
Salah satu anggota Cosa Nostra datang hanya memberi tahu kalau Gerald dicari oleh Cathleen. Tapi, yang membuat reaksi semua orang di dalam ruangan itu tercengang adalah wanita itu datang dengan wajah sudah berderai air mata.
Gerald dan Edbert otomatis berdiri secara bersamaan. Keduanya hendak menenangkan Cathleen. Tapi, pria bernama sebanyak tujuh suku kata itu berhenti di tengah jalan saat melihat Gerald sudah merengkuh wanita yang masih mengisi relung hati.
Edbert kembali sadar diri bahwa ia bukanlah siapa-siapa. Hanya pria yang mencintai tapi tak lagi memiliki.
“Kenapa kau menangis?” Lebih baik Edbert mengajukan pertanyaan saja pada wanita yang saat ini sedang berada dalam rengkuhan Gerald.
“Fay—dor da—n Gal—tero.” Cathleen terbatah-batah saat mengucapkan dua nama anaknya.
“Kita duduk dulu, atur napas supaya lebih tenang.” Gerald menuntun sang istri untuk ke kursi, lalu duduk saling bersebelahan supaya bisa tetap memeluk.
Edbert pun ikut kembali menghempaskan pantat di tempatnya semula. Kedua bola mata tidak bisa lepas dari sosok yang sedang bersedih. “Ada apa dengan keponakanku?”
“Mereka menghilang.” Cathleen menangis semakin histeris. Gerald berusaha menenangkan dirinya.
__ADS_1
Tapi, berbeda dengan reaksi Edbert yang langsung mengepalkan tangan. “Gretta sialan!” geramnya dengan suara lirih. Tak ada lagi orang yang patut dicurigai kecuali wanita psikopat itu.
Gerald tak akan menyalahkan istrinya atas kejadian tersebut. Dia justru menepuk pelan punggung Cathleen supaya lebih tenang dan bisa menceritakan kronologi secara detail.
Saat dirasa Cathleen sudah mulai sedikit tenang, barulah Gerald mengajukan pertanyaan. “Bagaimana ceritanya sampai kedua anak kita hilang?”
Jujur, Gerald sebenarnya khawatir. Tapi tidak terlihat dari mimik wajah datar dan suara, masih bisa menyamarkan dengan reaksi tenang. Bahkan tangan kekar itu pun sempat mengusap pipi sang istri begitu lembut dan menenangkan.
Jika dalam kondisi seperti ini tidak ada satu pun yang menenangkan, pasti suasana justru akan kacau.
“Lalu, saat mengetahui mereka menghilang, apa kau langsung ke sini?” Roxy ikut mengajukan pertanyaan juga karena ini penting.
“Ya.” Kepala Cathleen mengangguk lemas.
Roxy segera berdiri, menekan tombol di sebuah interkom, menghubungi bagian keamanan gedung Cosa Nostra. “Tutup seluruh pintu, jangan boleh ada yang keluar masuk!” titahnya. Kalau kejadian belum lama, pasti pelaku masih ada di dalam.
__ADS_1
“Tolong cek CCTV juga,” imbuh Gerald. Dia masih berusaha membuat Cathleen berhenti cemas berlebih. “Tenang, kami pasti menemukan Faydor dan Galtero dalam kondisi selamat.”
Melihat wanita yang sangat dicintai nampak begitu sedih, Edbert pun sudah bulat akan segera menghabisi Gretta si psikopat yang tak kunjung berani memperlihatkan batang hidung.
“Roxy, tolong kau kirim titik lokasi tempat tinggal wanita itu!” titah Edbert, yang dimaksud adalah Gretta.
“Oke.”
Tak berselang lama, Edbert mendapatkan pesan masuk. Dia segera membuka GPS. Kedua mata kini beralih melihat Cathleen dengan perasaan ingin sekali memeluk. Meskipun sekali dan mungkin terakhir. Sebab, apa yang akan dia lakukan setelah ini memiliki risiko besar dan taruhannya adalah nyawa.
Edbert memberanikan diri untuk meminta izin pada Gerald karena pria itu adalah pemilik Cathleen sepenuhnya. “Ge, boleh aku berbicara empat mata dengan istrimu, sebentar saja? Aku janji tak akan macam-macam.”
...*****...
...Sebentar Uncle Ed, malaikat maut mau dandan dulu, biar nanti aku udah cantik pas ambil nyawamu...
__ADS_1