Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 209


__ADS_3

Sepanjang perjalanan menuju lokasi proyek, Gerald terus mencuri pandang ke arah Cathleen yang sejak tadi hanya diam saja. Padahal, dahulu mantan istrinya sering sekali banyak mengajukan pertanyaan. Tapi, sekarang sudah berubah drastis. Dan hal tersebut justru membuatnya tak nyaman. Dia suka Cathleen yang banyak mengajak berbicara. Walaupun seperti itu, bibir tetap saja mengulas senyum senang karena bisa berada di dekat wanita itu lagi.


Untuk menghilangkan kesunyian di dalam sana, Gerald berusaha memikirkan topik pembicaraan. “Berat badanmu sudah naik berapa? Sepertinya sangat gendut.”


“Sepuluh kilogram,” jawab Cathleen. Dia tidak tersinggung sedikit pun dikatakan gendut. Toh memang kenyataannya seperti itu.


“Dalam waktu satu bulan kau berhasil menaikkan sebanyak itu?” Nada bicara Gerald terdengar begitu heran.


“Iya, memangnya kenapa?”


“Kau tidak malu memiliki tubuh gemuk? Biasanya wanita selalu memikirkan penampilan.”


Pertanyaan itu berhasil membuat Cathleen mengalihkan pandangan dari melihat depan, kini menengok dan mengisi kornea dengan wajah Gerald. “Memangnya kenapa? Apa kau malu memiliki mantan istri yang tubuhnya sekarang melebar?”


Kepala Gerald segera bergeleng supaya Cathleen tidak salah paham dengan pertanyaannya. “Sama sekali tidak. Tapi, kau harus perhatikan juga kesehatanmu, takutnya kalau membuatmu obesitas nantinya.”

__ADS_1


“Tenang, aku rutin cek ke dokter,” balas Cathleen mengakhiri pembicaraan tersebut.


Gerald kembali diam dan fokus ke jalan. Padahal sesungguhnya otak sedang kembali bekerja untuk berpikir mencari topik lain. Itu adalah sesuatu yang sangat sulit bagi orang pendiam.


Tapi untungnya, Cathleen mulai mengajukan pertanyaan. “Bagaimana kabar Chloe?”


“Masih sama, tidak ada perubahaan.”


“Kau sudah bilang padanya kalau mengantarku? Nanti Chloe mencarimu.”


“Kenapa? Bukankah kau sangat ingin memberikan kenangan indah sebelum dia pergi untuk selamanya?”


Gerald menepikan kendaraan ketika sudah sampai lokasi proyek. Namun dia belum membukakan pintu, justru merubah posisi duduk supaya sedikit lebih miring ke arah Cathleen. Meraih tangan wanita itu untuk diusap lembut. “Entah kau akan percaya atau tidak dengan perkataanku ini, tapi kau tahu betul kalau aku tidak pernah bisa berbohong. Sejak kita bercerai, hidupku sangat kacau, tidak bisa fokus melakukan apa pun dan selalu merasa bersalah karena aku yang egois, tidak memikirkan perasaanmu pada saat berstatus menjadi istriku. Mulai saat itu, aku mengurangi intensitas bertemu Chloe karena ada wanita lain yang sangat ingin ku jumpai setiap hari.”


“Siapa?”

__ADS_1


“Kau, asalkan kau tahu, setiap hari aku selalu menguntitmu. Berharap bisa mengobati rasa rindu.”


Gawat, kejujuran Gerald beserta tatapan tajam tanpa kebohongan itu membuat dada Cathleen melompat-lompat. Dia selalu berhasil memporak porandakan perasaan.


Tapi, Cathleen mencoba untuk tetap menunjukkan ketenangan. Tidak mau gegabah dan hanyut dalam lautan cinta yang sebenarnya tidak pernah surut untuk Gerald. “Sepertinya aku harus segera turun untuk meninjau progres di proyek.”


Cathleen memutuskan pandangan mata dan melepaskan genggaman Gerald. Dia harus menjaga hati terlebih dahulu. Bukannya tidak percaya dengan penjelasan tersebut, tapi selama masih ada Chloe, hatinya masih tak cukup kuat kalau merasakan patah untuk kedua kalinya.


Gerald juga ikut turun, selain mengantarkan, dia juga akan menemani Cathleen bekerja. Tapi wajahnya berubah kecut kala melihat ada Edbert di sana.


“Loh, Cath, kenapa bisa diantarkan Gerald? Di mana supirmu?” tanya Edbert yang sudah sejak tadi menanti kedatangan Cathleen.


...*****...


...Ayo baca Deavenny’s Choice juga, udah tamat, episodenya cuma dikit, gak nyampe sejam juga udah kelar bacanya....

__ADS_1



__ADS_2