
Cathleen mengikuti arahan resepsionis, ia duduk di sofa yang disediakan untuk tempat tunggu atau bisa juga bersantai. Wanita itu mencoba untuk menghubungi Gerald, supaya suaminya menjemput di lobby. Tapi, panggilan yang dilakukan oleh Cathleen itu tak tersambung.
“Apa ponsel Gerald mati? Atau nomor ini sudah tak aktif lagi?” gumam Cathleen seraya menjauhkan ponsel dari daun telinga untuk melihat profil whatsapp milik suaminya. “Tidak ada foto. Coba aku chat.”
Cathleen pun mengetikkan sebuah pesan pada Gerald, berisi tentang pemberitahuan kalau dirinya berada di lobby apartemen milik pria itu. “Huft ... centang satu,” keluhnya.
Untuk memastikan sekali lagi, Cathleen menelepon menggunakan nomor biasa, bukan melalui aplikasi whatsapp lagi. “Tetap saja tidak tersambung.” Bibirnya manyun dan ditekuk. “Apa dia menghindariku?”
Cathleen tidak menyerah sampai di situ saja. Ia mencoba bertanya pada Geraldine, tapi tidak tersambung juga. “Aku lupa, dia ‘kan sedang perjalanan ke Paris.”
Helaan napas pelan keluar dari bibir Cathleen. Ia menelungkupkan layar ponsel ke atas tas yang dipangku di atas paha. Tubuh perlahan bersandar di sofa. “Ku tunggu saja Gerald sampai turun atau pulang,” gumamnya.
__ADS_1
Tidak lucu juga kalau ia membeli apartemen sendiri di sana, sedangkan memiliki suami yang tinggal di gedung pencakar langit tersebut. Belum lagi kalau Edbert masih tak menyerah untuk membawa dirinya pergi atau bermaksud memisahkannya dari Gerald. Walaupun Cathleen belum mencintai suaminya, tapi pria itu bisa membantu menjauhkan dari Edbert si manusia overprotective.
Menunggu terlalu lama membuat Cathleen tak sadar sudah terlelap di sana. Banyak penghuni apartemen itu berlalu lalang sembari melirik ke arahnya. Hingga tengah malam, barulah suasana lebih sepi karena banyak yang mulai istirahat.
Dan disaat semua orang seharusnya tidur untuk mengembalikan tenaga setelah seharian beraktivitas, justru Gerald baru saja menginjakkan kaki di lobby apartemen saat pukul dua dini hari. Ia tidak langsung naik ke lantai atas, karena ingin mengambil sesuatu terlebih dahulu di resepsionis.
Ayunan kaki Gerald menghentak dari arah lift yang dibelakangi oleh sofa di mana Cathleen tertidur. Pria itu tak tahu jika ada istrinya di sana. Sebab, pandangan mata Gerald tertuju lurus tanpa menengok ke kanan dan kiri.
“Ada paket untukku?” tanya Gerald pada resepsionis pria.
“Tunggu sebentar, Tuan.” Resepsionis itu terlihat membaca sesuatu di komputer, banyaknya daftar barang titipan tertulis di sana. Ia segera mengambil paket yang ditujukan untuk Gerald Gabriel Giorgio.
__ADS_1
“Ada satu, Tuan.” Pria itu meletakkan sebuah kotak yang tak terlalu besar ke hadapan Gerald.
“Oke, thanks.” Gerald membawa barang yang dia beli dari situs belanja online.
Gerald berjalan begitu saja melewati sofa. Tidak peduli kalau ada seseorang yang sekilas terlihat sedang tertidur di sana dengan wajah tertutup rambut. Ia tak terlalu ingin tahu juga dengan urusan orang menggembel di apartemen seelit Casa Grande, sampai menumpang tidur di lobby. Bahkan ia tak terlalu memperhatikan secara detail baju wanita yang tertidur itu, anak Tuan Giorgio fokus saja untuk menuju lantai atas di mana tempat tinggalnya berada.
Karena sistem di apartemen itu dua puluh empat jam, jadi karyawan di sana juga diberlakukan kerja shift. Resepsionis yang tadi melayani Cathleen sudah pulang, berganti karyawan pria. Dan saat pergantian shift, resepsionis yang kerja sebelumnya lupa tidak menitipkan pesan kalau sempat ada yang mencari Gerald.
...*****...
...Malang kali nasib si Cath, pengantin baru eh tidurnya di lobby apartemen wkwkwk. Dah gitu dikira gembel sama suaminya sendiri. HAHAHA *tawa jahat*...
__ADS_1