
Sepanjang perjalanan menuju mansion Dominique, mobil milik Gerald begitu sunyi. Tidak ada obrolan sedikit pun karena manusia yang tak suka banyak bicara itu menutup mulut Cathleen menggunakan lakban supaya tidak mengganggu konsentrasi. Tentu saja karena wanita yang berstatus sebagai istrinya itu mengajukan pertanyaan terus. Sedangkan dirinya sudah lelah menanggapi sejak tadi. Cathleen seperti orang yang tidak kehabisan ide untuk mengajak berbicara.
Tapi, pria itu selalu hanya menutup bagian bibir saja, tangan dibiarkan bebas berkeliaran, sehingga Cathleen bisa melepas. “Kalau kau tidak ingin menemaniku mengobrol, bolehkah aku menghidupkan musik?” izinnya.
“Hm.” Gerald mengangguk. Lebih baik mendengar lagu dari speaker mobil daripada ocehan Cathleen yang menurutnya tidak terlalu penting, karena lebih terkesan memaksakan topik pembicaraan supaya bisa berbincang dengannya.
Cathleen pun memainkan lagu yang tersedia di kendaraan milik suaminya itu. Dengan percaya diri, dia ikut bernyanyi walaupun suara pas-pasan. Dia hanya ingin mengusir keheningan di dalam mobil itu. Rasanya bosan jika perjalanan tidak ada suara sedikit pun.
“Boleh aku bicara jujur padamu?” tanya Gerald dengan suara dinginnya. Namun sorot mata pria itu tetap tertuju ke depan.
“Apa?” Cathleen balik bertanya dengan antusias. Tentu saja karena Gerald mengajaknya berbicara terlebih dahulu.
__ADS_1
“Jika mendengarkan lagu, cukup telingamu saja yang bekerja. Mulutmu lebih baik diam, karena suaramu tidak sesuai nada, artinya fals. Daripada kau merusak keindahan karya seni dari penyanyi asli, maka ku sarankan agar kau diam dan nikmati saja,” jelas Gerald tanpa melihat sedikit pun ke arah Cathleen.
Cathleen segera membungkam mulut dengan lakban yang tadi dia lepas. Wanita itu hanya menganggukkan kepala seirama dengan musik yang berdentum. Walaupun sejujurnya perjalanan yang dilalui sangat tak asyik, cenderung membosankan, tapi ia berusaha menuruti perkataan sang suami.
Dan anehnya, ketika suasana seperti itu pasti terasa lama, berbeda kalau perjalanan menyenangkan justru waktu lebih cepat walaupun jarak tempuh sama.
Cathleen tidak sakit hati dengan perkataan jujur dari Gerald. Sebab, dia sudah biasa menghadapi suaminya. Sekarang perlakuan Gerald justru sudah lebih baik daripada saat awal menikah. Pria itu kini bisa sedikit demi sedikit mau berbicara dan mengobrol dengannya walaupun hanya sebentar.
Akhirnya, tempat yang dituju pun mulai terlihat di depan mata. Ini adalah pertama kalinya Cathleen menginjakkan kaki di hunian milik pengusaha terkaya di Eropa.
Tetap dengan lakban yang menempel di bibir, Cathleen pun mulai mengayunkan kaki masuk ke dalam mansion. Kedatangannya langsung disambut oleh pelayan yang akan mengantarkan ke tempat berkumpul keluarga besar Dominique.
__ADS_1
Sampai di taman belakang, Cathleen berhenti terlebih dahulu melihat satu persatu orang yang ada di sana. Dia tak menyangka kalau akan ada orang tuanya dan Madhiaz juga.
Kehadiran Cathleen langsung dilihat oleh Alceena. Istri dari salah satu keturunan Tuan Dominique itu langsung menyambut dengan melambaikan tangan.
Cathleen tersenyum hingga mata menyipit. Dia mendekati Alceena yang sedang duduk lesehan di tikar.
Tentu saja Cathleen merasa sedikit canggung di sana. Ini adalah pertama kali dia berkumpul bersama tiga keluarga besar yang dipersatukan oleh Tuan dan Nyonya Dominique.
Lakban yang masih menempel pada bibir Cathleen itu membuat semua orang di sana menatap ke arah wanita tersebut. Tentu saja kecuali Gerald.
“Pasti Gerald yang melakban mulutmu. Iya, ‘kan?” Geraldine yang langsung merespon dengan suara galak. Apa lagi matanya tajam ke arah pria yang sudah mengambil posisi tiduran di atas rumput.
__ADS_1
...*****...
...Buset, si Gege tetap santuy walaupun ada ancaman kena amukan massal WKWKWK emang dasar bocah kelewat cuek ya begitu jadinya...