
“Tidak, aku di mansion saja,” tolak Cathleen. Dia tidak mau mengganggu Gerald karena dari pagi sampai sore sudah bersama dengannya. Apa lagi pria itu juga pasti butuh waktu untuk bekerja.
“Yasudah, sekarang coba kau pejamkan mata, anggap saja aku Gerald,” ucap Edbert seraya mengusap rambut Cathleen.
Begitu sabar Edbert menangani ibu hamil yang tak bisa tidur itu. Bahkan sampai mengabaikan kaki yang sedang kesemutan. Setidaknya ia bisa merasakan kedekatan seperti ini, mungkin bisa dikenang sepanjang masa jika Cathleen kembali bersama Gerald.
Satu jam berlalu, sudah pukul setengah dua dini hari. Tapi cara yang dilakukan oleh Edbert tidak berhasil juga membuat Cathleen terlelap.
“Ed, sudah hentikan, lepas saja topeng itu dan pergilah istirahat,” ucap Cathleen seraya berpindah posisi menjadi duduk. “Percuma juga karena aku tetap tak bisa tidur.”
Edbert melepaskan kertas yang tercetak jelas wajah Gerald, kini ia bisa menunjukkan muka aslinya. “Ayo ku antarkan ke apartemen mantan suamimu.”
Tapi kepala Cathleen tetap menggeleng. “Belum tentu juga aku bisa tidur kalau di sana, lagi pula ini sudah dini hari, pasti akan mengganggu dia.”
“Kalau dia memang tulus padamu, pasti tidak akan berpikiran seperti itu. Gerald akan menjaga dan merawatmu.” Edbert yang sudah berdiri pun mengulurkan tangan. “Kita coba saja.”
__ADS_1
“Aku mau alasan apa kalau ke sana pukul setengah dua pagi?”
“Nanti aku yang bilang padanya, sudah, ayo ikut saja.” Edbert sedikit menarik kedua lengan Cathleen supaya berdiri. “Tidak baik ibu hamil kurang tidur.”
Mau tak mau Cathleen pun berjalan mengikuti Edbert karena pria itu sungguh memaksa. Ternyata sifat pemaksa tidak sepenuhnya hilang dari jiwa mantan kekasihnya.
“Ada yang ingin kau bawa? Tas atau ponsel, mungkin?” tanya Edbert sebelum mereka menuju garasi.
“Ya, biarkan aku mengambil sendiri.” Cathleen berusaha melepaskan tangan Edbert. Tapi ternyata pria itu sudah terlebih dahulu mengendurkan genggaman.
“Kau di sini saja, aku yang akan ambil ke kamarmu.” Edbert berlari supaya cepat sampai.
Edbert menggandeng Cathleen menuju garasi. Membawa masuk wanita itu ke dalam mobilnya. Dan ia melajukan kendaraan untuk menuju apartemen Gerald.
“Ed, aku tak enak dengan Gerald kalau bertamu dini hari.” Lagi-lagi Cathleen resah karena tidak mau mengganggu, atau mungkin dia takut tak mendapati mantan suaminya berada di apartemen.
__ADS_1
“Kalau dia memang mencintaimu, sepagi apa pun kau datang, pasti akan dibukakan pintu selebar mungkin dan menerima kau dengan suka cita.”
“Tapi sekarang kondisinya berbeda, Ed. Dia tahu kalau aku hamil anakmu, bukan anaknya. Apa yang akan Gerald pikirkan tentangku? Wanita murahan?”
“Kau terlalu banyak berpikir sebelum tahu hasilnya. Kalau sampai dia menghinamu, katakan saja, akan ku beri dia pelajaran.” Edbert meyakinkan Cathleen supaya tidak perlu khawatir. Ia siap menjadi tameng untuk mantan kekasihnya. Anggap saja dirinya memang bodoh karena tetap tak bisa menghilangkan cinta untuk wanita itu.
Mobil Edbert pun sampai juga di area apartemen, dia memarkirkan di basement. “Ayo.” Lagi-lagi mengulurkan tangan pada Cathleen.
Tapi ditolak. “Aku akan jalan sendiri.”
“Baiklah.”
Langkah kaki Edbert dan Cathleen terayun menyusuri basement, menuju lift untuk naik ke lobby karena mereka tak akan bisa mengakses ke sembarang lantai kalau tidak memiliki kartu.
Tapi, ketika melewati blok parkir VIP, tiba-tiba ada mobil mini cooper abu-abu yang berhenti di depan keduanya. Siapa lagi kalau bukan Gerald. Pria itu baru saja pulang dari suatu tempat.
__ADS_1
...*****...
...Maap ya Cing, itu si Gege abis ngapel aku. Kan dia mah sekarang bagi waktu, pagi sama mantan istri, malemnya ke rumah calon bini...