Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 151


__ADS_3

Gerald diberhentikan di depan pintu masuk bangunan utama. Ia turun dari buggy car, dan langsung beralih diantarkan oleh seorang pelayan untuk bertemu dengan Edbert.


Gerald mengikuti saja langkah kaki seseorang yang saat ini memandu dirinya menuju sebuah ruangan. Dia tak banyak bertanya, bahkan masih terbungkam dan tak ingin tahu kenapa diajak turun ke bawah tanah. Tidak ada sedikit pun gemetar ketakutan atau pikiran buruk kalau akan disekap, saat memasuki ke dalam lorong sudah melihat dari kaca tembus pandang jika Edbert sedang berada di dalam ruang gym.


Kaki Gerald berhenti saat tiga langkah memasuki ruang gym dengan banyak peralatan lengkap, karena pelayan yang mengantarnya juga mematung di tempat.


“Tuan, ini tamu Anda,” beri tahu pelayan itu.


“Hm, tinggalkan kami berdua!” titah Edbert. Dia belum berhenti mengangkat barbel seberat seratus lima puluh kilogram. Seakan pria itu sengaja ingin memarkerkan kepada rivalnya kalau sangat kuat.

__ADS_1


“Baik, saya permisi.”


Selepas kepergian pelayan dan pintu pun telah ditutup, Gerald kian mengikis jarak dengan Edbert yang masih belum melihat ke arahnya. Tapi, masa bodolah, dia hanya ingin memperingati pria itu agar tak macam-macam dengan istrinya.


Berdiri dengan tegak, gagah, penuh wibawa, dan tak lupa tampan tiada tara, Gerald mengambil kamera pengintai yang beberapa hari lalu dia hancurkan. Pria itu membanting ke atas lantai hingga menimbulkan suara. “Kau memata-matai istriku?” tanyanya dengan suara tegas.


Barulah Edbert meletakkan barbel saat ada perbincangan. Ia kemudian duduk, melihat ke arah benda yang teronggok di lantai. Pria itu beralih menatap Gerald dengan sorot yang sama-sama datar, menunjukkan keangkuhan. “Istrimu? Dahulu dia adalah kekasihku, sebelum kau merebutnya! Dan seharusnya kau kembalikan sesuatu yang bukan milikmu!”


Tapi, respon Edbert sungguh tak berubah sedikit pun, justru ia memasang wajah yang sinis. “Tak peduli apa statusnya saat ini, tapi Cathleen tetap akan menjadi milikku, mungkin sekarang dia sedang tersesat menuju jalan pulang ke hatiku.” Apa pun masalahnya, percaya diri tetaplah nomor satu.

__ADS_1


Terlalu banyak pembicaraan tak penting, Gerald malas. Tentu saja pria itu tak suka banyak basa-basi. “Langsung saja pada intinya! Berikan rekaman kamera pengintai yang kau pasang di ruang istirahat dan kantor istriku!” pintanya dengan nada tegas yang menunjukkan keharuan untuk dipenuhi.


Edbert menarik sebelah sudut bibir, berdiri dengan postur dada dibusungkan seperti menantang pertikaian. “Tak sudi! Memangnya kau siapa sampai aku harus mematuhi ucapanmu? Ha!”


Gerald mengepalkan tangan. Dia berusaha keras untuk tak tersulut emosi, walaupun rasanya sangat ingin memukul wajah Edbert saat ini juga. Tapi, tak ingin menyakiti orang lain sebelum dirinya sendiri yang diserang. “Kau tuli? Sudah jelas ku katakan kalau aku adalah suami Cathleen!” Dia mengucapkan dua kata terakhir dengan penekanan penuh.


“Mau kau suaminya, pelayannya, kakaknya, orang tuanya, aku tidak peduli! Kamera itu ku pasang sejak menjadi kekasih Cathleen, jadi tak ada hakmu mengaturku!” Edbert berbicara tepat dengan posisi keduanya saling berhadapan berjarak tipis. Dia sengaja terus menantang, menunggu Gerald melayangkan sebuah pukulan dan tentunya akan dia balas bertubi-tubi hingga lebih menyakitkan.


...*****...

__ADS_1


...Si Gege mah pinternya by one game online doang, wuuuu cemen kali kau...


__ADS_2