
Sudahlah, Cathleen pusing sendiri memikirkan siapa orang yang selalu mengirim uang ke rekeningnya dalam nominal banyak. Bahkan satu bulan saja tak selalu habis, tapi tetap rutin mendapatkan notifikasi di tanggal yang sama.
Cathleen pernah mencoba kembali mengirim uang itu, tapi selalu masuk ke rekeningnya terus. Hingga membuatnya pasrah saja. Tapi ada takut juga karena ia tak tahu sumber uang tersebut.
Daripada pusing memikirkan dana yang dia pikir salah kirim, Cathleen lebih baik pelan-pelan menyingkirkan tangan Gerald yang melingkar di tubuh rampingnya. Dia harus bersiap untuk ke kantor.
Cathleen meninggalkan ponsel di atas nakas, tubuhnya pun masuk ke dalam kamar mandi. Hanya sepuluh menit, ia sudah keluar lagi dan langsung ke walk in closet. Ruangan itu sudah menjadi miliknya dan sang suami, mereka telah berbagi tempat untuk menyimpan barang.
Cathleen segera keluar setelah rapi dan wangi. Ia terkejut tat kala suaminya sudah tak ada di atas ranjang lagi. “Di mana Gerald?”
Cathleen berhenti mengedarkan pandangan saat melihat pintu kamar yang sedikit terbuka. “Pasti sedang minum.” Dia sudah hafal dengan kebiasaan Gerald yang selalu minum setelah bangun.
Tangan Cathleen meraih tas, memasukkan ponsel ke dalam sana. Kaki pun segera terayun menuju pintu.
Benar sekali dugaan Cathleen, Gerald memang sudah bangun. Kedua bola mata bulat itu melihat sang suami sedang menuangkan susu ke dalam sebuah mangkuk, seperti tengah menyiapkan sesuatu karena tidak satu saja yang ada di depan Gerald.
“Aku menyiapkan cereal untuk sarapan.” Gerald mendorong salah satu mangkuk ke sisi meja di hadapannya.
__ADS_1
“Tumben sekali kau sudah bangun?” Cathleen bertanya seraya duduk di kursi yang biasa dia tempati.
“Aku mencoba berubah,” jelas Gerald. Tak terlalu berat baginya untuk menghilangkan sisi buruk, asalkan sudah dilandasi oleh niat.
Gerald sudah bertekad untuk perlahan merubah pola hidup yang terlihat pemalas. Dia ingin menyamakan jam operasional tubuh seperti Cathleen. Pagi sampai sore untuk bekerja, sedangkan malam istirahat. Lebih mudah juga untuk melakukan pendekatan jika seperti itu.
“Kenapa? Apa kau sudah bosan bermalas-malasan?” Dengan polosnya Cathleen bertanya seperti itu. Apa lagi mulut yang sedang mengunyah makanan, membuatnya terlihat menggemaskan.
Untung saja Gerald tidak mudah tersinggung jika dianggap malas. “Agar waktu luang kita sama. Jadi, kalau ingin keluar berdua tak perlu mencari waktu kosong.”
Cathleen menatap aneh ke arah Gerald. “Bukankah waktumu setiap hari selalu luang? Buktinya bisa bermain game terus.”
Cathleen cukup menjawab dengan cengiran. Rasanya dia ingin meminta Gerald untuk bekerja agar tak bermalas-malasan terus. Tapi takut menyinggung perasaan. Lebih baik mengalihkan pembicaraan saja, dan dia teringat belum menceritakan tentang uang yang masuk ke dalam rekening.
“Em ... Ge?” panggil Cathleen.
“Ya?” Gerald menatap dengan sorot mata teduh. Tidak ada sisi dingin, tajam, segala yang menyebalkan dari pria itu sudah perlahan menghilang.
__ADS_1
“Tadi malam ada yang mengirimkan uang padaku.” Cathleen mengambil ponsel, menunjukkan sebuah notifikasi ke Gerald.
Gerald hanya melihat sekilas, cukup membaca nominal saja. “Oh, baguslah.”
“Kenapa bagus? Justru aku takut.” Cathleen menyimpan ponselnya ke dalam tas lagi.
“Untuk apa takut? Dapat uang seharusnya bersyukur.” Gerald tidak menunjukkan gelagat aneh sedikit pun. Bahkan dia tak memberitahukan kalau itu adalah darinya.
“Bisa jadi uang hasil penggelapan seseorang, atau korupsi, lalu mereka mengirim ke nomorku agar tak ketahuan. Aku takut dipidana,” keluh Cathleen.
Gerald bergeleng kepala diiringi sebuah senyum lucu yang samar. “Kalau itu uang penggelapan, pasti kau sudah dicari oleh pihak berwajib. Nyatanya sampai sekarang pun masih aman saja.”
“Tapi uangnya banyak sekali, aku ingin mengembalikan pada orang yang bersangkutan, tapi selalu kembali padaku.”
“Sudahlah, terima saja. Tandanya orang itu memang sengaja mengirim untukmu.” Gerald tidak mau ketahuan kalau sejak awal menikah selalu memberikan nafkah secara diam-diam. Toh istrinya juga menganggap pengangguran.
...*****...
__ADS_1
...Ati-ati duit haram Cath. Suamimu itu kayanya bandar narkoboy, mau ikutin jejak bapak tirinya keknya. Ih seremmm...