
Tangan Edbert yang mengusap rambut Cathleen, bagaimana mereka berdua berinteraksi sangat dekat. Semua itu terus berputar di ingatan Gerald dan berhasil membuatnya kesal bukan main tiap kali terbayang.
“Aku harus mencari cara juga supaya bisa lebih dekat dengan Cathleen,” gumam Gerald. Kalau Edbert saja bisa menjadi partner kerja agar memiliki banyak waktu dengan mantan istrinya, maka seharusnya dirinya pun bisa melakulan hal itu juga.
Gerald yang sedang duduk seorang diri di depan komputer gamenya pun berpikir sebentar. “Apa yang bisa perusahaanku tawarkan untuk Cathleen? Bidang video game dan properti tak ada korelasinya sedikit pun.” Ia sampai menatap ke langit-langit ruangan untuk mencari ide.
Satu-satunya bagian yang selalu Cathleen butuhkan adalah supir. Sepanjang ia menguntit, tak pernah melihat mantan istrinya mengendarai mobil sendiri. “Ide bagus, ku rasa harus menyingkirkan supirnya terlebih dahulu.”
Akhirnya Gerald sudah memutuskan untuk menjadi bagian dalam keseharian Cathleen dengan cara menjadi supir. Sebab, perusahaannya tidak ada kaitannya dengan bidang properti, bahkan sangat jauh.
Gerald tidak bisa terus-terusan menguntit, bertemu lebih dekat ternyata membuatnya ketagihan. Tapi, Cathleen sepertinya sedang banyak pekerjaan sehingga akhir-akhir ini tidak ada celah lagi untuk bertatap muka.
Hari berikutnya, Gerald sungguh akan melangsungkan rencana. Dia menunggu moment yang tepat untuk meminta supir Cathleen mengundurkan diri.
Dirasa ada celah untuk bertemu orang yang bersangkutan, Gerald segera menghampiri mobil Cathleen yang sedang terparkir di sebuah perusahaan. Dia mengetuk kaca jendela supaya supir yang ada di dalam sana keluar.
“Ada yang bisa dibantu?” tanya supir tersebut dengan ramah. Bahkan ia menyempatkan untuk turun dari mobil.
__ADS_1
“Berapa Cathleen memberi kau gaji?” Gerald langsung bertanya tanpa basa basi terlebih dahulu.
“Enam ribu euro perbulan.”
“Aku akan menawarkan kau gaji dua kali lipat, asalkan mau mengundurkan diri. Bagaimana, apa kau tertarik?” Gerald memberikan penawaran yang sangat menggiurkan, tak masalah mengeluarkan uang lebih demi bisa lebih dekat dengan wanita yang setiap hari dirindukan.
Supir itu justru melihat Gerald dengan tatapan aneh. “Kenapa Anda tiba-tiba memberikan penawaran tinggi? Bahkan kita saja tidak saling mengenal.”
“Masalah pribadi, kau tak perlu tahu. Intinya, mau atau tidak? Kalau pun kau menolak, aku tetap akan memaksamu sampai bersedia.” Gerald menatap supir itu dengan tatapan dingin menusuknya, menggunakan cara mengintimidasi hingga terpojokkan kalau diminta secara baik-baik tidak mau.
“Anda berani membayar banyak, tapi apa pekerjaan yang harus ku lakukan? Aku tak mau kalau tidak melakukan apa pun.”
“Baik, aku bersedia.” Setelah dipikir-pikir penawaran yang diberikan menarik juga.
“Good.” Gerald menepuk pelan pundak orang itu seraya menarik sudut bibir. Satu langkah lagi dia bisa lebih dekat dengan Cathleen. “Kau bilang pada atasanmu kalau mengundurkan diri detik ini juga dan segera pergi, jangan antarkan dia kemanapun,” titahnya kemudian.
Gerald memberikan uang muka terlebih dahulu supaya supir itu mau menjalankan perintahnya, dan juga kartu nama perusahaannya. Dia kembali memantau dari seberang jalan, menanti waktu yang tepat untuk tiba-tiba muncul layaknya pahlawan kesiangan.
__ADS_1
Cathleen baru saja keluar dari perusahaannya dan hendak menuju lokasi proyek. Dia langsung menghampiri mobilnya tapi mendadak berhenti ketika supir menundukkan kepala padanya dan mengajak berbicara.
“Nona, maaf, saya tidak bisa melanjutkan bekerja dengan Anda.”
“Kenapa?”
“Karena ada perusahaan lain yang memberikan penawaran lebih tinggi. Berhubung kebutuhan keluarga sedang meningkat, jadi terpaksa harus diambil.”
“Ya sudah tidak apa, nanti aku cari supir baru. Sekarang tolong antarkan ke lokasi proyek dahulu, ya?”
“Maaf, Nona, saya berhenti mulai sekarang.” Supir itu menyerahkan kunci mobil. Dia mendundukkan kepala dan langsung pergi begitu saja.
Cathleen sampai melongo melihat tingkah supir yang baru satu bulan bekerja dengannya. Sungguh tak sopan, baru mengajukan berhenti tiba-tiba sudah melarikan diri begitu saja. Ingin kesal tapi percuma juga orangnya telah pergi.
“Sudahlah, ku kendarai sendiri saja.” Cathleen yang tadinya hendak masuk ke tempat duduk bagian belakang, akhirnya mengayunkan kaki dan berhenti di dekat pintu bagian pengemudi.
Waktu yang tepat untuk Gerald muncul sebelum mantan istrinya masuk ke dalam kendaraan. Dia keluar dari persembunyian, seolah-olah sedang berjalan-jalan di sekitar sana. “Cath, mau pergi?” tanyanya sedikit basa-basi.
__ADS_1
...*****...
...Kau sih telat bucinnya Ge...