Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 206


__ADS_3

Cathleen menggelengkan kepala pelan. “Belum.”


“Kenapa? Dia juga berhak tahu.” Edbert sudah mengatakan berkali-kali kepada Cathleen supaya memberikan informasi kalau sedang hamil.


Edbert adalah orang yang pertama kali tahu tentang hal tersebut. Bukan karena Cathleen yang memberi tahu, tapi dialah yang membawa wanita itu ke rumah sakit karena selang beberapa hari setelah perceraian, Cathleen terlihat sangat pucat. Ternyata sedang hamil, dan sekarang terhitung tiga bulan.


Kepala Cathleen menunduk dengan wajahnya berubah sendu. “Biarkan dia menyelesaikan urusan dengan masa lalu, aku tidak ingin membuat fokusnya terpecah. Lagi pula, aku sudah pernah membohongi Gerald, dan sejak itu dia seperti kurang percaya dengan apa pun yang ku ucapkan.”


Edbert menggeserkan kursinya supaya semakin dekat dengan Cathleen. Dia membawa kepala wanita yang sampai detik ini masih dicintai untuk bersandar di bahunya. “Aku paham dengan yang kau rasakan, mungkin hatimu masih takut akibat masa lalu yang kurang mengenakkan. Tapi, sampai kapan kau akan menyimpan rahasia ini?”

__ADS_1


“Sampai aku yakin kalau Gerald mencintaiku sepenuhnya,” balas Cathleen. Jika di hadapan mantan suami, dia tidak menangis sedikit pun. Tapi, sekarang air matanya menetes di bahu Edbert.


“Dia pasti akan memberikan kasih dan cinta sebanyak mungkin kalau tahu kau sedang hamil anaknya. Tidak mungkin fokusnya terbagi dengan Chloe lagi. Jadi, segeralah beri tahu Gerald sebelum terlambat.” Edbert berusaha menasihati. Dia benar-benar sudah berubah, tidak memaksakan diri ingin memiliki Cathleen lagi. Tapi, perasaannya tetap sama, akan selalu mencintai wanita itu sepenuh hati meskipun tahu tak akan bisa dia miliki. Sebab, mau berusaha bagaimanapun, perasaan Cathleen sudah paten untuk Gerald.


Cathleen menarik kepalanya supaya tidak menyandar di bahu Edbert lagi. Dia menggeleng pelan sebelum menjawab. “Aku tak ingin dicintai hanya karena seorang anak, Gerald sudah pasti akan menyayangi anak ini karena darah dagingnya sendiri. Tapi, bagaimana dengan aku? Apakah sudah memenuhi hatinya? Apakah kejadian sebelumnya tidak akan terulang lagi? Apakah aku tetap bukan prioritasnya?” Tangannya sembari mengusap perut yang sebenarnya sudah sedikit terlihat buncit kalau pakaiannya ketat. “Pertanyaan itu selalu berputar di kepalaku, membuatku takut merasakan patah untuk kedua kalinya.”


Tapi tetap Cathleen menggelengkan kepala. “Hatiku belum cukup kuat untuk menerima kenyataan pahit. Masa lalu yang ku lewati cukup menyakitkan.”


“Baiklah, asalkan kelak anak-anakmu tidak kekurangan kasih sayang, dan kau tetap harus mengenalkannya pada Daddy biologis mereka. Kalau Gerald tidak percaya itu anaknya, tak masalah, masih ada aku yang siap mengasihi.” Edbert menepuk pundak Cathleen supaya berhenti bersedih. Dia tahu kalau wanita itu hanya berpura-pura terlihat kuat di luar, padahal dalamnya melow.

__ADS_1


Itulah sebabnya Edbert mengajukan permohonan kerja sama di proyek terbaru perusahaan Cathleen. Tentu saja supaya dia bisa lama berada di Helsinki sementara kantornya ada di New York. Dia tidak mungkin berada di kota ini tanpa melakukan apa pun atau dalam artian menganggur. Sekaligus agar bisa menjaga wanita yang sedang hamil itu.


Cathleen menyeka air matanya dan mengulas senyum lagi. “Sudah, tujuan kita untuk membahas desain, kenapa suasananya justru menjadi haru seperti ini.” Dia berusaha mengembalikan pada topik yang semestinya.


Edbert semakin kagum dengan Cathleen karena wanita itu pasti langsung bisa mengulas senyum, walaupun ia tahu kalau sedang dipaksakan untuk terlihat bahagia dan baik-baik saja. “Baiklah, aku sudah membuat rancangannya.” Dia mengeluarkan iPad untuk memulai perbincangan masalah pekerjaan.


...*****...


...Ed, mendingan tempramen lagi aja deh, kalo jadi baek begini tuh bikin orang bingung, takutnya kau dikira lagi kesambet setan...

__ADS_1


__ADS_2