
Di sela menyelesaikan pekerjaan, Cathleen sesekali melihat ke arah sang suami yang sudah mengambil posisi tiduran di sofa. Jangan tanya apa yang dilakukan oleh pria itu, tentu saja bermain game.
“Game baru lagi?” Cathleen bertanya untuk menghilangkan keheningan di ruangan tersebut. Dia sampai hafal dengan kebiasaan Gerald yang selalu saja mencoba permainan online yang baru di rilis.
“Tidak, aku sedang memainkan game yang sudah tiga tahun berturut-turut berada di urutan pertama play store dan app store,” jawab Gerald, ia terus fokus pada layar sedekat satu jengkal dengan sorot matanya.
“Tumben, biasanya selalu mencoba yang baru.”
“Game ini dua hari lalu banyak bug, jadi aku ingin mencoba lagi setelah diupdate masih sering eror atau tidak,” jelas Gerald.
“Oh.” Cathleen tidak menanggapi lagi, kembali fokus pada monitor di hadapannya.
Waktu terus bergulir, karena sepasang pengantin itu fokus pada kegiatan masing-masing, sampai membuat tak terasa kalau jam pulang kantor sudah di depan mata.
Tok ... tok ... tok ...
Ketukan pintu dari luar membuat Cathleen berhenti bekerja karena sekretarisnya masuk.
__ADS_1
“Ada apa, Li?” tanya Cathleen.
“Sudah waktunya pulang, Nona.” Liliana mengingatkan atasan karena Cathleen memang sering lupa waktu jika sedang banyak pekerjaan. “Saya izin pulang terlebih dahulu.” Ia menganggukan kepala dan menutup pintu lagi setelah diperbolehkan oleh CEO perusahaan tersebut.
“Astaga ... aku sampai lupa kalau mau pergi dengan suami,” tutur Cathleen. Dia segera mematikan komputer setelah menyimpan seluruh dokumen. Perasaan menjadi tak enak karena sudah membuat Gerald menunggu lama.
Cathleen segera mengayunkan kaki mendekati sofa, Gerald ternyata sudah terlelap. Pantas saja pria itu tidak mengingatkan dirinya untuk kencan.
Cathleen tak langsung membangunkan sang suami. Dia berjongkok hingga wajah sejajar dengan si tampan tapi pengangguran. “Apakah hubungan kita yang mulai membaik bisa bertahan lama dan selamanya?” gumamnya seraya mengusap alis tebal Gerald.
“Bisa, asalkan tak ada dusta diantara kita.” Padahal mata Gerald tertutup, tapi bibir masih bisa mengeluarkan suara.
“Aku tidak tidur, hanya memejamkan mata.” Ada saja alasan Gerald untuk menjawab. Dia segera berpindah posisi menjadi duduk.
“Pekerjaanmu sudah selesai?” tanya Gerald seraya tangan menyentuh lengan Cathleen untuk diajak berdiri dan tak berjongkok di hadapannya.
“Belum, tapi tak apa, bisa aku lanjutkan besok.”
__ADS_1
“Mau pergi sekarang?” tawar Gerald seraya mengulurkan tangan ke hadapan Cathleen.
“Boleh, tapi pakaianku tak cocok untuk pergi berkencan,” balas Cathleen. Tangan kiri digunakan untuk menerima gandengan tangan Gerald, sedangkan sebelah kanan menunjuk penampilan dirinya yang serba formal.
“Tak masalah, aku sudah menyiapkan sesuatu untukmu.” Gerald berdiri diikuti oleh Cathleen.
“Menyiapkan apa?” Cathleen justru penasaran, suaminya terlalu misterius dan sulit ditebak.
“Ada, nanti kau juga tahu.” Gerald tidak ingin memberi tahu, agar menjadi kejutan saja.
Sudahlah, percuma juga mengulik informasi dari Gerald, suaminya tak akan pernah menjawab dengan benar. Lebih baik ikuti saja kemauan pria itu.
Cathleen pun masuk ke dalam mobil milik Gerald. Mereka langsung melesat menyusuri jalanan.
Tapi, tak berselang lama, Gerald menghentikan kendaraan tersebut di depan sebuah tempat yang terlihat elit dari luar. Tentu saja dahi Cathleen jadi mengkerut bingung. “Apa kita akan berkencan di sini?” tanyanya seraya menunjuk arah salon.
...*****...
__ADS_1
...Suamimu gak romantis amat Cath, yakali ngajak kencan ke salon. Hadehhh, dikira elu Betty Lapea kali ya yang perlu di make over dulu biar kaga culun. Padahal mah elu tuh Cathleen Lah Pea’ ya....