
Mendengar ada suara orang yang sangat dikenal sedang bertanya dengannya, membuat Cathleen mengurungkan niat sejenak untuk membuka pintu mobil. Dia berbalik badan hingga bisa bertatapan dengan mantan suaminya. “Iya, mau ke lokasi proyek.”
Gerald tetap memasang mimik wajah yang cool, bahkan terkesan kaku padahal sedang mencoba mendekati Cathleen. “Tidak diantar supir?”
“Tidak, baru saja mengundurkan diri dan langsung pergi tanpa menungguku mendapatkan pengganti.”
“Lokasi proyekmu jauh atau dekat?”
“Jauh.”
“Oh ... mau ku bantu antarkan?”
“Tidak, terima kasih, aku bisa menyetir sendiri.” Cathleen langsung menolak saat itu juga. Dia tidak mau merepotkan mantan suaminya karena tahu sendiri kalau Gerald juga memiliki kesibukan lain. “By the way, apa kau ada perlu sesuatu denganku? Tumben sekali datang ke perusahaan.”
Gerald mengulas senyum yang membuat wajahnya semakin tampan. “Sejujurnya, aku yang meminta supirmu untuk mengundurkan diri,” ungkapnya tanpa rasa berdosa. Memang pria satu ini tidak bisa berbohong walaupun hanya satu kali. Baru juga beberapa menit, sudah dia kuak sendiri rencananya.
Cathleen melongo mendengar penuturan itu. “Kenapa? Aku salah apa denganmu sampai kau menghasut supirku agar tak bekerja lagi di sini?”
__ADS_1
“Karena aku ingin lebih dekat denganmu, Cath. Bahkan ke sini saja sengaja tak membawa mobil supaya bisa menggantikan supirmu.”
Kekehan pelan lolos juga dari bibir seorang Cathleen. Mantan suaminya lucu sekali. “Astaga ... kau itu ada-ada saja, Ge.”
“Jadi, apakah kau mau ku antar?” Gerald menanyakan kesediaan Cathleen sekali lagi. Berhubung wanita itu belum memberikan keputusan. Mengingat terakhir kali mantan istrinya tidak suka dengan bau parfum tubuhnya, kini ia tak menyemprotkan apa pun supaya tidak diminta duduk berjauhan.
“Em ... bagaimana, ya?” Cathleen menaikkan kedua bola mata ke atas seolah sedang berpikir.
“Aku tak memakai parfum, jadi kau tak perlu khawatir akan pusing mencium bau badanku.”
“Oh, ya? Coba mendekat,” pinta Cathleen dengan tangannya yang melambai supaya Gerald mengikis jarak.
Gerald berhenti tepat sekali di depan Cathleen, tangannya tanpa izin langsung memeluk wanita itu. Ini yang dia rindukan, dadanya seketika itu berdebar kuat. Hatinya berdesir merasakan kenyamanan setelah sekian lama kesepian.
Cathleen tidak menolak seperti sebelumnya. Tapi dia juga tak membalas, membiarkan mantan suaminya memeluk sesuka hati. Tidak ada rasa mual, ternyata lebih menyukai Gerald yang tak wangi.
“Ge, mau sampai kapan kau memelukku? Aku harus bekerja, jika seperti ini terus, tak bisa pergi kemana-mana,” tegur Cathleen setelah lima menit Gerald tidak melepaskan rengkuhan.
__ADS_1
“Maaf, sepertinya kau memiliki magnet yang bisa membuatku ingin menempel denganmu.” Barulah Gerald melepaskan pelukan tersebut dan mundur satu langkah. “Bagaimana, apa kau masih tak menyukai bau badanku?”
Kepala Cathleen bergeleng lembut. “Tidak, aku suka wangimu yang sekarang.”
Gerald sampai terheran dengan mantan istrinya, semprot parfum saja tidak, tapi dikata wangi. Tak masalah, yang penting tidak diminta menjauh. “Jadi, apa kau mau ku bantu antar?”
“Merepotkanmu atau tidak?”
“Tidak, bukankah katamu aku pengangguran.”
“Itu sebelum aku tahu pekerjaanmu.”
“Sama saja.”
“Baiklah, tolong antarkan aku untuk hari ini, besok akan ku cari supir baru.” Cathleen menyodorkan kunci pada mantan suaminya dengan diiringi senyum.
“Kau tidak perlu mencari supir, aku siap mengantarmu kemanapun.” Gerald merangkul Cathleen untuk dituntun menuju bagian mobil yang satunya. Ia membukakan pintu untuk wanita itu masuk.
__ADS_1
...*****...
...Geli aku Ge liat kelakuanmu...