
Mengendarai secepat kilat, Gerald sampai juga di mansion orang tuanya. Segera masuk ke dalam, tapi suasana sangat sepi. Dia pun bertanya pada pelayan.
“Di mana semua orang?”
“Nona Geraldine ada di kamar dan baru saja pulang dari luar negeri, Tuan dan Nyonya pergi ke mansion Dominique.”
Gerald langsung meninggalkan hunian itu. Rasanya sudah tak tahan ingin mengeluarkan semua amarah dalam dirinya. Dia sedang mencoba berdamai dengan hati yang kecewa oleh Cathleen, tapi luka yang sedang ditutup perlahan justru semakin terbuka lebar. Hingga membuatnya terasa sesak. Selama hidup, dia selalu mencoba tak berbohong pada siapa pun, karena dirinya tak suka jika diperlakukan seperti itu.
Wajah Gerald begitu suram, otot-otot di tubuhnya terlihat mengencang semua. Dia segera masuk ke dalam bangunan utama mansion Dominique. Tak perlu bertanya pada siapa pun, langsung tahu di mana keberadaan semua orang karena ia mendengar suara dari arah ruang keluarga.
Dada Gerald nampak naik turun, napasnya tak teratur akibat menahan amarah yang mulai memuncak. Apa lagi melihat wajah semua orang yang sudah membohonginya sedang tertawa seakan tak memiliki beban hidup atau kesalahan, membuat hatinya terasa sakit.
Ada kedua orang tuanya, paman dan bibinya, semua sepupu beserta pasangan dan anak-anak mereka. Ternyata istrinya pun sedang di sana, tengah bermain dengan keponakan yaitu anak Alceena.
__ADS_1
“Oh, para pembohong sedang berkumpul di sini ternyata.”
Ucapan Gerald membuat semua orang yang sedang asyik tertawa serta bermain dengan cucu-cucu Dominique pun melihat ke arah pria yang nampak bersungut-sungut.
“Kau itu kenapa? Baru datang sudah marah-marah.” Tuan Dominique membalas keponakannya dengan santai.
“Katakan padaku dengan jujur! Kalian merekayasa bukti kematian Chloe?”
“Kau itu bicara apa? Menuduh kami membohongimu?” ucap Daddy George dengan kepalanya bergeleng. Anaknya semakin hari justru bertambah tak sopan saja.
Cathleen menggelengkan kepala, matanya langsung berkaca-kaca saat telunjuk suaminya menuding ke arahnya. “Aku tak tahu apa pun tentang rencana keluargamu.”
Gerald menghela napas, menarik rambutnya begitu kencang. “Argh ... tega sekali kalian semua melakukan itu padaku. Memalsukan kematian Chloe? Sedangkan orangnya masih bernapas!” Kepalanya bergeleng karena tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi keluarganya.
__ADS_1
“Bawa anak-anak ke kamar mereka!” Danesh meminta babysitter supaya membawa seluruh cucu Dominique agar tak mendengar pertengkaran orang dewasa karena belum saatnya.
“Dari mana kau tahu jika Chloe masih hidup? Kita semua sudah berusaha membantumu mencari dia, nyatanya kau melihat sendiri kalau tidak menemukannya dalam kondisi hidup.” Delavar ikut berbicara karena dia juga termasuk ke dalam penyusun rencana.
“Aku baru saja bertemu dengan Chloe, dia sedang lumpuh di rumah sakit. Apa kalian tak merasa bersalah sudah merekayasa kematiannya?” ungkap Gerald dengan wajah yang bersungut-sungut.
Deg!
Cathleen langsung mematung dan seakan jantungnya berhenti berdetak saat mendengar kenyataan tersebut. Bernapas pun rasanya sulit. Sedangkan keluarga Dominique dan Giorgio saling pandang satu sama lain.
“Pikir pakai otakmu yang isinya game ini, kenapa keluargamu sendiri sampai membohongimu.” Geraldine baru saja sampai ke mansion pamannya. Setelah mendapatkan laporan dari pelayan kalau kembarannya datang dengan wajah yang terlihat marah, dia langsung menyusul walaupun masih lelah. Dia sampai menoyor kepala Gerald karena kesal dengan pria itu.
...*****...
__ADS_1
...Gabisa mikir dia tuh, otaknya lagi digadein wkwkwk...
...Mau insap julid masa gadibolehin, ada aja yang kangen kalo aku ga ngomel di akhir bab. Parah banget yak, padahal aku dah mau insap loh serius, biar anggun gitu, dan gak dibilang kasar lagi. Ih cedihh...