
Gerald tidak melakukan pendekatan atau menumbuhkan perasaan dengan melakukan hubungan penyatuan tubuh layaknya suami istri pada umumnya. Dia tidak bisa melakukan hal tersebut pada orang yang tidak dicintai. Sehingga, pria itu ingin mengenal secara perlahan dengan melakukan kegiatan sehari-sehari saja. Mungkin kalau sudah terbiasa, Gerald bisa tumbuh benih cinta di hati.
Pendekatan suami istri tidak selalu dengan berhubungan penyatuan tubuh ketika polos tak memakai busana dan mendaki ke atas nirwana bersama. Apa lagi Gerald dan Cathleen tidak mengawali bahtera rumah tangga dilandasi cinta.
Bagi Gerald, penting sekali sebuah rasa saat bercinta, bukan bercinta untuk menumbuhkan rasa. Sebab, jika berhubungan intim sebelum memiliki cinta, artinya hanya sebuah napsu belaka yang akan tumbuh dalam rumah tangganya. Dan dia tidak ingin itu.
Pendekatan diri secara sederhana yang Gerald lakukan, contohnya seperti saat ini. Dia membantu menata dan memasukkan barang belanja ke dalam kulkas serta almari penyimpanan.
Tidak lupa Gerald selalu memberikan sentuhan kecil entah mengelus tangan Cathleen, pipi, mengacak-acak rambut. Bahkan berdiri sedekat mungkin. Hal tersebut sengaja dilakukan supaya memancing getaran dalam jiwa yang belum nampak jelas muncul di dada.
Cathleen bahkan sampai menahan napas karena posisi sang suami yang berdiri di belakang persis saat memasukkan mie instan ke almari yang ada di atasnya.
“Ge, bisa kau memberi jarak sedikit saja? Jantungku sangat tak bersahabat saat posisi kita terlalu dekat,” pinta Cathleen. Dia mencoba untuk menggeserkan tubuh supaya tidak berada tepat di depan Gerald.
“Maaf, aku memang sengaja.” Kalau Cathleen terlihat grogi, lain hal dengan Gerald yang tetap santai meskipun sudah membuat pipi sang istri memerah.
__ADS_1
Cathleen meringis canggung. Kenapa justru menjadi aneh saat situasi yang dihadapi seperti saat ini. “Aku siapkan makan malam untuk kita,” cetusnya mencoba mengalihkan diri agar tidak berfokus pada sesuatu yang tadi sempat berhimpitam persis di area pantat.
“Silahkan.” Gerald memberikan jalan supaya Cathleen bisa berjalan ke meja makan.
Gerald hanya berdiri dengan bersandar di meja, menyaksikan bagaimana Cathleen yang nampak jelas tengah mengalihkan sesuatu dari pikiran. Tapi dia tidak mau banyak berpikir, jam operasional otaknya sebentar lagi harus digunakan untuk mencari uang. Lebih baik menunggu saja dengan duduk.
“Seperti biasa, aku tidak menghangatkan terlebih dahulu,” tutur Cathleen seraya menyodorkan piring berisi makanan.
“Iya, aku lebih suka seperti ini.” Setelah berucap, Gerald langsung memasukkan hidangan tersebut ke dalam mulut.
“Silahkan, atau kalau kau mau belajar denganku juga bisa,” balas Gerald disela kunyahannya.
“Memangnya kau bisa?” Cathleen sampai menghentikan tangan yang hendak memasukkan makanan ke dalam mulut karena seolah tak percaya dengan kemampuan suaminya.
“Jangan meremehkanku, kapan-kapan aku buktikan.”
__ADS_1
“Oke, aku ingin tahu bagaimana rasanya dimasakkan oleh suami.”
“Oke.”
Tidak ada pembicaraan lagi antara mereka, Gerald sudah sepakat akan menyempatkan memasak untuk sang istri. Tapi belum tahu kapan waktunya.
Kedua piring itu pun tandas juga. Gerald segera menumpuk alat makan kotor itu dan menyodorkan pada Cathleen. “Kau saja yang cuci.”
Namanya juga Cathleen, tentu saja dia menurut. Membawa piring kotor tersebut ke wastafel.
“Chloe tak pernah mau jika ku suruh cuci piring, kenapa dia mau dan tidak terlihat keberatan?” gumam Gerald seraya mengayunkan kaki kian mengikis jarak dengan Cathleen.
...*****...
...Ya beda maseee! Closet ya closet, tempat buat berak. Kucing ya kucing yang suka cari-cari perhatian. Dari nama dan kegunaannya aja udah lain spek loh! Hadehhhh...
__ADS_1