“Faydor dan Galtero biar ku jaga, kalian tenang saja, dua keponakanku yang jagoan ini pasti aman bersamaku,” imbuh Edbert. Ia berdiri di samping stroller khusus bayi kembar, menepis tangan Gerald supaya menyingkir. Dia sudah seperti pemilik dua bayi itu saja.


“Oke.” Gerald segera berdiri, rasanya sudah tak sabar ingin lekas mengucapkan janji.


“Kenapa di hapus?” Cathleen sampai menatap heran pada calon suaminya.


“Kurang menunjukkan karaktermu yang lembut,” jelas Gerald dengan sangat santai. “Tak perlu dirias, seperti ini saja cukup,” peringatnya kemudian saat MUA hendak mengoleskan lipstik dengan warna lain.

__ADS_1


“Ku tunggu kau di altar.” Gerald mengusap pipi Cathleen sejenak, lalu berjongkok di hadapan dua jagoannya. “Boys, kalian jangan menangis selama proses Mommy dan Daddy menikah, oke?” Ia mengajak anaknya bekerjasama, supaya semuanya lancar, aman, dan terkendali.


“Kasian sekali anak-anakmu, setiap hari mendapatkan ancaman, peringatan, dan omelan terus darimu,” ejek Edbert. Dia yang sudah dewasa saja pusing mendengarkan ocehan Gerald, apa lagi keponakannya yang masih mungil.


“Iri saja kau itu,” sahut Gerald. Ia tidak mengambil hati apa yang dibicarakan oleh mantan rivalnya yang sudah memilih untuk mengalah, menepuk pundak Edbert. “Titip Faydor dan Galtero.”


Kaki Gerald terayun meninggalkan ruangan khusus untuk persiapan calon mempelai.


Sementara Edbert, dia tersenyum ketika pandangan terjatuh pada wajah Cathleen yang cantik. “Sayangnya bukan lagi milikku,” gumamnya pelan.


Seandainya dahulu Edbert bisa memberikan kenyamanan untuk mantan kekasihnya itu, pasti yang akan menjadi mempelai bukan Gerald, tapi dirinya. Namun, apalah daya, waktu terus bergulir ke depan, tak ada yang bisa dirubah lagi. Cukup mencoba untuk merelakan meskipun menyakitkan.


...*****...

__ADS_1


...Tenang Uncle Ed, nanti ku permudah kau menuju surga supaya tak merasakan pedihnya patah hati lagi...


__ADS_2