
Gerald melihat satu persatu orang yang masih ada di dalam sana. “Kenapa kalian tetap di sini dan tidak keluar? Memangnya mau melihat aku melakukan itu?” tanyanya bermaksud mengusir.
“Jelas kami harus tetap di sini, nanti kau melewati batas yang semestinya,” jawab Mommy Gabby yang tak mau beranjak pergi.
Helaan napas keluar dari bibir Gerald, ia menatap Daddy George dan Papa Danzel. “Kalian berdua, keluarlah, aku tak ingin berbagi,” usirnya secara jelas.
“Baiklah, tapi kau jangan berbuat yang lain,” peringat Papa Danzel.
“Iya.”
Dua pria yang umurnya terpaut jauh dari Gerald itu meninggalkan ruang rawat Cathleen. Sedangkan istri mereka justru memandangi apa yang hendak dilakukan oleh si Daddy baru beranak dua.
Gerald membuka tiga kancing pakaian pasien. “Aku bantu, ya?”
Cathleen mengangguk sedikit malu, sudah lama tidak melakukan seperti ini dengan Gerald. “Pelan.”
__ADS_1
Dalam hati Gerald begitu gembira karena setelah sekian lama akhirnya ia bisa merasakan menyentuh bagian tubuh wanitanya lagi. Dia segera mencondongkan kepala ke arah dada Cathleen. Tapi, belum selesai melakukan untuk meletakkan mulut di bagian yang semestinya, ada suara yang mencegah.
“Loh, Tuan, Anda ingin melakukan apa?” Dokter yang baru saja masuk hendak memeriksa pasiennya justru terkejut melihat pasangan di ruang VVIP itu karena nampak terlalu intim.
“Dia belum keluar ASI, jadi aku ingin bantu merangsangg.” Astaga ... begitu jujurnya Gerald, hal seperti itu pun ia tak bisa berbohong dan tak malu untuk menjawab dengan frontal.
“Oh, tidak perlu kalau bagian ujung Nona Cathleen sudah menonjol.” Dokter itu mengayunkan kaki mendekati ranjang pasiennya. “Langsung saja posisikan bayi untuk menyusu Mommynya, nanti pasti bisa sendiri sembari melatih anak-anak Anda supaya mengenal orang tuanya.” Dia membenarkan letak si mungil yang sedang berada di dekapan Cathleen.
Gerald menghela napas kecewa. Padahal sudah semangat menggebu-gebu ingin mendahului dua anaknya. Ternyata gagal.
Cathleen yang melihat mimik wajah Gerald nampak kesal pun terkikik karena baru kali ini pria itu menunjukkan sisi lain dan tidak datar terus.
“Iya,” balas Gerald dengan singkat dan diakhiri sebuah decakan sebal.
Tentu saja reaksi Gerald memancing gelak tawa dua wanita yang duduk di sofa dan menatap ke arah ranjang pasien.
__ADS_1
“Gerald, Gerald, setelah jadi duda kau justru semakin menggemaskan.” Mommy Gabby sampai tak habis pikir dengan perubahan putranya, kenapa harus ketika berpisah baru mencair.
“Jangan mengejekku, Mom,” tegur Gerald.
“Sudah, tak perlu muram, sekarang Cathleen milik anak-anaknya, bukan kau lagi,” tutur Mama Gwen. “Lebih baik berikan nama pada mereka berdua daripada kau hanya berdiam diri menatap putriku dengan wajahmu yang ingin seperti bayi itu.”
‘Hah! Tahu saja mantan mertuaku itu,’ gumam Gerald dalam hati. “Aku sudah memikirkan nama untuk mereka.”
“Oh, ya? Apa?” sahut Cathleen yang penasaran. Bahkan ia saja belum terpikirkan sama sekali, padahal dirinya yang mengandung selama sembilan bulan.
“Kau sangat penasaran?” Gerald menatap licik ke arah Cathleen yang masih mencoba menyusui anaknya.
“Ya.” Kepala Cathleen mengangguk.
“Cium dulu, nanti ku beri tahu.” Gerald menunjuk bibirnya, mencari kesempatan selagi bisa dan belum dikuasai dua bayi mungilnya.
__ADS_1
...*****...
...Wuakakak cian deh lu Ge GATOT, GAGAL TOTAL! Gak jadi dapet poin, mamam tuh mupeng...