
“Itu tidak mungkin, Tuan. Nona Cathleen sudah menikah, pasti dia tak bisa datang ke New York untuk merawat Anda. Jadi, tolong jangan menyiksa diri.” Bene terus membujuk. Dia tahu tentang hubungan Cathleen yang sudah menikah pun dari Edbert sendiri.
“Dia tak datang ke sini karena belum tahu kondisiku, coba kau kabari kekasihku,” pinta Edbert. Masih saja pria itu tidak mau mengakui bahwa hubungannya dengan Cathleen sudah berakhir.
“Nomor Nona Cathleen sudah tidak aktif lagi, Tuan. Tolong berhentilah berharap, mari jalani saja kenyataan yang ada di depan mata.” Sejujurnya Bene sangat sedih dan kasian dengan atasannya itu.
“Aku hapal nomor barunya,” ucap Edbert. Tentu saja dia mendapatkan dari Tuan Pattinson.
“Jika Anda hapal, kenapa tak menghubungi sendiri?”
“Semua nomorku diblokir oleh Cathleen, coba kau saja yang menghubunginya.”
“Sebutkan berapa nomornya.” Bene mengeluarkan telepon genggam. Dia mengetikkan nomor ponsel milik Cathleen.
“Telepon di sini saja, aku ingin mendengar suaranya,” pinta Edbert.
Bene pun menuruti permintaan Edbert. Dia mulai memencet tombol telepon. Mengaktifkan loudspeaker supaya atasannya bisa mendengar.
“Tak diangkat, Tuan. Mungkin sudah tidur,” tutur Bene saat panggilan sudah dicoba sebanyak tiga kali.
“Ulangi lagi sampai dia angkat.”
__ADS_1
Bene tidak berhenti terus mencoba menghubungi Cathleen sesuai keinginan atasannya.
Sedangkan di dalam kamar di mana Cathleen sedang tidur, wanita itu mengambil ponsel yang sudah berhasil menganggu istirahatnya. Ia tak membuka mata lebar, hanya menyipit karena masih mengantuk.
Cathleen tak terlalu memperhatikan nomor yang tertera di layar. Ia langsung saja menggeser tombol hijau dan menempelkan ponsel ke telinga. “Halo?” sapanya dengan suara parau.
Hanya mendengar satu kata dari mulut Cathleen pun Edbert sudah bisa merasakan debaran di dada. “Ingin sekali memeluk tubuhmu,” gumamnya sangat lirih dan tak bisa didengar oleh wanita yang sedang dihubungi oleh sekretarisnya.
“Ada apa menelepon dini hari?” Karena tak segera dijawab, Cathleen pun mengajukan pertanyaan.
“Nona Cathleen,” panggil Bene.
“Maaf, ini siapa? Aku tidak terlalu ingat suara orang.”
Seketika itu juga Cathleen yang masih mengantuk, langsung berubah membelalakkan mata. Dia menjauhkan ponsel dan membaca nomor ponsel yang menghubunginya. Ternyata benar berkode negara Amerika.
“Nona?” panggil Bene.
“Oh, ya? Ada apa kau menghubungiku?” Cathleen mencoba tidak berpikiran buruk terlebih dahulu.
“Maaf jika mengganggu Anda. Saya hanya ingin memberitahukan kalau Tuan Edbert sedang sakit.”
__ADS_1
“Sakit apa? Apakah parah?” Cathleen memang cenderung mudah peduli dengan orang lain. Dia bahkan langsung duduk karena khawatir dengan Edbert. Ia tahu kalau mantan kekasihnya tidak memiliki sanak saudara satu pun.
Edbert adalah seorang yatim piatu sejak umur sepuluh tahun. Orang tuanya meninggal dunia akibat kecelakaan lalu lintas, murni sebuah musibah, bukan disengaja oleh seseorang. Dan ia diasuh oleh kakeknya seorang diri. Namun, satu-satunya anggota keluarganya itu akhirnya meninggal sejak Edbert mulai bisa mengelola perusahaan keluarga Grisham. Dia tidak memiliki sanak saudara satu pun.
Itulah sebabnya Edbert sangat overprotective dengan Cathleen. Dia takut kehilangan wanitanya. Satu-satunya orang yang bisa memberikan perhatian layaknya keluarga, tidak memandang dari segi harta saja, dan yang paling utama adalah sisi lembut serta penyabar yang dimiliki oleh Cathleen. Semua itu membuat Edbert menginginkan wanita berparas manis tersebut harus menjadi miliknya dan tak boleh ada satu pun orang yang melirik. Tapi, semakin diikat, ternyata bisa lepas juga.
“Infeksi lambung, Tuan Edbert juga tidak mau makan sampai sekarang. Bolehkah aku meminta tolong dengan Anda?” pinta Bene.
“Apa?”
“Bisakah Anda ke New York? Tuan Edbert hanya mau makan jika diurus oleh Nona Cathleen.”
...*****...
...Ampunnnn cari perhatian segitu amat sih Ed, aku kan jadi kasian...
...*****...
...Yuk baca karya temen aku bestie, udah tamat kok jadi gak perlu nungguin up. Langsung aja cari judulnya Story of Carla karya samudra lee...
__ADS_1
Carla, gadis berusia 29 tahun harus menerima kenyataan kalau kehidupannya harus berubah 180 derajat setelah kematian kedua orang tuanya. Perusahaan yang bangkrut, sahabat yang menjauh, kerabat yang tak mau menampungnya, dan juga kekasih yang meninggalkan dirinya dikala jatuh, semakin membuat kehidupan Carla terpuruk. Saat itulah hanya Aska Rafasya yang mau berteman dengannya, orang yang selama ini dia rendahkan.
Mampukah Carla menyesuaikan diri dengan kehidupan barunya dan bangkit dari keterpurukannya?