Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 55


__ADS_3

Gerald mendorong Cathleen yang duduk di kursi roda untuk dibawa menuju kamar VIP supaya wanita itu segera mendapatkan penanganan dengan rawat inap di rumah sakit tersebut. Bisa saja ia meminta perawat untuk melakukan hal itu, tapi entah kenapa Gerald justru melakukan sendiri.


Gerald juga membantu merebahkan tubuh Cathleen ke ranjang pasien. Dan tak lama kemudian ada perawat masuk ke dalam sana untuk memasang infus.


“Nona, jangan lupa istirahat supaya cepat pulih,” beri tahu perawat tersebut setelah selesai memasang jarum yang dimasukkan ke dalam pembuluh darah yang ada di tangan, supaya mengalirkan cairan berisi vitamin untuk menggantikan cairan yang hilang, serta dehidrasi pasien tidak semakin parah. Dia juga menyuntikkan obat cair ke dalam selang.


Dan Gerald yang sejak tadi mengamati pun memicingkan mata. “Apa yang kau suntikkan itu?” tanyanya dengan nada seperti menginterogasi seorang penjahat. Bahkan mata tajamnya semakin menambah mimik yang datar menjadi kian menegangkan suasana. Dia harus tahu apa yang dimasukkan ke dalam tubuh Cathleen itu, karena terlalu mencurigakan baginya.


“Ini obat untuk meredakan diare, Tuan. Saya hanya melakukan sesuai instruksi dari dokter. Nona Cathleen juga sudah mengkonfirmasi kalau masih diare sampai sekarang, walaupun intensitasnya tidak sering,” jelas perawat tersebut.


“Oh.” Masih saja Gerald bisa langsung merubah wajah menjadi biasa setelah menginterogasi layaknya anggota FBI.


“Apakah masih ada yang ditanyakan atau diperlukan lagi?” tanya perawat itu.

__ADS_1


“Tidak, kau boleh keluar.” Gerald mengibaskan tangan, terlihat sangat angkuh.


“Baik, saya permisi. Kalau ada sesuatu yang darurat atau membutuhkan bantuan, bisa pencet tombol yang ada di sini.” Perawat itu menunjuk letak yang dimaksud.


“Hm.” Gerald menjawab dengan gumaman malas.


Sedangkan Cathleen terkikik pelan karena kelakuan Gerald yang ternyata ketus pada semua orang tanpa kecuali. “Aku paham, terima kasih atas bantuannya,” ucap Cathleen pada perawat.


Perawat pun keluar, meninggalkan sepasang pengantin baru itu di dalam ruang rawat VIP.


“Apa hobimu memang bermain game?” tanya Cathleen.


“Hm.” Gerald membenarkan dengan sebuah gumaman saja.

__ADS_1


“Berapa jam sehari kau bisa menghabiskan waktu untuk bermain?” Cathleen mulai ingin tahu lebih banyak tentang suaminya.


“Dua puluh empat jam pun aku sering.” Gerald menjawab tapi enggan mengalihkan fokus dari layar.


“Apa kau tidak bekerja jika waktumu hanya dihabiskan untuk bermain game?”


“Apa kau tidak bisa diam saja dan jangan menggangguku ketika bermain game?” Gerald balas bertanya dengan nada ketus dan sedikit membentak. Dia tidak suka jika kesenangan pribadinya diusik.


“Aku ‘kan hanya bertanya, kenapa harus menjawab dengan nada seperti itu?” Mata Cathleen segera berkaca-kaca karena hatinya merasa sakit dibentak seperti tadi. Padahal niatnya hanya bertanya supaya tidak bosan di dalam ruangan sebesar itu tapi tak ada obrolan sedikit pun.


“Ingat perjanjiannya, jangan merepotkan dan banyak menuntut. Aku selalu berusaha untuk memenuhi kesepakatan itu, maka kau pun seharusnya melakukan hal yang sama!” jelas Gerald mengingatkan Cathleen agar tidak ada yg melanggar peraturan yang sudah disepakati sejak awal. “Lebih baik kau tidur saja, ikuti perintah yang disebutkan perawat tadi,” titahnya kemudian.


...*****...

__ADS_1


...Si Gege masih konsisten aja ketus begitu. Bagus, jangan kasih celah buat Keket masuk ke dalam hatimu *tersenyum licik*...


__ADS_2