
Melihat Cathleen yang lemas dan sepertinya wanita itu nampak sangat pucat. Gerald pun menunggu istri sementaranya tersebut hingga sampai di mana dirinya berdiri saat ini.
“Jangan cepat-cepat jalannya,” pinta Cathleen dengan penuh harapan semoga Gerald mau mengabulkan dan memenuhi keinginan sederhananya tersebut.
Gerald bergeleng kepala saat Cathleen masih terus berusaha dan memperlihatkan kalau kuat berdiri ketika sakit. Tanpa mengeluarkan suara apa pun, tangan kekarnya langsung merangkul pundak sang istri yang tidak dicintai sampai detik ini.
Gerald membantu menopang beban tubuh Cathleen supaya wanita itu bisa lebih kuat berjalan. Dia tidak akan membopong istrinya tersebut seperti biasa saat Cathleen tertidur di sembarang tempat. Tentu saja karena mata bulat Cathleen masih terbuka, sehingga dia tak akan melakukan hal konyol tersebut. Kecuali, kalau wanita yang sedang sok kuat itu tiba-tiba tak sadarkan diri, barulah Gerald mau membopong.
Bibir pucat Cathleen mengulas senyum saat mendapatkan rangkulan dari Gerald. Ia menyempatkan menengok ke arah kiri di mana pria gagah itu berjalan di sampingnya. Walaupun Gerald tidak menoleh dan tetap menatap lurus ke depan, tapi Cathleen tetap saja mulai merasakan debaran dengan perhatian-perhatian kecil yang diberikan oleh pria itu.
Untuk lebih kuat lagi, Cathleen melingkarkan tangan di pinggul Gerald. Ia melihat reaksi suaminya apakah menolak atau tidak. Ternyata si manusia berhati dingin itu diam saja, membiarkan Cathleen memegang tubuh atletis tersebut.
__ADS_1
Walaupun sering berkata ketus, dingin, acuh, tiba-tiba mengabaikan saat diajak bicara, tapi Gerald selalu memberikan perhatian kecil pada Cathleen. Itulah yang dirasakan oleh anak Tuan Pattinson.
Tapi tidak bagi anak Tuan Giorgio. Bagi Gerald, semua yang dilakukan itu adalah bentuk menepati janji yang akan menghargai Cathleen sebagai istri dan menjaga wanita itu. Termasuk mengantarkan Cathleen berobat ke rumah sakit, dan membantu istrinya berjalan. Tidak ada unsur dorongan dari hati karena perasaan.
Meskipun seperti itu, tetap saja mampu membuat Cathleen tumbuh percikan perasaan. Karena hatinya cenderung mudah tersentuh.
Bahkan saat di dalam mobil pun Gerald membantu memasangkan seatbelt untuk Cathleen. Sampai membuat wanita itu tahan napas karena aroma wangi dari tubuh Gerald membuatnya semakin berdebar.
“Tenang, aku masih kuat sampai rumah sakit. Dekat ‘kan jaraknya?” tolak Cathleen seraya memperlihatkan rentetan gigi rapinya.
“Ck!” Gerald hanya mengeluarkan decakan. Dia malas sekali mengurus orang yang susah diatur. Tentu saja karena tak mau kalau Cathleen sampai sakit parah dan membuatnya disalahkan.
__ADS_1
Sampai di rumah sakit, Gerald langsung turun, memutari bagian depan mobil dan berhenti di mana istrinya duduk. Dia mengulurkan tangan pada Cathleen yang hendak keluar.
Mata Cathleen sampai tak menyangka kalau suaminya mau melakukan hal seromantis itu. Tentu saja ia menyatukan telapak dengan Gerald.
Disepanjang langkah kaki masuk ke dalam rumah sakit, Gerald tetap merangkul Cathleen. Membawa wanita itu untuk duduk di ruang tunggu. “Mana kartu identitasmu, biar aku yang mendaftarkan.” Tangannya menengadah di hadapan istrinya.
Cathleen tidak memberi kartu identitasnya, tapi wanita itu menyodorkan tas. “Ada di dalam dompetku.”
Gerald menaikkan sebelah alis, yang dia minta hanya kartu identitas, tapi yang diberikan justru lebih banyak. Sejujurnya pria itu kesal karena tidak sesuai dengan apa yang diinginkan. Tapi, berhubung Cathleen sedang sakit, dia memilih untuk mengambil sendiri.
...*****...
__ADS_1
...Gege, jangan buat anak orang baper dong kalo ga cinta tuh! Kebiasaan ya cowok tuh, suka kasih perhatian sampe cewenya baper mampus, giliran cewenya nyatain perasaan eh lakinya menghilang dan ngejauh. GAK SOPAN!!!...