Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 126


__ADS_3

Awalnya Alceena tak mau membantu Gerald untuk menanyakan keberadaan Cathleen saat ini. Tapi, sepupu iparnya itu terus memohon untuk dibantu, membuatnya jadi kasian juga walaupun sangat dongkol ketika mendengar penyebab Cathleen pergi.


“Ini terakhir kali aku membantumu, awas saja kalau kau membuat kembaranku sakit hati lagi,” omel Alceena seraya duduk di sofa ruang keluarga. Dia baru saja menidurkan anak-anaknya.


“Hm, coba sekarang kau hubungi Cathleen, nomorku diblokir dan IP address ponselnya tak bisa ku lacak,” tutur Gerald. Dia masih menunjukkan sisi santai, padahal sedang bingung juga.


Dengan berat hati dan tidak ikhlas, Alceena pun menghubungi Cathleen. Daripada ketenangannya diganggu oleh si makhluk dari Antartika, lebih baik memberikan bantuan saja.


Sejak tadi mata Gerald tidak berkedip atau mengalihkan pandangan dari sosok wanita seksi yang tak lain adalah iparnya. Dia tidak terpesona dengan Alceena yang bar-bar, hanya tak sabar saja ingin segera tahu jawaban dari sang istri yang sedikit demi sedikit mulai memasuki relung hatinya.


“Bagaimana?” tanya Gerald. Sejak tadi Alceena tak mengeluarkan suara apa pun, membuatnya penasaran.


“Sht ....” Alceena berdesis seraya menempelkan telunjuk kanan di depan bibir agar Gerald diam.

__ADS_1


Sedangkan orang yang dihubungi ternyata sedang tidur di sebuah kamar dengan nuansa rumah kayu sederhana.


Cathleen tidak sadar kalau ada yang menghubungi ponselnya, terlalu lelah menangis membuatnya terlelap lama.


Sedangkan Edbert, pria itu justru mematikan ponsel Cathleen saat Alceena menghubungi wanita pujaan hatinya.


“Sorry, tapi Cathleen butuh ketenangan,” gumam Edbert setelah ponsel benar-benar mati. Dia menyimpan benda berharga berlayar enam koma tujuh inch tersebut ke dalam laci.


Tangan Edbert mengusap puncak kepala Cathleen dan memandang sejenak wajah cantik yang terpampang nyata di depannya. “Aku masih ingin terus bersamamu, maafkan aku kalau membawamu terlalu jauh. Terlalu sakit saat melihatmu menangis karena pria lain.” Dia melabuhkan sebuah kecupan di kening. Penuh cinta dan kasih sayang, tidak ada kekerasan ataupun paksaan, hanya saja dilakukan tanpa izin saat Cathleen tengah terlelap.


Tidak ada yang dilakukan oleh Edbert. Dia bukan pria buas pemangsa hasrat, ia hanya seseorang yang haus akan kasih sayang dan menginginkan sebuah keluarga utuh yang bahagia bersama dengan Cathleen.


Edbert keluar dari kamar yang ditiduri oleh Cathleen. Membiarkan wanita itu istirahat. Dia menyewa sebuah penginapan di dekat danau untuk waktu yang tidak ditentukan. Tapi tak lupa memberikan kabar pada Tuan Pattinson kalau Cathleen aman bersamanya, tentu saja supaya Papa Danzel memberikan kepercayaan padanya. Bukti sebuah foto yang diambil saat Cathleen terlelap pun dikirimkan pada Papa Danzel.

__ADS_1


Sedangkan Gerald, pria itu masih saja menunggu jawaban dari Alceena yang sejak tadi berusaha menghubungi Cathleen.


“Coba berikan ponselmu, biar aku yang meneleponnya.” Gerald menengadahkan tangan ke hadapan Alceena.


“Percuma, nomornya tak bisa dihubungi.” Alceena meletakkan ponsel di atas meja dan mengeraskan suara agar Gerald percaya kalau panggilan tak bisa tersambung.


“Ck! Ke mana perginya istriku?” gerutu Gerald. Sudah sore tapi ia belum juga mendapatkan kejelasan.


“Salahmu sendiri membuatnya sakit hati.” Alceena tentu saja menyalahkan Gerald.


Gerald tidak mau menunggu tanpa kejelasan. Dia akan mencari Cathleen lagi sampai ketemu. Pria itu berdiri dan menatap sang ipar. “Jika istriku sudah bisa dihubungi, tolong kau kabari aku.”


...*****...

__ADS_1


...Dih, enak aje main nyuruh-nyuruh! Cari sendirilah...


__ADS_2