
Gerald mendelik ketika kepalanya di toyor oleh kembarannya. Seakan mereka sedang melakukan perang antar saudara.
“Apa? Mau ku colok matamu menatapku seperti itu?” Geraldine mengarahkan dua jari ke wajah Gerald. Dia kesal dengan tingkah kembarannya yang mulai kambuh lagi seperti dahulu.
“Kau sama saja dengan mereka semua, suka membohongiku!” geram Gerald. Semua kena sembur oleh pria itu, tidak ada yang benar di matanya.
Geraldine membusungkan dada, memasang wajahnya yang sangat angkuh turunan dari Mommynya. “Memangnya kenapa kalau kita berbohong? Semua demi kebaikanmu juga. Kau pikir kami tak lelah menghadapi sifatmu yang seperti ini hanya karena Chloe?”
Saking kesalnya, Geraldine sampai menjambak rambut kembarannya hingga pria itu mendongak. Kedua matanya mendelik. “Kau hanya bisa marah-marah dengan keluargamu karena membohongi tentang kematian kekasihmu yang hilang, padahal maksud kita semua baik. Ingin menyembuhkan kegilaanmu itu, dasar pasien rumah sakit jiwa!”
Geraldine melepaskan rambut Gerald dengan mendorong ke depan kepala pria itu. Semua hanya melihat pertengkaran saudara kembar yang begitu asyik. Kalau sudah seperti ini, keluarga Dominique dan Giorgio memilih untuk menonton saja karena keduanya akan sulit dipisahkan saat saling emosi seperti itu.
“Sudah tak butuh keluargamu lagi, ha? Mau hidup sendiri? Silahkan! Tapi jangan harap kami datang ke pemakamanmu ketika kau mati. Ingat itu!” Geraldine berbicara dengan telunjuk ditempelkan pada pelipis kembarannya. “Sia-sia orang tua kita membesarkanmu dari bayi sampai sebesar ini, mengeluarkan biaya mahal untuk pendidikan dan kehidupan mewahmu! Pada akhirnya kau berani pada mereka hanya karena seorang wanita!”
__ADS_1
Gerald sejak tadi hanya diam. Jika yang dihadapi seorang pria, sudah dibalas dengan kekerasan juga. Tapi ini wanita, mana bisa tangannya memukul kaum pemilik lembah berhutan. “Dari sini aku bisa melihat jelas kalau kalian semua tidak menyukai Chloe, sampai tega merekayasa kematiannya, kenapa?!”
“Kenapa? Karena kami merasa dia membawa pengaruh dan perubahan buruk padamu. Buktinya, kau jadi berani dengan keluargamu sendiri hanya karena seorang wanita bernama Chloe. Memangnya kau pikir hatiku sebagai Mommymu tak sakit melihat putraku kehilangan semangat hidup?” Nyonya Giorgio menjawab pertanyaan anaknya. Berharap Gerald bisa mulai berpikir jernih dan tidak kalut terus.
“Aku tak akan menjadi seperti ini kalau sejak awal kalian membantuku mencari dia dan tidak menghentikan pencarian sampai ketemu,” sanggah Gerald.
Di sana, Cathleen hanya bisa menunduk sembari menitikan air mata. Hatinya terasa sakit mendengar Gerald terus mengatakan nama Chloe dan marah-marah pada semua orang juga karena wanita itu.
Gerald mematung ketika pandangannya berhenti pada sosok yang saat ini membuatnya bingung antara cinta, sayang, dan kecewa yang sedang bercampur aduk. “Dia juga salah sudah memfitnahku, menjebakku dengan merekayasa seakan-akan aku sudah mengambil kesuciannya.”
Semua orang menaikkan sebelah alis, wajah mereka seakan tak menunjukkan keterkejutan. Tentu saja membuat Gerald semakin menggelengkan kepala. “Jadi, kalian sudah tahu tentang itu?”
Pertanyaan Gerald dijawab anggukan kepala kompak. “Memang.”
__ADS_1
“Shitt! Dan kalian diam saja? Tak memberi tahu aku?”
“Kau saja yang bodoh, memikirkan untuk mencari Chloe terus dan tak mencari tahu tentang kejadian itu,” ejek Delavar dengan wajahnya yang nampak meremehkan.
Gerald tepuk tangan, memberikan selamat pada dirinya yang bisa dikelabuhi oleh semua orang di sekelilingnya. “Entah ku sebut apa keluarga ini? Semua penuh dengan kelicikan dan kebohongan.”
Mulai tak terkontrol ucapan sepupunya, Dariush pun tidak bisa terus diam. “Ck! Geraldine, kau pukul sajalah kepala dia. Kalau perlu, benturkan ke tembok, lama-lama aku ikut emosi dengan ketololannya itu.”
“Oh, ide bagus, dia tidak bisa membalas wanita, mungkin akan ku buat babak belur sampai kegilaannya hilang!” Geraldine menarik kaos kembarannya, berdiri saling berhadapan, sudah mengepal dan menaikkan tangan. Tapi, terasa berat ketika hendak meninju wajah datar kembarannya. Bukan karena dia tak tega melukai Gerald, tapi ada seseorang yang mencegah.
...*****...
...Saya suka pertikaian ini, lanjutkan! Kalo perlu sampai masuk rumah sakit *othor jahara bin tega semua kena bully*...
__ADS_1