
“Maafkan aku, Ceena. Aku bercerita denganmu karena tak ingin menambah beban pikiranmu. Kau harus mengurus anak-anak dan suamimu, jadi aku tak mau membuatmu pusing dengan urusan cintaku. Toh aku pasti bisa mengatasi semua ini sendiri.” Cathleen menjelaskan alasan lebih detail kenapa dia tidak ingin Alceena sampai tahu permasalahan yang sedang dihadapi.
Helaan napas lembut keluar dari bibir seksi seorang Alceena, wanita yang beruntung bisa memiliki suami yang sangat mencintainya dan rela melakukan apa pun untuk wanita itu. Alceena memeluk Cathleen begitu erat. “Cath, manusia memiliki batas kemampuan untuk menyimpan segala permasalahan sendiri. Membagi keluh kesah pada orang lain yang mengerti permasalahanmu pasti bisa membuat sedikit beban yang kau pikul menjadi sedikit lebih ringan, apa lagi kalau bisa dibantu juga.”
Cathleen kian memuramkan wajah, ia pikir jalan yang ditempuh salah karena tidak mendiskusikan pada keluarganya terlebih dahulu. “Apakah aku salah menikah dengan Gerald untuk tujuan menghindari Edbert?”
Alceene mengusap lengan Cathleen yang lemas, ia memberikan tepukan semangat. “Bukan salah, Cath. Tapi kau tidak memikirkan secara matang bagaimana kehidupan ke depanmu setelah menjalin rumah tangga bersama Gerald. Aku tahu dia masih mencintai orang lain, sifatnya pun aku paham karena sering bertemu dan berkumpul dengan keluarganya. Bahkan aku tak tahu bagaimana bisa kau membuat Gerald sampai mau menikahimu.” Alceena berusaha berbicara selembut mungkin, supaya kembarannya yang memiliki hati mudah menangis itu bisa menerima dan memahami setiap ucapannya.
__ADS_1
“Aku menjebaknya,” beri tahu Cathleen dengan suara lirih.
“What?” Alceena memekik. Ia memegang kedua lengan Cathleen dan diarahkan padanya. “Coba ceritakan padaku,” desaknya.
Dengan wajah muram dan mata berkaca-kaca, Cathleen menceritakan bagaimana trik kotor yang dia lakukan demi bisa keluar dari jerat seorang Edbert. Ia juga menjelaskan kenapa memilih Gerald, bukan pria lain.
Setelah mendengarkan semua penuturan Cathleen, tangan Alceena rasanya lemas dan tak bertenaga. Ia memudarkan genggaman diiringi kepala menggeleng. “Itu tidak benar, Cath. Bagaimana kalau Gerald tahu jika kau belum pernah dinodai? Justru permasalahanmu bisa lebih kacau lagi. Gerald adalah pria dengan hati dingin, sekali dia tak suka, maka selamanya akan membenci. Tapi kalau sudah menyukai seseorang, dia akan terus setia sampai mati.”
__ADS_1
Alceena sampai menatap sedih pada kembarannya itu. “Cath, seharusnya sejak awal kau ceritakan saja padaku tentang Edbert, pasti suamiku mau membantu menyelesaikan.”
Kepala Cathleen menunduk diiringi tetesan air mata yang terjatuh di dressnya. “Maaf, Ceena.”
Mau bagaimanapun Alceena tidak sepakat pada cara Cathleen menyelesaikan masalah dengan menikah bersama pria yang tidak mencintai kembarannya itu, tapi semua sudah terjadi. Ia hanya bisa mendukung dan mengurangi kemungkinan terburuk yang mungkin saja terjadi di kemudian hari. “Aku akan mencoba berbicara dengan Gerald supaya dia memperhatikanmu. Hidup bersama pria yang acuh itu tak enak, Cath. Kau memang bebas, tapi tidak ada perhatian. Lebih baik dicintai, tapi semakin bagus kalau pasangan kita juga orang yang kita cintai.”
Cathleen menggenggam tangan Alceena supaya kembarannya tidak perlu repot. “Aku sudah membuat perjanjian dengan Gerald, dia mau menghargaiku sebagai istrinya dan akan menjagaku. Jadi, kau tak perlu khawatir. Perlahan, aku pasti bisa membuatnya lebih hangat lagi. Dan akan ku hindari berhubungan badan dengan Gerald agar tidak ketahuan kalau aku masih virgin, kalau suamiku mungkin menginginkan haknya suatu saat nanti.”
__ADS_1
...*****...
...Dih PEDE banget lu Cath, alergi si Gege nyentuh kamu tuh, bisa gatel-gatel dia. Mana mau Gerald skidipapap sama kamu wkwkwk. Tapi ya kalo lagi gak sadar sih bisa aja ehem ehem, cuma ya gitu, waspada aja jangan sampe ketauan, inget ucapan Alceena tuh, Gerald bisa selamanya dibenci ketika dia tak suka sama orang...