
“Ada di ruangannya, Nona,” beri tahu Liliana.
“Oh, oke.”
Setelah memastikan keberadaan Cathleen, Alceena pun berjalan secepat mungkin menuju ruang CEO. Entah untuk apa juga buru-buru, padahal ini masih jam kerja dan pastinya orang yang sedang dicari itu tak akan pergi kemanapun.
Alceena langsung membuka pintu ruang kerja Cathleen, tanpa mengetuk atau permisi terlebih dahulu. Sampai membuat seorang wanita yang kini tengah duduk dan memandangi komputer itu terkejut dengan kedatangan Alceena.
“Ceena? Kenapa kau datang ke sini tak memberi tahu?” tanya Cathleen seraya melepas kaca mata anti radiasi.
Alceena segera mengambil posisi duduk di sofa, menatap tajam tapi bukan memperlihatkan keangkuhan, justru dia nampak khawatir. “Kenapa kau menikah secara tiba-tiba dan tak memberi tahu padaku?”
__ADS_1
Cathleen menyengir dengan menunjukkan rentetan gigi. “Maaf, tidak sempat, semua terjadi secara dadakan,” balasnya. Ia ikut berpindah ke sofa supaya mengobrol bisa lebih santai.
Pandangan Alceena seperti belum puas setelah mendengar jawaban Cathleen. “Kau ada masalah dengan Edbert? Kenapa tiba-tiba menikah dengan Gerald?” Ia mulai mencecar kembarannya dengan memborbardir pertanyaan yang tiada henti.
Cathleen mengangguk. “Aku tak nyaman dengan Edbert.”
Alis Alceena naik sebelah karena belum paham dengan perasaan kembarannya. “Kenapa? Bukankah Edbert mencintaimu? Atau dia selingkuh? Menyakitimu? Kau diapakan oleh Edbert?”
“Tentu saja aku percaya, kita ini dari kecil sampai besar selalu bersama, untuk apa aku meragukan ucapanmu?” Alceena bersuara seperti orang yang sudah tak sabar ingin mendengar penjelasan dari Cathleen.
“Siapa tahu kau seperti Papa yang tak percaya saat aku cerita dengannya, karena dia lebih meyakini apa yang sudah dilihat bukan didengar,” jelas Cathleen, wajah manis itu nampak muram. Dari situlah ia lebih baik memendam semua masalah yang terjadi dengan Edbert, daripada informasinya diragukan dan tak dipercaya. Dan membuatnya memilih menyelesaikan semua dengan cara sendiri.
__ADS_1
“Tidak semua anggota keluargamu seperti Papa, dia memang lebih suka melihat pembuktian secara langsung. Dariush saja menjadi korbannya karena tak percaya jika sekedar sebuah omongan belaka. Tapi aku pasti mempercayaimu. Maka, ceritakan saja padaku tentang apa yang terjadi padamu,” desak Alceena. Sudah lama dia membiarkan dan tidak memaksa Cathleen untuk mengeluarkan keluh kesah padanya. Tapi kali ini tidak bisa, karena yang dinikahi oleh saudari kembarnya adalah pria yang tidak mencintai Cathleen sedikit pun. Bahkan ia tahu kalau Gerald sangat menanti seorang wanita yang masih belum ditemukan sampai detik ini.
“Edbert memang mencintaiku, tapi ku rasa cintanya berubah seperti obsesi. Dia terlalu berlebihan, tidak membiarkanku hidup bebas, mengekang, dia juga kasar, pemarah, terkadang membentak. Aku tidak bisa hidup terus bersama pria seperti itu. Tapi, berkali-kali aku mencoba pergi, pasti berhasil dijerat lagi oleh Edbert. Jadi, tak ada pilihan lain untuk mengindarinya, aku harus menikah supaya Edbert bisa melepaskanku,” jelas Cathleen diiringi air mata yang mendadak menerjang keluar dari batas pertahanan.
Alceena segera berpindah duduk di samping Cathleen. Menyandarkan kepala wanita rapuh itu di bahunya. “Kenapa kau baru cerita denganku sekarang? Apakah setidak percaya itu dengan kembaranmu sendiri?”
Semakin diberikan perhatian oleh Alceena, Cathleen justru tambah menangis hingga sesegukan. Merasa bersalah karena tak membagi keluh kesah pada saudarinya, dan menganggap bisa kuat melewati masalah sendiri.
...*****...
...Gausah sok kuat Cath, kamu bukan pondasi...
__ADS_1