Trap Mr. Coldhearted

Trap Mr. Coldhearted
Part 263


__ADS_3

“Untuk apa?” Gerald tak langsung memberikan izin. Dia harus tahu alasan jelas terlebih dahulu.


“Penting, nanti kau bisa tanyakan pada Cathleen sendiri kalau penasaran,” jelas Edbert.


Bukan Gerald yang akan memberikan keputusan ya atau tidak. Tapi, pria itu justru mengajukan pertanyaan pada sang istri. “Sayang, Edbert ingin berbicara sesuatu denganmu. Apa kau mau?”


Cathleen menganggukkan kepala. Entah kenapa dia tidak bisa menolak.


Barulah Gerald melepas rengkuhannya dan menatap ke mantan rival. “Dia mau. Jadi, silahkan berbicara empat mata.”


Edbert hanya mengangguk tanpa suara. Sedangkan satu persatu anggota Cosa Nostra mulai meninggalkan ruangan.


“Sayang, aku tinggal di sini berdua dengan Edbert, ya? Kalau dia macam-macam, teriak saja, aku ada di luar.” Gerald pun berpamitan. Dia juga tak tahu kenapa ingin saja memberikan ruang pada mantan kekasih istrinya untuk berbicara empat mata. Seakan bibir tidak bisa menolak permintaan pria yang sampai detik ini tak bisa diingat nama panjangnya.

__ADS_1


Gerald mengayunkan kaki mengikuti anggota yang lain. Menutup pintu tak terlalu rapat supaya bisa tetap mendengar apa yang akan dibicarakan oleh Edbert pada Cathleen.


Kini, di ruangan itu hanya tersisa dua orang saja. Edbert berpindah duduk menjadi di kursi yang tadi ditempati oleh Gerald. Ia meraih tangan mantan kekasihnya untuk digenggam.


“Cath, luruskan pandanganmu, bisa kau tatap aku sebentar saja?” pinta Edbert dengan suara lembut.


Cathleen yang sejak tadi menunduk pun perlahan menaikkan kepala sampai bisa melihat sosok Edbert yang kini sudah berubah menjadi lebih baik.


Sedih rasanya melihat wanita yang dicintai sedang menangis. Edbert mengusap pipi basah di hadapannya supaya mengering. “Aku pasti akan menemukan Faydor dan Galtero dengan selamat, percayalah.”


Mata Edbert juga mulai berkaca-kaca seolah kesedihan Cathleen menular padanya. “Cath, aku tahu kau hanya menganggapku sebagai kakak. Tidak masalah, mungkin memang kesalahanku di masa lalu sangatlah fatal. Tapi, jujur dari lubuk hatiku, rasa cintaku padamu tak akan pernah berubah, walaupun aku tahu kalau kau tidak bisa ku miliki lagi.” Begitu sakit saat mengutarakan perasaannya, sampai ada air yang meluncur bebas dari kedua mata.


“Maaf.” Bibir Cathleen sampai bergetar ketika mengatakan itu. Dia tidak bisa mencintai dua pria sekaligus. Tapi, rasa sayang pasti ada, baik untuk Edbert maupun Gerald.

__ADS_1


Tangan Cathleen balas terulur, menyentuh wajah Edbert. Kini, ia yang membersihkan pipi mantan kekasihnya dari air mata.


Edbert mengulas senyum, terlihat sangat tulus. “Aku sangat ingin melindungimu, memastikan hidupmu akan nyaman dan tenang tanpa ancaman apa pun. Kau percaya ‘kan aku bisa melakukan itu?”


Cathleen mengangguk sebagai jawaban. Bukan dia tak bisa bersuara, tapi tenggorokan rasanya tercekat sekali. Bahkan air bukan lagi keluar dari mata, hidung pun sudah mulai meluncurkan sesuatu yang sangat cair.


Edbert sedang menikmati suasana yang sudah lama tak ia rasakan. Menggenggam tangan Cathleen dan mengusap permukaan kulit wanita itu.


“Cath, jika setelah ini kau hanya bisa mengenang namaku, tolong, ingatlah kebaikanku, jangan keburukanku.” Edbert tidak bisa menahan diri, mungkin kalimat itu terdengar seperti sebuah perpisahan. Walaupun tak tahu akan selamat atau tidak saat melakukan misi, tapi dia takut tak bisa mengucapkan kalimat terakhir pada wanita yang sangat ia cintai.


“I love you, Cath, forever.” Tanpa persetujuan Cathleen, Edbert langsung memeluk wanita itu, sangat erat.


...*****...

__ADS_1


...Uncle Ed, bisa sabar dulu gak? Malaikat mautnya belom siap ini, masih ke salon dulu. Siapa tau nanti kita ada getar-getar rasa pas ketemu di alam baka...


__ADS_2