Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 161


__ADS_3

Cathleen sampai tak fokus melanjutkan pekerjaan karena terus memikirkan Gerald. Dia akhirnya mengakhiri aktivitas hari ini lebih cepat dari biasanya. Namun, wanita itu takut kalau pulang akan menghadapi amarah dari sang suami, entah diabaikan atau didiamkan, ia tidak siap. Sehingga memilih untuk pergi ke mansion mertuanya. Mungkin di sana bisa mencari solusi menghadapi Gerald yang sedang marah.


Kedatangan Cathleen di mansion Giorgio pun disambut hangat oleh Mommy Gabby. Entah kenapa langsung memeluk mertuanya.


“Kau baik-baik saja, Cath?” tanya Mommy Gabby yang merasa aneh karena tidak biasa menantunya datang dan langsung memeluk seperti orang banyak masalah.


Cathleen menjawab dengan gelengan kepala. “Gerald sepertinya marah denganku, Mom.”


“Kalian bertengkar lagi?” tanya Mommy Gabby seraya mengusap punggung Cathleen yang mulai terasa naik turun karena menangis.


“Aku yang salah,” ucap Cathleen dengan suara sesegukan.


“Duduk dulu.” Nyonya Giorgio menuntun menantunya untuk menempatkan diri di sofa terdekat. “Ceritakan semua padaku.”


Dengan menundukkan kepala, Cathleen menceritakan kronologi. Mulai dari ia yang berinisiatif memberikan kejutan dengan mengganti komputer Gerald ketika pria itu sedang pergi ke luar negeri, sampai hari ini sang suami yang datang ke kantornya lalu pergi begitu saja tanpa pamit.


Mommy Gabby tahu betul kenapa anaknya sampai merespon seperti itu. Dan ia bisa menyimpulkan kalau sampai detik ini anak dan menantunya belum saling terbuka. “Jadi, kau tidak tahu seberapa penting komputer itu bagi Gerald?”

__ADS_1


“Aku tahu jika komputer itu penting untuk dia bermain game, maka dari itu aku mengganti keluaran terbaru agar Gerald lebih nyaman.”


Mommy Gabby justru mengulas senyum diiringi jemari mengusap permukaan kulit tangan Cathleen. “Berarti kau belum tahu pekerjaan suamimu?”


“Pengangguran,” jawab Cathleen dengan polos.


Dan tiba-tiba ada suara gelak tawa dari seorang wanita yang baru saja menginjakkan kaki di sana. “Tidak salah kau menganggap kembaranku pengangguran, dia memang terlihat tak memiliki pekerjaan.” Geraldine ikut bergabung mengobrol dengan ipar dan Mommynya.


“Jadi, Gerald punya pekerjaan?” Mendengar respon Geraldine yang seperti itu, membuat Cathleen menyimpulkan kalau selama ini dirinya salah menilai Gerald.


Geraldine bukannya langsung menjawab, tapi dia tertawa terbahak-bahak. “Astaga ... jadi suamimu yang sok misterius itu tidak memberi tahu apa pun tentang pekerjaannya?”


“Ck, ck, ck, suami yang keterlaluan,” ejek Geraldine.


Tangan Geraldine mengeluarkan ponselnya. Dia membuka app store, menunjukkan berbagai game online yang menduduki peringkat atas. “Kau baca nama perusahaan yang membuat.”


Cathleen membaca dengan teliti. “Semuanya sama dan game itu sering dimainkan oleh Gerald.”

__ADS_1


“Jelas saja dia bermain itu, Gerald yang membuat gamenya,” ungkap Geraldine.


Seketika itu Cathleen melongo karena baru tahu fakta tersebut. “Dia bekerja di perusahaan itu?”


“Bukan, lebih tepatnya, dia yang punya perusahaan itu,” jawab Geraldine.


Terkejut, tentu saja. Siapa yang menyangka kalau suami yang terlihat seperti seorang pengangguran, bermain game setiap hari sampai lupa waktu, ternyata memiliki perusahaan yang membuat permainan online terbesar. “Aku tak pernah melihatnya pergi bekerja, jadi aku tak tahu.”


“Dia tidak suka berangkat ke kantor, melakukan semua pekerjaan dengan komputer yang kau ganti. Itulah sebabnya dia marah,” jelas Mommy Gabby.


Geraldine tertawa lagi saat mengetahui kalau Cathleenlah yang mengganti benda kesayangan kembarannya. “Nyalimu besar juga, Cath.”


“Oke, karena kau banyak tak tahu tentang Gerald. Maka akan ku beri tahu tentang si manusia sok misterius itu.” Geraldine yang merasa kasian pada iparnya pun tak tega membiarkan Cathleen seperti orang bodoh. “Gerald jelas marah jika komputernya disentuh orang lain, apa lagi sampai diganti. Itu sudah seperti jantung hidupnya. Komputer yang kau ganti itu bukan sembarangan, memang Gerald tak pernah membeli versi lebih baru walaupun dia memiliki uang. Kau tahu karena apa?”


Cathleen menjawab dengan gelengan kepala.


“Karena komputer Gerald bukan edisi biasa, dia harus memesan dengan perusahaan yang memproduksi itu secara langsung, IP address pun miliknya khusus dan keamanannya sangat tinggi. Segala aplikasi pekerjaannya ada di sana semua. Server perusahaannya tidak bisa diakses menggunakan perangkat sembarangan. Hanya komputernya saja yang bisa, dan itu terhubung langsung dengan semua komputer di perusahaannya yang dipakai oleh karyawan. Jadi, Gerald mengontrol semua aktivitas kerja karyawan dan memantau progress dari benda keramat itu.” Geraldine menepuk pundak Cathleen sebanyak tiga kali. “Siap-siap kau didiamkan Gerald, pria itu kalau marah pasti mogok bicara.”

__ADS_1


...*****...


...Kasian amat idup lu Cing wkwkwk mau bahagia gak jadi-jadi hahaha...


__ADS_2