Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 106


__ADS_3

Gerald berhenti tepat di belakang sang istri. Dia merengkuh pinggul Cathleen seraya menyandarkan kepala di bahu wanita yang sudah menemani hidupnya selama empat setengah bulan. Semua dilakukan hanya ingin menumbuhkan getaran rasa dengan membiasakan diri untuk menyentuh istri.


“Aku ke ruang games dulu, ya?” Gerald berpamitan dengan mengeluarkan suara berbisik di telinga Cathleen.


Kepala Cathleen mengangguk tanpa menghentikan gerakan tangan yang tengah membersihkan alat makan kotor. “Mau bermain game?” tanyanya seraya sedikit menengok ke samping hingga pipi bersentuhan dengan rambut Gerald.


“Iya, nanti kau langsung tidur saja, jangan menunggu karena malam ini ada game baru yang ingin akucoba.” Gerald tiba-tiba melabuhkan sebuah kecupan sekilas di pipi Cathleen. “Selamat malam.” Dia mengacak-acak rambut sang istri terlebih dahulu sebelum meninggalkan wanita itu sendirian di dapur.


Cathleen melihat punggung Gerald yang mulai menjauh dan hilang tertutup pintu di mana ruang games berada. “Apa dia tak pusing setiap hari bermain game terus?” gumamnya sangat lirih.


Cathleen tidak berani mengajukan protes pada Gerald saat pria itu terlihat tidak memiliki pekerjaan lain kecuali bermain game sampai dini hari. Bahkan hingga detik ini, dia belum pernah melihat sang suami berangkat bekerja atau menyelesaikan urusan kantor.


“Untung saja aku rajin bekerja, jadi tak perlu bergantung pada pria,” tutur Cathleen seraya meniriskan piring terakhir yang dia cuci.

__ADS_1


Wanita yang sudah diakui sebagai istri oleh Gerald pun mengeringkan tangan menggunakan handuk kecil yang ada di dapur. Setelah menyelesaikan tugas, Cathleen ingin melihat wajah sang suami sebelum tidur.


Membuka pintu secara perlahan, Cathleen langsung disambut dengan senyum samar yang nampak manis.


“Kau membutuhkan sesuatu?” tanya Gerald. Dia sampai menghentikan tangan yang hendak memasang headphone karena mendengar ada suara pintu terbuka.


Masih di ambang pintu, Cathleen bersuara. “Tidak, aku hanya ingin mengingatkanmu, jangan sampai lupa waktu kalau sudah bermain game.”


“Sini.” Gerald justru merespon dengan memberikan isyarat tangan supaya Cathleen mendekat.


Tapi secara tiba-tiba, Gerald menarik tangan Cathleen hingga tubuh wanita itu terjatuh di pangkuan pria yang tengah berusaha memberikan kehangatan hubungan pernikahan.


Cathleen menelan saliva saat jarak dengan Gerald sangat tipis. ‘Ah sialan! Jantungku berdebar sangat kencang! Semoga Gerald tak mendengar.’ Dia sampai berdoa dalam hati karena saat ini sedang grogi, takut kalau diterkam oleh suami karena belum siap.

__ADS_1


“Tegang sekali wajahmu, sudah seperti orang mau ujian saja.” Gerald justru mencoba mengeluarkan candaan agar Cathleen tidak kaku ketika berada dalam jarak dekat dengannya. Ia saja santai ketika melakukan pendekatan, tapi justru merasa kalau istrinya yang ketakutan.


Cathleen menunjukkan rentetan gigi yang terkesan kaku. “Aku belum siap jika kau meminta hak sebagai suami.”


Gerald justru terkikik mendengar alasan Cathleen. Tangannya sampai memporak porandakan rambut sang istri. “Jangan khawatir. Aku bukan orang yang pemaksa.”


Gerald memang belum ingin bercinta dengan Cathleen. Tapi, dia meraih dagu sang istri hingga wajah manis tersebut sedikit mendongak. “Malam ini kita berciuman dulu.”


Tidak perlu menunggu persetujuan, Gerald langsung menyatukan bibir dengan wanita yang perlahan masuk ke dalam hati dan sedikit demi sedikit menggeser tahta Chloe.


Ciuman itu tidak berlangsung lama. Sebab, Gerald yang menyudahi karena dia merasakan jantung Cathleen terasa jelas sedang berdendang.


“Hati-hati, jangan sampai terkena penyakit jantung saat muda.” Gerald menggoda sang istri seraya menyatukan telapak tangan di dada Cathleen.

__ADS_1


...*****...


...Info ngantemi Gerald dong. Kalo dibiarin berdua terus ntar muncul lagi pasangan bucin karena benih-benih cinta mulai tumbuh. Meresahkan!...


__ADS_2