
Gerald dan Cathleen menatap ke arah yang sama. Bukan pintu keluar masuk yang biasa mereka lewati untuk ke dalam kamar. Tapi, dinding di ruangan tersebut. Ada Geraldine dan Daddy George sedang berdiri di sana, menggendong Faydor dan Galtero.
“Kalian, kenapa bisa ada di sana dan membawa anak-anakku?” tanya Gerald masih dengan wajah terkejut.
“Kami datang ke sini ingin melihat Faydor dan Galtero. Ternyata mereka ditinggal sendiri dalam box bayi, ya ku bawa saja,” jelas Daddy George. Dia biasa saja, tidak merasa bersalah sedikit pun sudah membuat semua orang panik karena mengira dua jagoan mungil itu diculik.
“Bagaimana kalian bisa masuk? Dan ruangan apa itu?” Gerald bahkan baru tahu kalau ada pintu lain di dinding.
“Kau lupa ini kamar siapa? Ini tempatku tidur selama di Cosa Nostra. Jelas saja aku bisa masuk, dan untuk ke dalam ruang rahasia itu juga aku yang bisa mengakses,” jawab Tuan Giorgio. Dia menatap aneh pada putra dan menantunya yang terlihat ada rasa khawatir berlebih.
Masih dalam posisi berdiri, Geraldine mengajukan pertanyaan karena jelas sekali wajah Cathleen penuh air mata. “Istrimu kenapa menangis?”
“Dia pikir Faydor dan Galtero diculik, kalian tahu sendiri keluargaku sedang mendapatkan ancaman dari Gretta.” Gerald yang menjelaskan karena Cathleen masih sesegukan dalam dekapannya.
__ADS_1
“Ini di Cosa Nostra, mana mungkin ada musuh yang bisa masuk sampai ke kamar ini.” Daddy George sampai menggelengkan kepala.
Mendadak Gerald teringat oleh Edbert yang sedang pergi dan berencana menghancurkan Gretta. Dia segera melepaskan tangan yang memeluk Cathleen.
“Karena Faydor dan Galtero aman, aku harus menyelesaikan sesuatu. Tolong titip jaga Cathleen dan anak-anakku,” pinta Gerald. Dia segera berdiri untuk memberikan informasi pada mantan rivalnya.
“Kau mau ke mana?” tanya Cathleen sebelum suaminya pergi.
“Menghubungi Edbert, kau di sini saja, jangan pernah pergi jauh dari Geraldine maupun Daddyku.” Gerald menyempatkan sebentar mengecup kening sang istri, lalu keluar dari kamar.
Roxy tidak terkejut sedikit pun saat mendengar informasi tersebut. Dia sudah melihat dari CCTV kalau yang terakhir masuk ke dalam kamar adalah salah satu atasannya dan wanitanya. Tapi, belum sempat memberikan kabar karena Gerald sudah mendatanginya terlebih dahulu.
“Aku akan menghubungi anggota yang lain supaya membawa Edbert kembali,” ucap Roxy.
__ADS_1
“Ya, aku juga akan menghubungi Edbert supaya tak melanjutkan rencananya.”
Roxy dan Gerald pun terlihat sama-sama sibuk dengan ponsel masing-masing.
Sementara itu, di dalam mobil Edbert, dia masih berkendara. Fokus pada jalan dan GPS yang akan mengantarkan menuju tempat persembunyian si psikopat Gretta. Tapi, harus terganggu karena layar di mobilnya mendadak berubah menjadi tertera nama Gerald.
Edbert pun mengangkat, dia tidak perlu memegang ponsel karena sudah terhubung dengan teknologi di kendaraannya. “Apa?”
“Kau tidak perlu datang ke tempat Gretta, Faydor dan Galtero sudah ditemukan dengan selamat. Kembalilah ke markas, segera!” Gerald menekankan kata yang terakhir agar Edbert tak nekat melanjutkan perjalanan.
Edbert bersyukur dalam hati kalau dua keponakannya sudah ditemukan. “Aku tidak akan kembali sebelum menghancurkan Gretta.” Dia langsung mengakhiri panggilan tersebut.
Dari kaca, Edbert bisa melihat kalau ada mobil anggota Cosa Nostra yang sejak tadi mengikutinya. Dia justru semakin menginjak pedal gas supaya semakin kencang melaju dan sulit untuk diikuti. “Aku tak ingin melibatkan kalian semua dalam rencana ini.”
__ADS_1
...*****...
...Gamau julid ah, biar pada tegang...