
“Apa kau ingin melihat aurora?”
Pertanyaan yang terlontar dari seorang Gerald bukanlah tanpa alasan. Ia melihat kalau Cathleen sejak tadi memandangi sebuah gambar di layar ponsel yang menunjukkan fenomena alam yang menghasilkan pancaran cahaya di langit dengan warna sangat indah.
“Ya, sudah lama aku tak melihat itu. Mungkin terakhir kali saat usiaku dua belas tahun,” jawab Cathleen seraya mematikan layar ponsel agar tak dilihat oleh Gerald lagi.
“Kalau ingin, kenapa tak pergi saja untuk melihat?”
“Tak ada orang yang bisa menemani ke Lapland, keluargaku memiliki kesibukan masing-masing, dan aku pun tak memiliki teman dekat,” keluh Cathleen seraya membenamkan kepala di dada bidang suaminya.
“Oh ....” Gerald tidak menanggapi lagi, bahkan tak berinisiatif untuk mengajak Cathleen melihat aurora. Memang dasar pria, ternyata hanya bertanya sekedar ingin tahu.
Keduanya pun melanjutkan dengan makan malam bersama, dan tak lama setelah itu tidur dalam posisi seperti awal ketika di sofa.
...........
__ADS_1
Tiga hari berlalu, Gerald mendadak sudah mengemasi pakaiannya dan juga milik Cathleen. Ia membawa tas jinjing untuk dimasukkan ke dalam bagasi mobil, lalu pergi menuju perusahaan sang istri tanpa pemberitahuan terlebih dahulu.
Tumben sekali seorang Gerald mau keluar menggunakan kendaraan pribadi ketika winter. Biasanya ia malas kemanapun. Mungkin kehadiran Cathleen dalam hidupnya mulai memberikan perubahan atau ada sesuatu yang ingin dilakukan pria itu.
Gerald langsung menemui Cathleen di ruang kerja wanita itu. Kehadiran pria berparas tampan tersebut membuat si manis terkejut.
“Ge? Kenapa kau ke sini?” Tentu saja Cathleen bertanya karena sejak salju turun selama satu bulan lebih, suaminya tak pernah mau keluar satu langkah pun dari apartemen. Bahkan membeli bahan makanan pun menggunakan kurir.
“Menjemputmu,” jawab Gerald dengan santai. Ia mendekati kursi Cathleen dan melabuhkan kecupan di puncak kepala sang istri. “Kau tidak senang aku datang?” tanyanya diiringi usapan lembut di puncak kepala.
“Tentu saja aku senang, hanya terasa aneh saja tiba-tiba kau datang saat beberapa hari yang lalu mengatakan jika tak suka keluar dari apartemen ketika winter.”
“Pergi? Ke mana?” Cathleen menaikkan sebelah alis ketika tangannya ditarik oleh Gerald dan pria itu sudah membawakan tas miliknya.
“Ke suatu tempat yang sangat ingin kau tuju.” Gerald menggenggam tangan Cathleen. Secara terang-terangan ia menunjukkan pada umum kalau wanita yang berjalan bersama dengannya adalah istrinya.
__ADS_1
Cathleen saja sudah lupa di mana tempat yang ingin dituju. Tapi, ia pasrah ketika tubuh dimasukkan ke dalam mobil, dan kendaraan itu mulai melaju pelan karena jalanan licin.
“Kenapa jauh sekali kau membawaku pergi?” tanya Cathleen saat perjalanan mereka tak kunjung sampai.
“Bukankah kau ingin melihat aurora? Aku sedang membawamu menuju Lapland.”
Kedua bola mata Cathleen sampai membulat sempurna. Seakan ia tak percaya dengan jawaban Gerald. “Tempat itu jauh sekali, tiga belas jam lebih untuk sampai ke sana.”
“Tak masalah, anggap saja ini adalah permintaan maafku setelah semua yang ku lakukan padamu,” jelas Gerald seraya mengusap permukaan tangan Cathleen dan tak lupa senyuman manis dari wajah tampan itu.
...*****...
...Ge ... sekarang kamu meresahkan. Aku gak suka ya kamu perhatian sama cewek lain! Lagian apa bagusnya si Keket sih? Dia tuh menye-menye, mendingan aku kemana-mana....
...*****...
__ADS_1
...Ini aurora namanya ya bestie, bukan nama orang atau pelakor di cerita ini. Soalnya pelakornya bernama NuKha kalo di sini wkwkwk...