
Selesai kantor, Cathleen tidak langsung pulang, dia menyempatkan diri untuk belanja di super market karena mengingat di dalam kulkas Gerald yang kebanyakan berisi minuman beralkohol.
Cathleen menyembunyikan mata sembab karena menangis setelah didatangi Edbert. Ia tidak mau orang-orang melihatnya iba karena berwajah menyedihkan saat berbelanja. Kacamata hitam adalah solusinya.
Cathleen membeli bahan makanan apa saja yang mudah dibuat atau bisa langsung dimakan tanpa perlu memasak terlebih dahulu. Ia tidak pandai urusan dapur, jadi memilih untuk tak merepotkan diri sendiri dengan belajar memasak karena hidupnya sudah terlalu pusing untuk bekerja. Toh, sekarang sudah serba lengkap dan praktis. Tak lupa susu dan camilan juga dimasukkan ke dalam keranjang.
Selesai berbelanja, Cathleen juga menyempatkan untuk membeli dua hidangan di sebuah restoran untuk makan malamnya dan Gerald. Barulah ia pulang ke apartemen milik suaminya tersebut.
Kali ini Cathleen bisa langsung naik ke tempat tinggal Gerald karena sudah diberikan kunci berupa kartu yang bisa untuk akses lift.
Pintu itu terayun ke dalam. Cathleen menginjakkan kaki di apartemen saat hari sudah malam, walaupun langit belum terlihat gelap di sana.
__ADS_1
“Ge?” panggil Cathleen. Suasana nampak sangat sepi, tak ada lampu yang hidup, seperti tak ada penghuni di dalam sana.
Cathleen pun menghidupkan penerangan di apartemen tersebut. Berjalan perlahan ke dapur untuk meletakkan belanjaan sebanyak dua kantung besar yang ia bawa seorang diri sampai ke sana.
Untuk memastikan apakah Gerald di kamar atau tidak, Cathleen membuka semua ruangan. “Apa Gerald masih bekerja?” gumamnya karena mendapati semua kosong.
Kedikan bahu pun Cathleen gunakan sebagai jawaban. Miris sekali, dia yang bertanya, dia juga yang menjawab. “Mungkin lembur.”
Cathleen memilih untuk menyusun belanjaan ke dalam kulkas. Ia yang tak pernah melakukan hal itu saat di mansion Pattinson atau Grisham, kini harus belajar lebih mandiri karena Gerald tidak suka ada orang asing yang membersihkan apartemen tersebut.
Jam sembilan malam, tetap saja Gerald belum pulang. Perut Cathleen sudah sangat lapar. “Apa aku makan terlebih dahulu? Gerald tak masalah jika ku tinggal?” gumamnya seraya melihat ke arah dua hidangan yang tadi dibeli dan sudah disajikan di atas piring.
__ADS_1
Tak kuat, Cathleen pun duduk di meja makan. Sebelum makan malam seorang diri, ia melihat ke arah hidangan di piring yang ada di hadapannya. Itu untuk Gerald. Wanita itu mengulas senyum. “Mungkin Gerald sibuk, jadi tidak bisa menemaniku makan malam,” gumamnya mencoba untuk tetap tegar menjalani jalan hidup yang sudah menjadi pilihannya.
Karena di sana tidak ada pelayan, Cathleen merasa dituntut harus bisa membersihkan piring kotor sisa makannya. Ia mencuci piring, lalu meminum susu.
Cathleen mencoba menunggu Gerald pulang dengan duduk di meja makan. Tapi pria itu tak kunjung sampai di sana, hingga tak terasa ia tertidur dengan posisi duduk dan kepala menelungkup di atas meja yang berbantalkan tangan saja.
Sementara itu, orang yang dinanti sejak tadi ternyata sedang mencari sang kekasih bersama Tuan Eleanor. Dan karena sudah dini hari, ia pun mengantarkan pria paruh baya itu ke manision Eleanor.
“Sudahlah, Gerald. Sepertinya memang kita harus merelakan anak bungsuku itu. Mungkin dia telah tenang di alam sana. Sudah tiga tahun tapi tak pernah kita temukan jasadnya. Bisa jadi sudah dimakan oleh ikan di laut,” ucap Tuan Eleanor seraya menepuk pundak pria yang terlihat sangat mencintai putrinya dan masih mengharapkan salah satu anaknya yang hilang itu masih hidup.
...*****...
__ADS_1
...Janganlah mengharapkan seorang pria yang belum selesai dengan masa lalunya itu bisa dengan mudah luluh setelah mendapatkan orang baru. Tidak Cathleen, orang setia seperti Gerald sulit digoyahkan hati dan pendiriannya. Kamu punya suami tapi seperti suami bohongan. Udah bener hidup sama Edbert yang kaya api unggun, malah milih salju abadi....